
Arini sangat gugup saat mobil yang dia tumpangi masuk di sebuah rumah yang bergaya klasik megah dengan taman mawar putih di depan.
"Kita sudah sampai nona," kata sopir membuka pintu mobil dengan menunduk
Arini tersenyum lalu menarik nafas dalam-dalam, "Jangan takut Arini, mereka juga sama-sama makan nasi," gumam Arini lalu keluar
Di teras sudah ada wanita paruh baya cantik dan sederhana sedang menatapnya.
"Itu pasti mama Sean," batin Arini.
Arini berjalan mendekati wanita paruh baya tersebut, dia menatap Arini dengan tatapan yang sulit ditebak,
"Kamu Arini?" tanyanya
Arini mengangguk, "Iya," jawab Arini singkat
Wanita paruh baya tersebut yang tak lain adalah mama Sean mengajak Arini masuk untuk menemui Oma Sean.
"Masuk," kata mama Sean
Arini berusaha menekan rasa gugupnya, setelah sedikit berkurang dia baru masuk.
"Jadi ini istri Sean, siapa namamu?" tanya Oma
Suasana seketika menjadi hening, dengan empat sorot mata yang menatapnya menunggu jawaban yang keluar dari mulut Arini.
"Saya Arini," jawab Arini gugup
"Orang tua kamu?" tanya Oma
Lagi-lagi pertanyaan keluar dari mulut Oma Sean yang membuat Arini semakin gugup
"Sudah meninggal," jawab Arini
Oma Sean dan mama Sean saling pandang,
"Kamu sebelumnya bekerja di kantor Sean?" tanya Oma lagi
"Iya, nyonya nenek" jawab Arini
Oma Sean memandang sinis Arini, "Sebagai?" tanyanya
Arini melihat mama Sean lalu melihat Oma, dia menunduk "Cleaning service," jawabnya dengan malu
Oma Sean memegangi tengkuknya," Haduh haduh Fatma, kepalaku rasanya pusing sekali, bagaimana bisa Sean menikah dengan cleaning servicenya di kantor," sahut Oma dengan kesakitan
Mama Sean yang panik segera mengambil obat dan air untuk mertuanya.
Sebenarnya Oma Sean adalah orang tua angkat dari papa Sean meskipun hanya orang tua angkat, papa Sean sangat menyayanginya oleh karena itu Fatma yang tak lain adalah mama Sean juga sangat menyayangi ibu angkat Ben, papa Sean.
Sean yang sudah kembali ke kantor menghubungi Arini,
"Kamu dimana?" tanya Sean
"Di rumah orang tua kamu," jawab Arini
Sean menjadi panik, dia mematikan sambungan panggilannya secara sepihak dan bergegas keluar kantor untuk menyusul Arini.
"Untuk apa dia kesana," gumam Sean lalu melajukan mobilnya.
Ibu Sean membaringkan Oma dengan pelan, dia menyuruhnya untuk istirahat.
"Ibu istirahat ya, jangan banyak pikiran," pesan Mama Sean
Arini tampak merasa bersalah karena dia Oma Sean jadi sakit begini.
"Maafkan saya nyonya dan nyonya nenek, bukan maksud saya membuat nyonya nenek sakit," kata Arini lirih
Mama Sean tertawa mendengar perkataan Arini, "Jangan panggil nyonya panggil saja mama," pinta mama Sean dengan tersenyum.
Mendengar kata-kata mama Sean membuat Arini kaget dia tak menyangka kalau mama Sean menerimanya sebagai menantu.
Arini tersenyum iya ma," sahut Arini
Oma yang berbaring ikut menyahut
"Panggil aku Oma jangan nyonya nenek, dapat darimana sebutan seperti itu,"
Arini mengangguk, "Iya Oma," timpal Arini
Arini sungguh lega, rasa gugupnya seketika musnah. "Mamanya begitu baik kenapa anaknya seperti monster," batin Arini
Tiba-tiba Sean datang dan langsung menarik tangan Arini
"E e e tuan suami kenapa ditarik-tarik seperti ini," protes Arini
"Sean," panggil mamanya
"Terima kasih mama dan Oma mengundang istriku kemari tapi Arini harus segera kembali ke kantor karena pekerjaannya sangat banyak," kata Sean beralasan.
