Teman Ranjang Billionaire

Teman Ranjang Billionaire
kembali tersenyum


Sean sungguh bahagia karena Arini telah kembali, dia berangsur mulai membaik bahkan dalam seketika tubuhnya tidak lemah lagi.


Orang tua Sean yang tau kalau Arini sudah pulang pun datang ke rumah Sean untuk menjenguk.


"Mama, Oma," panggil Arini lalu menghampiri ibu dan nenek mertuanya tersebut.


Tak lupa Arini mencium punggung tangan mertuanya.


Ben yang ada urusan keluar negeri tidak bisa ikut mengunjungi anaknya, dia hanya titip salam saja pada Arini dan Sean.


Oma yang kesal pada Arini langsung saja menjewer Arini,


"Dasar anak nakal pergi tidak bilang bilang lihatlah kami semua bingung mencari mu kemana-mana," kata Oma kesal


Arini memekik kesakitan, "Oma kenapa menjewer aku, seharusnya yang dijewer ni cucu Oma, aku pergi juga karena dia," sahut Arini


Oma melepaskan jewerannya, " Tapi tetap kamu yang salah," timpal Oma


"Nggak bisa, Arini nggak salah." Arini bersikeras kalau dia nggak bersalah


Sean mencoba melerai perdebatan Oma dan istrinya


"Sean yang bersalah Oma, jadi jangan marahi Arini," sahut Sean


"Tetap istrimu Sean karena kabur nggak bilang-bilang," timpal nenek


"Kalau bilang ya bukan kabur namanya," ucap Arini dengan tertawa


Oma semakin marah dengan Arini dan lagi-lagi Oma sakit kepala, mama mendudukkan mertuanya di sofa.


Melihat Oma sakit kepala membuat Arini merasa bersalah,


"Maafkan Arini Oma," kata Arini menyesal


Oma hanya berdehem.


Setelah keadaan Oma sudah membaik, mama membawa Oma pulang karena harus segera meminum obatnya, tadi mama lupa tidak membawa obat Oma.


"Mama pamit dulu, ingat Sean kejadian yang sudah-sudah jadikan pelajaran dan segera resmikan pernikahan kalian supaya mempunyai surat nikah dengan begitu kalian bisa merencanakan untuk punya momongan," pesan mama


Arini dan Sean mengangguk


**********


Malam hari datang dengan cepat, Sean jauh lebih segar dibanding tadi pagi karena dia ingin memanjat Arini sehingga dia meminum aneka macam vitamin supaya tubuhnya fit dengan cepat.


"Apa kamu kok senyum-senyum sendiri?" tanya Arini curiga


"Kemari lah, aku sangat merindukanmu," titah Sean


Arini menurut, dia segera ikut naik ke tempat tidur dan berbaring di samping Sean.


"Apa kamu tidak merindukan aku?" tanya Sean


Arini memutar bola matanya untuk menatap Sean.


"Tidak, untuk apa kangen padamu yang selalu menyakiti aku," jawab Arini


Sean tersenyum mendengar jawaban Arini, hatinya merasa sakit.


"Apa selama hidup denganku sedikitpun kamu tidak memiliki rasa cinta, kangen, sayang padaku Arini?" tanya Sean


Hmmm,


"Pertanyaan kamu sulit sekali sehingga aku perlu belajar untuk menjawabnya," jawab Arini


Sean menjadi kesal, inginnya menciptakan suasana romantis malah Arini menganggapnya candaan.


Sean yang kesal membalikkan tubuhnya sehingga membelakangi Arini sedangkan Arini hanya tertawa.


Dia pun memeluk Sean dari belakang,


"Asal kamu tau tuan suami, saat aku pergi aku sangat merindukanmu terlebih saat aku bertengkar denganmu, omelan kamu yang sangat aku rindukan," kata Arini dengan tertawa


Sean yang gemas membalikkan badannya dan mengunci Arini di bawah tubuhnya.


"Bilang saja kalau kamu merindukan hal ini," bisik Sean lalu melucuti bajunya dan baju Arini.


Sean kali ini lebih perkasa dari sebelumnya, mungkin karena vitamin yang dikonsumsinya tadi.


Suara ******* mereka memenuhi ruang kamar, ntah berapa kali Arini mendapat pelepasannya.


Merasa lelah akhirnya Sean mengakhiri pergulatannya dan tidur dengan memeluk Arini.


