Teman Ranjang Billionaire

Teman Ranjang Billionaire
Maafkan aku mencintainya


Puas mengenang masa-masa dengan Arini, Daffa memutuskan untuk kembali ke kantornya.


Setibanya di kantor Daffa menyibukkan diri dengan berkas-berkas yang sudah menumpuk di meja.


Baru beberapa berkas pikirannya kembali pada Arini, pelukan tadi membuat pikiran Daffa kalut kembali.


"Rasa ini, kenapa menyiksaku. Aku terus mencoba menghimpit rasa itu, merajam keruhnya jiwaku namun rasa ini selalu hadir dan hadir sehingga aku tak kuasa menahannya. Sean maafkan aku karena mencintainya," gumam Daffa


Shane yang sudah berdiri diseberang Daffa tentu mendengar apa yang Daffa gumam kan.


Dia menghela nafas melihat bos nya mencintai istri sahabatnya sendiri.


"Apa wanita bebek itu boz," sahut Shane yang membuat Daffa melemparkan lirikannya pada Shane


"Meskipun wanita bebek dia memiliki sesuatu yang mampu meluluhkan hati-hati yang tak bertuan," timpal Daffa


"OOO tidak bisa, meskipun hatiku tak bertuan aku tak tertarik padanya, jauh dari tipe ku," ucap Shane


"Sudahlah kenapa malah membahas Arini," sahut Daffa.


Daffa dan Shane mengecek laporan terbaru terkait proyek mereka dengan perusahaan Sean. Proyek yang berjalan lancar membuat Daffa dan Shane tersenyum.


Di sisi lain Nick dan Vani sampai juga di warung penjual semur jengkol. Mata Nick melotot melihat antrian super panjang.


"Panjang sekali antriannya, bisa-bisa malam baru sampai kantor, apa nggak ada penjual semur jengkol lain yang nggak usah mengantri" ucap Nick


"Banyak tapi Arini mintanya yang di sini, kalau kita beli di lain tempat takutnya Arini nggak mau," sahut Vani


Nick mengangguk,


"Tapi tenang pak Nick, akan aku urus supaya tidak antri lama," kata Vani


"Bagaimana?" tanya Nick penasaran


"Pak Nick ada uang lima ratus ribu nggak?" Vani bertanya balik


"Ada, tapi buat apa?" jawab Nick dengan bertanya kembali


"Buat nyogok penjualnya supaya kita nggak usah mengantri," jawab Vani dengan terkekeh


Nick menatap Vani sesaat, masuk juga idenya


"Bagus juga tapi aku yang rugi," gerutu Nick


Vani tertawa mendengar kata-kata Nick, uang lima ratus ribu tentu nggak banyak bagi assiten Presdir.


"Pak Nick pak Nick anda seperti orang susah saja, seorang asisten Presdir seperti anda tentu memiliki gaji yang fantastis, uang lima ratus ribu tentu nggak ada apa-apanya kan," sahut Vani


Nick tertawa memang benar yang dikatakan Vani, lagipula dia juga bisa memasukkan dalam tagihan Sean.


Nick memberikan Vani uang 500 ribu, lalu dia dan Vani menuju warung dan menerobos antrian panjang.


Vani membisikkan sesuatu pada penjual semur jengkol, dan sebentar saja dia sudah mendapat dua porsi semur jengkol lalu kembali ke kantor


Sepanjang perjalanan kembali ke kantor, Nick dan Vani mengobrol kesana kemari sehingga baru sebentar saja mereka sudah sampai di kantor


"Cepat sekali dah sampai di kantor," kata Vani


"Kamu ingin berlama-lama di jalan?" tanya Nick


Vani nampak gugup dan bingung, "Bukan begitu pak," jawabnya dengan menggaruk kepala yang tidak gatal


"Ya udah nanti sore, pulang bareng aku ya, aku ajak muter-muter," kata Nick


Seketika mata Vani membulat, dia tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Pak Nick mau ngajak aku jalan?" tanya Vani


"Iya, itupun kalau kamu mau," jawab Nick


"Mau pak mau kok, mau bangat malah," sahut Vani bersemangat


"Kamu semangat sekali Van," timpal Nick


Wajah Vani memerah, dia sungguh malu. Namun Vani senang sekali karena Nick mengajak nya keluar.


