Teman Ranjang Billionaire

Teman Ranjang Billionaire
Mama lebih kejam daripada pelakor


Mama Daffa pulang dengan segunung kesal di dadanya, dia nggak terima jika Daffa melawannya dan menikah dengan Putri.


Mama Daffa menginginkan menantu yang sederajat dengannya bukan seperti Putri yang dari kaum bawah.


Arrrggggg


"Daffa.... Beraninya kamu melawan mama dan nekat menikah dengan wanita murahan macam Putri," teriak mama Daffa.


Lalu mama Daffa mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.


Setelah melakukan panggilan bibirnya menyunggingkan senyuman.


"Kamu sendiri yang menyatakan perang dengan mama jadi sekarang jangan salahkan mama, semoga setelah ini kamu berfikir dua kali untuk melawan mama." Mama Daffa bermonolog dengan dirinya sendiri.


*********


Daffa meremas kertas yang baru saja dibawa oleh Shane, "Kenapa mama lakukan ini pada Daffa," gumam Daffa dengan memegangi kepalanya.


"Apa langkah kita selanjutnya pak?" tanya Shane.


"Bujuk para investor supaya tidak menarik investasi mereka," jawab Daffa.


Shane segera melaksanakan perintah Daffa, dia berharap semoga para investor mau mendengarkannya dan mengurungkan niat mereka.


Daffa nampak bingung, dia tidak habis pikir dengan mamanya yang benar-benar ingin menghancurkannya.


Putri yang datang ke ruangan Daffa berkali-kali memanggil Daffa namun Daffa terlalu nyaman dengan lamunannya sehingga tidak mendengar panggilan dari Putri.


Dengan langkah pelan Putri mendekat, dia menepuk bahu Daffa dan itu membuat Daffa tersentak kaget.


Tepukan Putri berhasil membawa Daffa keluar dari lamunannya.


"Eh Putri," kata Daffa


"Maaf mengganggu acara melamun pak Daffa," ujar Putri menyesal.


"Nggak apa-apa kok Put," timpal Daffa.


Daffa memundurkan kursi kebesarannya lalu menggapai wanita yang berdiri tak jauh darinya.


Daffa berdiri lalu memeluk Putri, "Jangan tinggalkan aku," bisik Daffa


Daffa semakin mengeratkan pelukannya sehingga Putri batuk.


"Pak, kamu tu seperti ular piton saja. Erat sekali memeluknya," ucap Putri dengan terkekeh. "Tunggu-tunggu apa maksud pak Daffa dengan kata-kata barusan?" tanya Putri sesudahnya.


"Berjanjilah Put kalau kamu nggak akan ninggalin aku apapun keadaanku," jawab Daffa.


Putri tersenyum dengan menangkupkan tangannya pada wajah Daffa.


"Aku nggak tau apa yang terjadi dengan kamu, tapi apapun itu aku nggak akan pernah ninggalin kamu mas, meskipun kamu sendiri yang menyuruhku untuk pergi," ucap Putri


"Lagian kamu telah merenggut ciuman pertamaku, telah membuat tanda cinta di leherku dan meraba-raba tubuhku, mana mungkin aku meninggalkanmu enak di kamu dan rugi di aku dong mas," imbuh Putri dengan tertawa.


"Dasar." Daffa yang gemas menekan hidung Putri.


"Iiihhh mas Daffa, entar hidungku pesek lo kalo ditekan ke dalam," gerutu Putri sambil menarik hidungnya.


"Mang udah pesek, beruntung kamu jika menikah dengan aku bisa memperbaiki keturunan," sahut Daffa


"Sorry ya, aku pesek juga karena mengalah sama kamu," kata Putri yang membuat Daffa bingung.


Daffa terus berfikir keras, mengalah yang bagaimana yang dimaksud Putri.


Lalu dia menatap Putri dan bertanya


"Apa maksudnya?" tanya Daffa


Daffa juga tersenyum mendengar perkataan Putri, menurut Daffa pasangannya ini ada-ada saja. Meskipun hanya candaan remeh namun mampu membuat Daffa melupakan sejenak permasalahan yang tengah dihadapinya.


Setelah Putri kembali ke ruangannya, Daffa mengambil kontak mobilnya lalu pulang. Dengan kecepatan sedang Daffa mengendarai mobilnya.


Tak butuh waktu lama untuk sampai ke rumah yang lebih tepatnya rumah orang tuanya.


