
"Apa?" tanya Nick
"Kita matikan saja listriknya kan jadi gelap tu pasti mereka takut," jawab Shane dengan tertawa.
"Jangan macam-macam, Sean bisa marah," sahut Daffa.
"Alah bos, pak Sean urusan belakang yang penting para betina tidur dengan kita," timpal Shane.
Shane melihat temannya saling berfikir dan itu membuatnya kesal.
"Aaahhhhhh kebanyakan mikir, ayo mau nggak tidur dengan para betina, kapan lagi coba," kata Shane lalu menarik tangan Nick.
Akhirnya mau nggak mau mereka bertiga pergi melakukan pemadaman listrik.
Saat bersamaan Sean dan Arini sedang melakukan foreplay dan siap untuk panjat memanjat, baru saja Sean hendak memasukkan rudalnya tiba-tiba listrik padam.
"Brengsek, padam di saat yang tidak tepat," umpatnya lalu turun dari pohon pinang yang tak lain adalah tubuh Arini
Sean memakai bajunya kembali begitu pula dengan Arini.
"Keluarlah sayang, cek kenapa bisa mati listriknya," pinta Arini
"Nggak nggak, nanti pelayan pasti ngecek," sahut Sean ogah-ogahan mengecek.
"Kamu takut ya," ejek Arini
"Sembarangan, kamu pikir aku penakut aku hanya malas saja," timpal Sean.
Sebenarnya dalam hati Sean sedikit was was pasalnya menurut rumor yang beredar vila nya dijaga mahkluk kasat mata tapi itu hanya rumor atau tidak semua juga tidak ada yang tau.
Karena desakan Arini akhirnya Sean keluar kamar juga untuk mengecek.
"Dimana sih para pelayan, kenapa saat listrik padam gini nggak ada yang keluar, Si Nick, Daffa dan Shane juga mana sih," gerutu Sean.
Dari kejauhan Sean melihat putih-putih berjalan menaiki tangga dan itu membuat Sean berteriak
"Waaaaaaa hantu!, Sayang tolong!" teriak Sean yang membuat Arini ikut keluar.
Arini menepuk bahu Sean yang membuat Sean kaget.
"Tolong hantuuuuu,' teriaknya.
Arini yang kesal karena di Katai hantu semakin menakuti Sean, dia menirukan kuntilanak tertawa
"Hi hi hi hi, Sean, Sean," kata Arini yang membuat Sean terduduk di lantai ketakutan.
Tentu Arini tertawa dan itu membuat Sean bangun dan mengomel, "Brengsek kamu sayang, hampir saja jantungku keluar,"
"Bukannya takut tapi terkejut," kilah Sean
Arini tertawa, karena suaminya berkilah kalau dia tidak takut. Dan ternyata putih-putih tadi ada pelayannya yang memakai daster putih mau naik ke atas namun urung karena Sean berteriak.
Tiba-tiba ketiga wanita dari kamar sebelah keluar,
"Ini ada apa Sean?" tanya Amira
"Entahlah Amira nggak biasanya padam begini," jawab Sean.
"Bagaimana ini kak Amira kak Vani, aku takut gelap," kata Putri sedikit ketakutan
"Tenang Put, ada aku," sahut Vani
"Apa kita tidur dengan mereka saja ya," timpal Putri
"Eh jangan, dua orang bersama orang ketiganya adalah bayi," ujar Amira.
"Kok bisa," sahut Vani dan Putri barengan.
"Bisa dong kalau tidur berdua pasti terjadi tu hal-hal yang sangat kita inginkan jadi orang ketiga hadir deh," ucap Amira dengan terkekeh.
Tak selang berapa lama, listrik nyala kembali, terlihat ketiga orang Shane, Daffa dan juga Nick hendak menaiki tangga.
"Siapa yang nyalakan listriknya?" tanya Shane
Daffa dan Nick menaikan bahu mereka yang artinya mereka tidak tau.
"Gagal lah ide kamu Shane," sahut Daffa
"Ini gara-gara anak kecil tadi, dia ngapain sih ganggu kita," gerutu Shane
Mereka bertiga bergabung dengan Sean dan lainnya,
"Kalian darimana?" tanya Sean
"Dari depan, tadi ada anak kecil yang ganggu kami, pelayanmu tu aneh malam-malam anak nya dibiarkan main sendiri," gerutu Daffa.
Sean nampak berfikir
"Pelayan aku nggak ada yang memiliki anak," kata Sean
Nick, Daffa, Shane merinding mendengar kata Sean.
"Lalu tadi siapa dong? sahut Nick.