Teman Ranjang Billionaire

Teman Ranjang Billionaire
Ciuman pertama Vani


Sean memutuskan untuk pulang cepat karena dia akan ke rumah sakit untuk mengkonsultasikan terkait perjalanan mereka ke Pulau Bali besok.


"Apa istri saya boleh melakukan perjalanan dengan naik pesawat dok?" tanya Sean.


"Keadaan ibu dan anak bapak cukup baik, jika hanya sekali mungkin tidak apa-apa asal tidak terlalu sering," jawab Dokter, "Tapi bagaimana dengan gejala-gejala seperti mual, pusing dan muntah tentu hal itu pastinya sangat menganggu ibu maupun penumpang lain," imbuh Dokter.


"Kami menggunakan pesawat pribadi dok," sahut Sean.


Dokter tersenyum, dia tidak tau kalau pasiennya kali ini adalah seorang sultan kelas kakap yang tidak terhitung kekayaannya.


Memang hari ini Sean dan Arini berkonsultasi dengan dokter kandungan lain karena dokter yang menanganinya tidak praktek hari ini.


"Kalau ibu capek, ibu bisa berjalan-jalan kalau nggak gitu bisa meletakkan bantal kecil di belakang supaya tidak lelah saat duduk lama," saran dokter


"Kami bisa rebahan kok dok, karena bagian belakang jet saya sengaja saya modif seperti kamar supaya tidak lelah saat berpergian jauh," sahut Sean.


Dokter ingin bilang wow dengan keras tapi merasa sungkan dengan pasiennya. Dia hanya bisa bilang dalam hati, apalah dirinya yang baru saja mendapat pekerjaan dan praktek di rumah sakit tersebut.


"Kelihatannya anda sendiri sudah menyiapkan yang terbaik untuk istri anda, saya bisa menyarankan supaya dijaga saja kandungannya dan memakai kaos kaki untuk menjaga sirkulasi darah supaya tetap mengalir karena saat melakukan penerbangan ibu hami dapat meningkatkan resiko DVT," saran dokter


"Baiklah dok," sahut Sean paham.


Seusai mendapatkan obat, Sean dan Arini pulang. Banyak yang harus mereka siapkan untuk prewed besok.


"Huft lelahanya," kata Arini lalu merebahkan diri di tempat tidur


Sean yang kasian melihat istrinya kelelahan pun mendekat, "Istirahat dulu sayang, sisanya biar aku yang menyiapkannya," ucap Sean


"Udah kok, semua udah beres," sahut Arini


"Apa mau kau pijat?" tanya Sean


Seketika Arini menatap Sean dengan lekat, "Pasti pijat plus plus kan?" terka Arini yang langsung mendapatkan tepukan di dahi.


"Kamu pikir aku manusia tak berhati sehingga tega memanjat istriku yang sedang kelelahan," gerutu Sean kesal dengan asumsi Arini.


Arini menyibirkan bibir, heran dengan Sean yang tiba-tiba bijaksana.


"Baiklah kalau kamu memang ingin sekali memijat ku," sahut Arini.


********


Setelah Daffa menyuruhnya untuk kuliah, Putri pun mencair informasi terkait kampus yang masih membuka jalur undangan untuk mahasiswa baru.


Tak di sangka kampus terkenal di Indonesia membuka jalur undangan dengan full beasiswa.


Putri segera melakukan daftar online, dan untuk tes nya akan di adakan tiga hari lagi.


Saat melihat jadwal tes nya Putri nampak bingung karena tes nya diadakan saat jam aktif.


Sebenarnya Daffa menyuruh Putri untuk masuk tanpa lewat jalur undangan, tapi karena Putri tidak ingin membuat Daffa repot akhirnya dia mendaftar lewat jalur undangan.


Keesokan harinya, Putri minta ijin pada Daffa terkait tes yang diadakan oleh pihak kampus.


"Jadi kamu lewat jalur undangan?" tanya Daffa dengan menatap Putri


"Iya pak, kan sayang kalau melewatkan jalur undangan, siapa tau lulus tes dan dapat full beasiswa," jawab Putri


"Baiklah, kamu boleh pergi setelah itu kembali lagi ke kantor," ucap Daffa


Putri yang sangat senang langsung memeluk Daffa, dia mengeratkan pelukannya sehingga membuat Daffa kikuk.