Daffa masuk ke dalam rumah guna mencari mamanya tapi kelihatannya mama Daffa tidak berada di rumah.


Daffa menunggu mamanya di kamar, niatnya hanya rebahan tapi Daffa malah ketiduran.


Mama Daffa yang baru pulang menyunggingkan senyuman saat tau mobil Daffa terparkir rapi di halaman.


"Akhirnya kamu pulang juga Daffa, pasti kamu menyerah sekarang dan meminta belas kasihan mama supaya tidak menarik saham mama dari perusahaan kamu," gumam Mama Daffa.


Memang Mama Daffa memiliki saham empat puluh lima persen di perusahaan Daffa, jika mamanya menarik semua sahamnya otomatis perusahaan Daffa mengalami Devisit tak hanya di situ Mama Daffa juga mempengaruhi para invertsor supaya menarik invest mereka di perusahan Daffa sehingga membuat perusahaan Daffa berada dalam zona merah.


"Mana Daffa?" tanya Mama Daffa pada pelayan rumahnya.


"Tuan muda berada di kamarnya nyonya," jawab pelayan.


Mama Daffa bergegas ke kamar anaknya untuk segera menemui Daffa,


Daffa tidur dengan meletakkan tangannya di kening sehingga membuat mama mendekat dan duduk di sisi Daffa.


"Seandainya kamu menurut dengan mama Daffa pasti mama tidak akan berbuat seperti ini," gumam Mama Daffa mengelus pipi anaknya.


Merasa ada pergerakan Daffa pun terbangun, "Mama," panggilnya


Mama Daffa beranjak dari tempa duduknya dan pindah ke sofa.


"Mama tau maksud tujuanmu kemari Daffa, apa kamu menyerah sekarang?" tanya Mamanya dengan percaya diri.


Daffa tersenyum lalu beranjak dari tempat tidurnya, Daffa mendekatkan dirinya pada jendela dengan pandangan menerawang jauh.


"Mengapa Mama setega itu pada Daffa?" tanya Daffa tanpa menatap mamanya.


"Karena kamu tidak nurut sama Mama, kamu bertindak sesuka hatimu sendiri tanpa memikirkan perasaan Mama," jawab Mama.


Daffa tersenyum, lalu menatap mamanya.


"Dari kecil Daffa selalu menuruti keinginan Mama, mulai baju, sepatu, sekolah bahkan sampai potongan rambut semua sesuai keinginan Mama, pernahkah Daffa protes? nggak ma, sekalipun Daffa nggak pernah perotes lalu kenapa Mama masih terus memaksakan kehendak Mama untuk jodoh Daffa, kenapa mama tidak memberi kebebasan pada Daffa untuk memilih sendiri pendamping Daffa," ungkap Daffa lalu melemparkan tatapannya ke luar jendela.


"Susah payah Daffa membangun perusahaan itu, kalau mama mau menarik invest mama silahkan tapi please jangan mempengaruhi para investor juga," imbuh Daffa.


Mamanya Daffa tersenyum, lalu mendekati Daffa.


"Mama dari dulu tidak suka di bantah Daffa, ingat adanya kamu seperti ini juga karena Mama jadi jangan coba-coba melawan Mama," sahut Mama


Daffa hanya tersenyum sinis, nenek sihir seperti mamanya tidak mungkin bisa ditaklukan.


Orang yang sudah dibutakan oleh harta ,tahta serta jiwa sosialita tidak mungkin punya hati nurani.


"Ya sudah ma, Mama bisa melakukan apapun yang mama mau, tapi Daffa juga tidak akan berdiam saja. Daffa bukan anak kecil yang takut akan ancaman mama, Daffa bukan anak kecil yang berlindung di bawah ketiak mamanya," ujar Daffa


"Beraninya kamu Daffa, Mama juga tidak akan diam," sahut mama


Lagi-lagi Daffa tersenyum, tidak menyangka mamanya ternyata lebih kejam dari pelakor, bahkan pelakor pun tidak setega itu pada anaknya.


Tak ingin berdebat, Daffa melangkahkan kaki untuk mengambil kontak mobilnya yang di letakkan di atas nakas.


"Hati mama sekeras batu dan tetaplah selamanya seperti batu," kata Daffa lalu menuju pintu dan sebelum dia keluar dia membalikkan tubuh lalu menatap mamanya.


"Dan satu lagi ma, Daffa menyesal telah lahir dari rahim mama,"