Sebenarnya Sean tidak ingin bertemu dengan papanya sehingga dia segera membawa Arini pergi.
Setelah berpamitan Sean menarik Arini sehingga akan terjatuh
"Tuan suami, bisa nggak pelan-pelan," protes Arini
Saat melewati kamar orang tuanya Sean melihat Ben papanya hendak masuk kamar
"Halo papa," sapa nya
"Halo," sahut Papa lalu menutup pintu kamar dengan keras dan dia menatap kepergian Sean dari jendela kamarnya
"Kamu seharusnya jangan bersikap seperti itu dengan keluargamu," kata Arini membuka obrolan saat di mobil.
"Bersikap bagaimana maksud kamu?" tanya Sean berpura-pura gagal paham
"Seperti tadi, datang-datang langsung main tarik, bicaralah baik-baik dengan mereka lagipula apa kamu nggak kangen dengan mereka," jawab Arini
Sean menjadi kesal pada Arini,
"Itu urusanku dengan mereka jadi jangan ikut campur, jangan sok sokan nasehati aku karena aku yang lebih tau tentang mereka bukan dirimu," maki Sean
Arini kaget dengan makian Sean,
"Sebenarnya apa arti aku di matamu, beberapa hari lalu mengatakan ingin menikah sungguhan denganku dan hari ini kamu bilang jangan ikut campur dengan urusanmu, mau kamu tu apa sih," ungkap Arini kesal
Sean yang bingung harus menjawab apa pun malah mengomeli Arini
"Kenapa kamu bawel sekali, sana mengoceh lah di luar supaya telingaku tidak panas mendengarnya,"
Arini membolakan matanya, kata Sean kali ini sungguh keterlaluan.
"Ya sudah turunkan aku, dasar monster!" seru Arini
"Kamu otak udang, dasar kuntilanak!" seru Sean balik
Arini dan Sean saling menatap, mereka sama-sama dikuasai emosi
"Turunkan akuuuuuu!" teriak Arini yang membuat Sean mengerem mendadak
Karena sangat-sangat kesal, Sean mengikuti permintaan Arini.
"Kamu sendiri yang memintanya, jangan salahkan aku," ucap Sean
"Iya, males semobil sama manusia tak punya hati sepertimu," omel Arini lalu turun dari mobil.
Sean menatap Arini yang berjalan, akhirnya dia tak tega lalu melajukan mobilnya pelan dan mengikuti Arini.
Tin Tin Tin
Sean membunyikan klakson mobilnya
"Arini ayo naik," suruh Sean
"Ogah," tolak Arini
"Nanti kaki kamu lecet Lo, dan kulit kamu hitam," bujuk Sean
Arini terus berjalan tanpa menghiraukan Sean.
Arrrgggg,
Sean yang bingung memukul setir mobilnya, "Pasti dia marah sekali padaku," gumamnya
Akhirnya dia memutuskan turun dari mobil dan berlari mengejar Arini.
"Baiklah baiklah aku akan melakukan apa yang kamu mau, asal kamu naik mobil lagi." Sean mencoba bernegosiasi
Arini tersenyum licik
"Baiklah," kata Arini dengan puas
Mereka berdua kembali ke mobil kembali, Arini yang masih kesal memilih diam sambil memikirkan apa yang dia inginkan.
Tak terasa mobil Sean sampai di kantor, Arini yang masih kesal turun terlebih dahulu saat masuk ke dalam ada Daffa yang hendak keluar.
"Halo Arini," sapa Daffa
"Halo pak Daffa," sapa Arini balik
Sean yang melihat Daffa dan Arini mengobrol menjadi cemburu, "Daffa lagi Daffa lagi," gerutunya lalu mendekat
"Siang Sean," sapa Daffa
"Siang," sapa Sean balik
"Aku menitipkan laporan yang kamu minta pada Nick" kata Daffa
Sebenarnya bisa saja Daffa menyuruh Shane namun Daffa rela mengantarnya sendiri untuk bertemu dengan Arini.
"Iya terima kasih Daffa," sahut Sean
"Ya sudah Sean, Arini aku pamit dulu," pamit Daffa
Sean dan Arini menjawab barengan
"Iya Daffa,"