Mau nggak mau Daffa menerima pelukan dari Putri.


Putri yang sadar segera melepaskan pelukannya


"Eh maaf pak, saking senangnya sehingga lupa diri," kata Putri


Daffa tersenyum, "Nggak papa kok Put, lagipula aku juga kan masih single," sahut Daffa


Di sisi lain Sean, Arini, Nick dan Vani sudah sampai di Pulau Bali. Vani sangat bahagia karena ini pertama kalinya dia datang ke Pulau Bali begitu pula dengan Arini.


"Jadi ini pengalaman pertama kalian?" tanya Sean


"Payah," ejek Sean


Arini mendengus kesal mendengar jawaban ejekan Sean.


"Kami bukan terlahir jadi anak sultan sepertimu, jangankan pergi berlibur, untuk makan saja kami mikir," sahut Arini


"Maaf sayang," timpal Sean


Mereka menginap di Six Senses Uluwatu dengan harga perharinya 6-7 juta sedangkan pemotretan mereka di Blue point chapel Uluwatu. Sean menggunakan fotogrfer profesional dengan tarif yang lumayan mahal.


Sebelum menuju lokasi Sean dan Arini istirahat sejenak di resort nya.


Mereka ingin melakukan prosesi pemotretan saat matahari terbenam namun tentu sebelumnya mereka sudah ada di lokasi untuk di make up.


Untuk make up nya, Nick sudah menyiapkan MUA ternama supaya hasil make up nya tidak jelek.


Indahnya Samudra dengan matahari terbenam akan memberikan pemandangan yang indah.


Konsep prewed Arini sendiri yang memilihnya, rencananya dia akan memakai gaun simpel pendek warna putih dan Sean memakai kemeja putih santai dan juga celana pendek.


Pukul empat Arini sudah sampai di lokasi, Arini minta di make up tipis tipis saja.


"Jadi kapan kita menyusul mereka Van?" tanya Nick dengan terkekeh


Vani menatap Nick dengan lekat, "Maksudnya pak?" tanya Vani balik pura-pura tidak tau.


"Masak kamu tidak paham maksud aku," jawab Nick lalu pergi menjauh dari tempat make up Sean dan Arini.


Vani pun mengejar Nick, "Pak Nick, tunggu," teriak Vani


Nick menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Vani.


"Pak Nick mau kemana?" tanya Vani sesaat dia bisa menyusul Nick.


"Cari udara, iri aku lihat pak Sean dan Arini," jawab Nick dengan tersenyum.


Vani juga ikut terkekeh, lalu mereka berjalan bersama mencari tempat untuk mengobrol. Mereka duduk di bawah pohon dengan menatap indahnya hamparan luas Samudra Hindia.


"Van, kita nikah yuk," kata Nick


Vani tertawa lepas mendengar ajakan Nick,


Melihat Vani menertawakannya membuat Nick kesal


"Apa lucu?" tanya Nick dengan mode kesal


"Kamu nggak usah nge prank aku pak Nick," jawab Vani.


Nick mendekat, tanpa aba-aba Nick menyambar bibir Vani.


Vani terdiam atas perlakuan Nick, bukannya melepas Nick semakin menikmati bibir Vani, Vani hanya diam karena ini adalah ciuman pertamanya.


Setelah puas Nick pun melepaskan ciumannya.


"Apa ini ciuman pertama kamu?" tanya Nick


Vani yang masih shock hanya diam mematung, hingga tepukan Nick mengagetkannya.


"Pak Nick, kenapa ambil ciuman pertama saya, nanti apa yang harus saya katakan pada suami saya," kata Vani


Nick tertawa mendengar pertanyaan Vani,


"Kalau begitu, biar aku yang jadi suami kamu supaya kamu nggak usah bingung jika ditanya suami kamu nanti," sahut Nick


Vani memegang bibirnya yang sudah tidak perawan lagi.


Nick yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala,


"Baru dicium sudah seperti robot apalagi kalau aku melakukan hal itu padanya," batin Nick heran.