
Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba kini mereka semua bersiap untuk pergi ke Tunisia dengan para baby sitter mereka.
Selama kurang lebih tujuh belas jam melakukan penerbangan ke Tunisia kini tibalah mereka di negeri dengan julukan Magrib Al-Arabi
Sebenarnya tidak hanya Tunisia yang mendapat julukan negeri Magrib Al-Arabi tapi ada juga Algeria/Al-jazair dan juga maroko.
Perbedaan negara ini dengan negara Arab lainnya adalah terletak pada musimnya, biasanya negara Arab adalah negara panas dengan banyak Padang pasir sedangkan negara Magrib Al-Arabi memiliki empat musim, mereka juga seperti Indonesia yang tidak mengharuskan wanita untuk memakai hijab layaknya wanita muslim bangsa Arab lainnya.
Setalah sampai di negara ini mereka menuju hotel yang sudah mereka booking sebelumnya.
"Apa sih keindahan dari negar ini," gerutu Shane
"Sudahlah sayang, jangan menggerutu kita nikmati saja liburan kita," hibur Amira dengan memeluk suaminya.
Emosi Shane turun setelah mendapatkan sentuhan dari istrinya.
Kini sentuhan itu lama-lama menjadi pautan yang tidak bisa terhindarkan.
"Main yuk?" ajak Shane dengan terkekeh
"Astaga sayang kita baru saja sampai, punggungku saja masih pegang apa kamu nggak lelah?" tanya Amira kesal dengan suaminya.
"Nggak, setelah manjat malah hilang lelah punggungnya," jawab Shane enteng.
Amira hanya bisa menggelengkan kepalanya, heran dengan suaminya.
"Ingat mas, kamu itu dah punya anak masak iya kelakuan masih sama," ucap Amira
"Apa hubungannya dengan punya anak sih sayang, lagian manjat kamu kan suatu kewajiban dan kewajiban kamu juga untuk melayani suami," sahut Shane.
Amira hanya pasrah lalu merebahkan dirinya di tempat tidur, dia sudah siap jika Shane akan memanjatnya.
Dua jam berlalu, acara panjat memanjatnya sudah selesai, dan kini mereka berdelapan janjian untuk ke restoran untuk makan malam.
Saat mereka keluar dari kamar mereka, nampak rambut mereka semua basah sehingga mereka saling tatap dan tertawa.
"Dasar! kalian semua mes um," kata Arini dengan tertawa
Ajib sekali semua mereka, baru datang langsung kompak memanjat para istri.
"Kalian bisa kompak sekali," ucap Vani dengan memijat pelipisnya.
Mereka semua tertawa sepanjang lorong sehingga membuat beberapa pegawai yang lewat memandangi mereka.
"Suami kita adalah suami yang terlangka wajib kita lindungi," ujar Amira dengan menatap empat lelaki di belakang mereka satu persatu.
"Sudahlah kalian protes saja padahal kalian juga menikmatinya, apa kalian tidak ingat saat kalian mende sah penuh kenikmatan," sahut Sean
Daffa pun ikut menimpali,
"Iya seolah kami memaksa kalian, padahal kalian sendiri yang suka hati menyerahkan diri pada kami,"
"Betul, nggak usah bilang langka, kalau kami punah kalian bingung sendiri karena nggak ada yang memberi nafkah kalian lahir dan batin," sahut Shane
Nick mengangkat kedua jempolnya
"Mantab, jadi kalian para ladies jangan mengeluh seolah kalian adalah korban," kata Nick yang membuat semua tertawa.
Kini mereka sudah sampai di restoran, kebanyakan pengunjungnya adalah orang Arab.
Mereka sudah membooking tempat, beberapa lama kemudian makanan sudah tersaji di meja.
Tajin Sibnekh, Menchouia salad , Shakshuka, Lablabi, Fricasse adalah menu andalah hotel ini.
Hotel ini memang menyajikan menu-menu khas Tunisia yaitu perpaduan makanan khas Timur tengah dan juga Afrika.
"Ini makanan apa saja sayang?" tanya Arini
"Makanan khas negara aini lah, masak iya makanan ternak," jawab Sean lalu melahap makanan yang sudah tersaji.
Karena panjat pinang tadi dia memerlukan banyak energi untuk mengganti energinya yang hilang.
"Yuk makan yang banyak karena kita nanti malam pasti lembur," kata Shane dengan tertawa
Karena perkataannya, para istri melemparkan tatapan mautnya.
"Kalian ini suka sekali membolakan mata, awas mata kalian nanti jatuh," kata Nick.
"Sabar guys, mereka para suami memang menguji kesabaran kita," sahut Amira.