Teman Ranjang Billionaire

Teman Ranjang Billionaire
Sikap posesif Sean


"Kamu kenapa sayang?" tanya Sean cemas


Arini berlari masuk toilet pribadi Sean, dia memuntahkan apa yang dia makan tadi.


Sean menyusul untuk melihat kondisi Arini. Sean memijat tengkuk Arini.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Sean lagi dengan raut wajah yang tak karuan


"Lepas jas kamu, ini semua gara-gara bekas pelukan Amira tadi," jawab Arini


Arini menjauhkan dirinya dari Sean lalu menyandarkan diri di dinding sambil memegangi kepalanya yang sedikit pening.


Sean dengan segera membuang jasnya, setelah itu dia membantu Arini keluar toilet. Dia merebahkan Arini di sofa,


"Pusing?" tanya nya lagi


Arini mengangguk,


Karena kondisi Arini yang sedikit pucat membuat Sean meminta Nick untuk menghubungi dokter pribadinya.


Sean ikut duduk di sofa, dia memindahkan kepala Arini ke pangkuannya. Dengan lembut Sean memijat kepala Arini.


Tak selang berapa lama dokter datang, beliau memeriksa Arini.


Melihat dokter memegang tangan Arini dan memeriksa detak jantung menggunakan stetoskop membuat Sean marah.


"Kenapa memeriksanya seperti itu, jangan-jangan Anda mencari kesempatan untuk menyentuh istri saya," maki Sean


Arini memelototi Sean, dia semakin pusing dengan sikap Sean.


"Tuan Sean, memang memeriksa pasien itu seperti ini," jelas dokter


"Periksalah tanpa memegang istri saya," timpalnya


Arini semakin pusing, mana ada memeriksa tanpa menyentuh lalu untuk mengecek nadi, detak jantung dan lain-lain bagaimana?


"Kalau dokter tidak boleh menyentuhku, kenapa kamu nggak memanggil dukun saja, dengan diterawang akan tau apa sakit ku," kata Arini kesal


Terjadilah debat antara Arini dan Sean yang membuat dokter melongo, untung tadi beliau sudah memeriksa Arini sehingga tahu apa yang terjadi dengan Arini.


"Maaf nyonya dan tuan saya mengganggu debatnya, saya ingin menyampaikan informasi terkait sakit nyonya, menurut pemeriksaan tadi nyonya tidak sedang sakit, untuk lebih jelasnya sebaiknya anda periksakan nyonya ke dokter kandungan," jelas dokter lalu menulis resep obat untuk Arini


Arini dan Sean hanya bengong, mereka sesekali saling pandang.


"Kenapa kami harus periksa ke dokter kandungan Dok?" tanya Arini


"Kelihatannya anda sedang hamil nyonya,untuk itu coba periksakan ke dokter kandungan," jawab dokter


Dokter memberikan resep yang ditulisnya, "Ini resep vitamin untuk nyonya,"


Setelah memberi resep dokter pamit undur diri.


"Kamu hamil sayang?" tanya Sean dengan senang


Arini hanya terdiam, dia bingung kenapa bisa hamil perasaan dia meminum pil KB.


"Ntah lah padahal aku minum pil KB," jawab Arini


"Kamu meminum pil KB?" tanya Sean lagi


"Iya," jawab Arini


"Aku takut kalau sewaktu-waktu kamu membuang ku jadi aku minum pil KB supaya tidak hamil, tapi kok aneh ya kenapa aku masih bisa hamil, mungkin keseringan kamu panjat jadi efek pil KB kalah dengan jumlah kecebong yang kamu keluarkan dalam rahimku," imbuh Arini


Sean hanya tersenyum dengan penuturan Arini, dia sangat senang sekali dengan kehamilan Arini untuk itu setelah pulang dari kantor dia akan membawa Arini ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya.


"Aku bahagia karena sebentar lagi aku akan menjadi ayah," kata Sean dengan memegang tangan Arini.


Berbeda dengan Sean, Arini tampak bingung seperti ada yang dipikirkannya.


"Apa kamu nggak senang sayang?" tanya Sean


"Senang tapi kan kita masih belum menikah secara resmi, selain itu aku masih takut melahirkan anak," jawab Arini


Sean memeluk Arini, "Segera mungkin kita akan meresmikan pernikahan kita sayang, nggak usah takut ada aku yang selalu di sampingmu." Sean mencoba menenangkan Arini


Sore harinya Sean membawa Arini ke rumah sakit, saat berjalan di lorong Sean bertemu dengan direktur rumah sakit tersebut.