Pagi datang menyapa,


Arini perlahan membuka matanya, satu persatu nyawanya terkumpul kembali.


Dia merasakan berat pada tubuhnya saat menyibakkan selimut nampak kaki Sean berasa dia atas pahanya.


"Pantas berat sekali, kakinya menimpa pahaku," gerutu Arini


Dua kali Arini memindahkan kaki Sean namun kakinya selalu kembali ke paha Arini sehingga membuat Arini kesal


Dia pun menarik rambut kaki Sean sehingga Sean memekik kesakitan


Auuuuu


"Sakit," omelnya sambil mengelus kakinya


"Salah sendiri, kenapa selalu menindih pahaku," sahut Arini


"Minggir aku mau mandi dan pergi," imbuh Arini


Sean beranjak dari tempat tidur dan menyusul Arini, "Kamu mau kemana?" tanya Sean


"Luar kota," jawab Arini


"Ngapain?" tanya Sean


Arini mendengus kesal, "Mengambil barang ku, setelah dari sana nanti aku mampir kantor," jawab Arini


Takut kalau Arini meninggalkannya, Sean memutuskan ikut.


"Aku ikut," kata Sean


"Untuk apa ikut?" tanya Arini


"Berjaga-jaga saja," jawab Sean.


Akhirnya mereka pergi bersama ke hotel yang di tempati Arini, Arini kesana untuk mengambil sisa-sisa barang yang masih tertinggal.


Selama tiga jam melakukan perjalanan dan sampailah mereka.


Bola mata Sean terus memutar, dia bingung untuk apa Arini mendatangi hotel berbintang.


"Jadi selama pergi dariku kamu bersembunyi di hotel ini," kata Sean


"Iya," jawab Arini


"Aku di sana menderita sedangkan kamu di sini senang-senang," sahut Sean kesal


"Kamu pikir aku nggak kecewa dan sakit hati padamu saat itu, kamu lebih mengutamakan Amira jelek itu daripada aku istrimu," omel Arini


Mata Sean melihat di cangkir teh yang ada di meja, pikirannya menjadi kemana mana


"Ini kok ada dua cangkir teh, siapa tamu yang datang kesini? laki-laki atau cewek?" tanya Sean dengan memegang pundak Arini


Sean berusaha mengatur emosinya supaya tidak meluap meskipun hatinya sungguh kesal dan marah pada Arini.


"Mas Daffa," jawab Arini lalu menutup mulutnya


Arini menyipitkan matanya takut kalau Sean marah dan berpikiran yang tidak-tidak dengannya.


Mendengar jawaban Arini membuat Sean membolakan matanya, "Apa?" teriak Sean marah


Sean memegang tangan Arini dengan kuat, "Apa yang kalian lakukan?" tanya Sean


"Kami hanya mengobrol saja, dia yang kemarin membujukku untuk pulang," jawab Arini


Sean melepas tangan Arini, dia tidak menyangka Daffa lah yang membawa Arini pulang.


Dengan mengepalkan tangannya, "Kamu berhutang penjelasan padaku Daffa," batin Sean


Arini tau kalau Sean marah untuk itu dia mencoba meredam emosi Sean dengan memeluknya dari belakang.


"Maafkan aku," kata Arini


Sean yang mendapat pelukan dari Arini melupakan amarahnya, dia membalikan badan dan memeluk Arini.


"Baiklah namun ada syaratnya," sahut Sean dengan tersenyum licik


Lagi lagi dan lagi Sean bermain panjat pinang, Setelah selesai mereka membersihkan diri lalu check out.


"Seharusnya belum waktuku untuk pulang, aku rugi banyak karena sudah check out sebelum hari H," gerutu Arini


Sean hanya melirik Arini


"Seperti orang susah, uang 105 juta saja kenapa diratapi seperti itu," sahut Sean


Arini membolakan matanya, dia juga kesal sekali pada Sean.


"Hanya? uang 105 juta kamu bilang hanya? hello my rich husband, aku tau kamu kaya tapi jangan sombong," maki Arini


"Bukannya sombong tapi memang bagiku uang 105 juta itu sedikit sekali," sahut Sean


Arini yang tidak ingin berdebat dengan Sean memutuskan diam dengan menahan kekesalannya sedangkan Sean tersenyum puas.


Sesampainya dia di rumah Sean menurunkan Arini dan langsung menuju kantor, bukan kantornya melainkan kantor Daffa.