"Ya Allah mimpi apa aku semalam, tiba-tiba diajak pak Nick jalan," gumam Vani


Nick hanya tersenyum lalu dia pun keluar mobil yang diikuti oleh Vani.


Vani segera mengantar semur jengkol ke ruangan Sean.


Karena pintu terbuka sedikit Vani langsung masuk saja dan betapa kagetnya dia saat masuk harus menyaksikan adegan dewasa Arini dan Sean


"Arini," panggil Vani kaget


"Kalau mau masuk ketuk pintu dulu, mengganggu saja," omel Sean


Vani jadi takut karena dimarahi Sean, dengan segera Vani meletakkan semur jengkol di meja


"Maaf pak, saya cuma mau mengantar pesanan Arini, kalo begitu saya pamit dulu. Silahkan dilanjut enak-enakan nya," kata Vani lalu bergegas keluar


Sean melanjutkan kembali aksinya, dia mencium Arini dengan panas bahkan tangannya meraba kemana-mana.


Arini mendorong Sean supaya menghentikan aktivitas panasnya.


"Udah sayang, nanti malah kepengen," kata Arini


"Tenang, kalau pengen aku siap manjat kok," sahut Sean dengan terkekeh


Arini memelototi Sean, gak habis pikir dengan suaminya tersebut


Bau semur jengkol yang keluar membuat Arini beranjak dan mengambil bungkusan yang ditaruh Vani di meja.


hmmmmmm


Arini sudah menelan ludahnya,


"Ayo makan dulu sayang," ajak Arini dengan membuka makannanya.


"Apa itu?" tanya Sean


"Semur jengkol sayang," jawab Arini


"Males makan jengkol nanti keringatku bau jengkol, bisa-bisa aku malu saat ada pertemuan dengan klien," sahut Sean


"Ya udah kalau nggak mau, minta OB pesankan makanan lain ya," timpal Arini


Arini segera melahap semur jengkolnya, melihat Arini dengan lahap membuat Sean menelan ludahnya. Arini melirik Sean yang sedari tadi melihatnya dengan menelan ludah.


Arini mendekatkan sendok di mulut Sean


"Makan sayang, ini rasanya enak banget lo," kata Arini


Sean akhirnya membuka mulutnya dan dia pun membolakan matanya


"Iya enak," sahut Sean


Segera dia membuka bungkusan satunya dan melahapnya.


Arini yang melihatnya menggelengkan kepala


"Tadi sok sok an nggak mau, kini lahap," gumam Arini


Dalam sekejap semua makanan ludes.


setelah makan Sean kembali berkutat dengan pekerjaannya sedangkan Arini merebahkan dirinya lagi di sofa sambil memainkan ponselnya.


"Sayang, kasian ya artis yang meninggal gara-gara kecelakaan di Jatim itu," kata Arini


Sean melirik istrinya, "Artis siapa?" tanya Sean


"Kamu nggak pernah update ya sayang?" tanya Arini balik


"Pekerjaanku itu banyak sekali, mana mungkin aku mengikuti hal-hal seperti itu," jawab Sean


Benar juga yang di bilang Sean, saat di rumah saja kadang masih bekerja. Mengikuti gosip-gosip adalah kerjaan orang yang tidak memiliki pekerjaan seperti dirinya.


"Memangnya kenapa kalo artis itu meninggal?" tanya Sean


"Ya kasian sayang, dia dan suaminya meninggal di tempat. Itulah contoh cinta sehidup semati, aku tu pengen seperti itu sehidup semati denganmu," jawab Arini


Sean menatap Arini dengan lekat, dia terharu dengan kata-kata istrinya.


Sean pindah duduk, lalu mengecup kening Arini.


"Amin, semoga ya sayang," ucap Sean


Arini tersenyum.


Sore hari sudah datang, Sean dan Arini pulang sendiri tanpa Nick karena rencanannya Arini dan Sean akan mampir ke rumah orang tuanya untuk membahas pernikahan mereka.


Vani sudah menunggu Nick di bangku samping kantor, namun hingga magrib Nick belum juga keluar. Karena kesal Vani mendatangi ruangan Nick.


Saat di ruangan Nick, dia tidak mendapati Nick Alias ruangan Nick sudah kosong.


Vani mengepalkan tangannya


"Jadi dari tadi aku menunggu orang yang sudah pulang," gumam Vani