"Sore," balas Sean datar


"Saya kesini ingin memeriksakan kandungan istri saya, tolong rekomendasikan dokter kandungan terbaik jika perlu yang memiliki rate 100, jangan seperti dokter yang mengurus mertuaku dulu untung aku masih berbaik hati tidak mencabut ijin rumah sakit ini," imbuh Sean


Direktur rumah sakit merekomendasikan dokter kandungan terbaik di rumah sakitnya, bahkan direktur sendiri yang mengantar Sean menuju ruangan dokter tersebut.


Sean meminta Arini masuk terlebih dahulu, direktur meminta suster untuk mendahulukan Arini daripada pasien lain yang datang terlebih dahulu.


Saat Sean masuk, dia begitu kaget karena dokter meminta Arini membuka gaunnya supaya bisa dioles gel


Sean berlari menuju tempat dimana Arini berbaring, dia segera menutup perut Arini yang terbuka.


"Apa-apaan ini, kenapa penutup perut istri saya dibuka?" tanya Sean kesal


Dokter dan perawat saling pandang. Lalu dokter menjelaskan kalau prosedur untuk melakukan USG memang seperti itu kalau tidak begitu bagaimana tau keadaan calon bayinya di dalam.


"Tetap saja saya tidak ikhlas jika anda melihat perut istri saya," sahut Sean


Arini memijat keningnya karena pusing dengan sikap Sean.


Akhirnya perawat lah yang disuruh untuk melakukan USG sedangkan dokter menjelaskan dengan melihat gambar di layar.


"Anda lihat titik kecil itu, itulah calon bayi anda, umurnya baru sekitar empat minggu. Karena masih rawan tolong dijaga baik-baik istrinya." Dokter menjelaskan.


Seusai diperiksa dan diberi resep Sean dan Arini pamit.


"Kamu tu tuan kenapa bersikap berlebihan seperti itu, malu-malu in aja," omel Arini kesal


"Aku bukannya bersikap berlebihan, aku cuma nggak mau dokter itu melihat bagian tubuhmu," sahut Sean


"Tapi kan memang begitu," timpal Arini


"Sudahlah Arini, kenapa sih kamu cerewet sekali aku nggak suka ya nggak suka," ucap Sean


Mendengar ucapan Sean membuat Arini marah


"Arini, Arini tadi panggil sayang sayang sekarang panggil Arini, dasar monster! aku kira sudah insaf tapi ternyata nggak. Kalau kamu nggak suka kenapa nggak kamu saja yang menjadi dokter kandungan pribadiku," omel Arini


Sean menatap Arini kesal,


Arrgggh


Tak ingin berdebat lebih lama, Sean lalu membawa Arini pulang.


Di sisi lain, Amira terus saja menangis dia tak bisa terima dengan sikap Sean. Orang tuanya ikut bersedih melihat Amira kacau seperti ini.


Tiba-tiba Amira mengambil pisau yang hendak dia goreskan di tangannya untung papa mencegahnya


"Amira jangan bodoh!," maki papa


"Kalau Sean tak jadi milik Amira, lebih baik Amira mati pa!" teriak Amira histeris


Mama dan papa tak tega melihat Amira seperti ini, papa meminta mama untuk menjaga Amira karena papa akan pergi ke rumah Sean.


Kebetulan sekali sesaat mobil Sean masuk mobil papa Amira ikut masuk,


Sean dan Arini menoleh, penasaran siapa yang datang.


Sean terkejut saat papa Amira keluar dari mobil dan mendekat ke tempat dimana dia berdiri


"Om Firman," panggil Sean


"Sean tolong om Sean, Amira mau bunuh diri. Hanya kamu yang bisa membujuknya Sean," pinta pak Firman


Arini dan Sean saling pandang,


"Tapi om...," belum sempat melanjutkan pak Firma sudah memotong


"Kasihanilah om dan Tante Sean, om sudah kehilangan adik Amira, kami tidak ingin kehilangan Amira." Pak Firman memohon dengan menangis


Arini serba bingung,


"Baiklah tapi saya datang dengan Arini," kata Sean