Teman Ranjang Billionaire

Teman Ranjang Billionaire
Kecelakaan pesawat


Seusai resepsi Sean dan Arini masuk kedalam kamar mereka. Kamar sudah dirias dengan bunga bunga oleh pihak hotel.


Mata Arini membola, kamar mereka sungguh bagus sekali, dia merasa kalau ini benar-benar malam pertama mereka.


Karena kegerahan Sean mengajak Arini mandi.


"Kita mandi bareng yuk sayang," ajak Sean


"Bentar sayang, aku mau membersihkan riasan aku dulu," jawab Arini.


Sean yang tidak bisa menunggu lama melepas semua pakaiannya, lalu dia membuka resleting gaun Arini.


"Kelamaan, nanti sekalian dibersihkan di kamar mandi saja," ujar Sean lalu menggendong ala bridal Arini.


Sean meletakkan Arini dalam bathub baru Sean membuka keran air lalu dia ikut masuk.


Sean menggosok tubuh Arini dengan lembut namun lama kelamaan tangan Sean mulai bergerilya menyusuri pegunungan kembar milik istrinya.


Sean memainkannya sehingga membuat Arini mengeluarkan suara-suara gaibnya.


"Lebih baik kita mandi sayang, masa iya mau manjat di kamar mandi malam-malam," kata Arini dengan diiringi suara gaibnya.


Sean tidak menggubris kata-kata Arini, dia memiringkan tubuh Arini supaya bibirnya juga ikut bermain.


Arini menggeliat seperti ulat yang dipanaskan, dia sungguh tidak kuat saat lidah Sean memainkan pucuk dada Arini.


Karena sudah tidak tahan Sean langsung melakukan penyatuan, nikmat yang luar biasa membuat Arini menarik rambut Sean.


"Auuuwww bisa botak kepalaku jika kamu menariknya dengan kuat," pekik Sean.


"Aahhh kamu itu nggak asik ah, orang lagi enak-enaknya menikmati rudal kamu malah dimarahin," gerutu Arini.


Sean pun terkekeh, dia pun memaju mundurkan pinggangnya sehingga Arini lagi lagi mengeluarkan suara gaibnya.


"Teruslah sayang, nikmati setiap kenikmatan yang aku berikan," bisik Sean dengan nafas yang memburu.


Arini mengangguk dengan ekspresi yang Sean suka, Sean juga meninggalkan banyak jejak di leher maupun di dada Arini.


Karena tak ingin lama-lama di kamar mandi Sean segera mengeluarkan lahar putihnya.


"Inilah malam pertama yang sesungguhnya," kata Sean.


"La kamu pikir malam malam sebelumnya bohongan," sahut Arini.


Sean hanya terkekeh, lalu mereka mandi dan melanjutkan aksi panas mereka di ranjang.


Arini dibuat keok, bahkan beberapa kali mendapatkan pelepasannya.


Seusai mengeluarkan lahar dinginnya Sean terkapar lemah di samping Arini dan dia langsung tidur.


Arini yang masih terjaga tersenyum dengan memandangi wajah Sean, "I love you my husband," gumamnya lalu mengecup kening Sean.


Kini mereka berdua tidur dengan saling peluk dengan tubuh polos di bawah selimut.


*****


Hingga subuh datang masih belum ada kabar dari Amira, ponselnya juga masih belum aktif.


Mama dan Papa segera ke bandara untuk menanyakan informasi terkait pesawat yang Amira tumpangi.


Menurut informasi, semalam pesawat yang ditumpangi Amira mengalami mati mesin sehingga pilot harus mendaratkan darurat pesawatnya di pantai namun tidak semua selamat karena saat melakukan pendaratan ekor pesawat pecah sehingga ada banyak penumpang yang terhisap keluar.


Korban selamat dan luka-luka dilarikan di rumah sakit terdekat dari lokasi jatuhnya pesawat.


Mama Amira menangis histeris, dia hanya bisa berharap kalau Amira termasuk dalam korban selamat.


"Apa tidak ada data, siapa yang selamat dan meninggal?" tanya mama Amira


"Data-datanya masih belum dikirim, mohon maaf," jawab pihak maskapai yang pesawatnya jatuh kemarin malam.


Mama dan papa meminta informasi rumah sakit mana yang menampung korban kecelakaan kemarin. Setelah mendapatkan informasi mereka bergegas memesan tiket untuk pergi ke rumah sakit tersebut.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua jam kini mereka tiba di bandara, mama dan papa Amira bergegas menuju rumah sakit yang kurang lebih memakan waktu dua jam.


Saat tiba di rumah sakit, banyak dari keluarga korban yang sudah datang.


Mama dan Papa bertanya pada resepsionis namun data-data para korban belum teridentifikasi, akhirnya mama dan papa mencari Amira diantara korban namun mereka tidak menemukan Amira di sana.


Mama menangis histeris, jangan-jangan Amira masuk dalam daftar korban meninggal.


"Tenanglah ma, papa yakin Amira termasuk dalam korban selamat," hibur papa.


Mama dan Papa mencari sekali lagi bisa saja mereka kelewatan namun lagi-lagi Amira tidak ada di sana.


**********


Sayup-sayup mata Sean terbuka karena telingannya mendengar ponselnya berdering dari tadi.


"Brengsek siapa sih yang mengganggu tidurku apa tidak tau kalau kemarin aku baru menikah," gerutunya lalu menggapai ponsel di atas nakas.


Daffa memanggil


Sedari tadi Daffa terus menghubungi Sean dan panggilan ke lima baru diangkat.


~*Ada apa~ Sean


~Aku melihat berita kalau ada pesawat jatuh dan Amira masuk dalam daftar penumpangnya~ Daffa


~Lalu bagaimana dia?~


~Entah menurut berita banyak korban yang meninggal dari pada yang selamat~ Daffa


~Ya sudah, habis ini aku ke rumah mu~ Sean


~Aku di apartemen~ Daffa


Tut Tut Tut*


Panggilan berakhir.


Sean beranjak dari tempat tidurnya lalu ke kamar mandi, setelah siap dengan pakaiannya baru Sean membangunkan Arini.


"Sayang, bangun." Tangan Sean menggoyang tubuh Arini


Perlahan mata Arini terbuka, dia kaget karena Sean sudah rapi,


"Kamu mau kemana?" tanya Arini dengan menguap


"Apartemen Daffa, pesawat yang ditumpangi Amira kecelakaan sayang," jawab Sean


Mata Arini membola, meskipun dia benci dengan Amira namun dia turut bersedih saat tau kalau Amira mengalami kecelakaan.


"Dia tidak kenapa-kenapa kan sayang?" tanya Arini


"Entahlah sayang," jawab Sean bias.


Arini menyuruh Sean bergegas ke rumah Daffa dan dia juga meminta Sean supaya selalu mengabari keadaan Amira.


"Siap boz," kata Sean lalu mencubit kecil dada Arini yang kelihatan.


"Iiihhh, sayang kok nyubit bagian itu sih," gerutu Arini


"La menyembur keluar selimut jadi membuat aku ingin manjat saja," sahut Sean.


Arini mendorong tubuh Sean


"Sana sana kasian mas Daffa nunggu lama," usir Arini.


Sean pergi dengan tertawa puas menggoda Arini.


Tak selang berapa lama Sean sampai di apartemen Daffa, memang Daffa sengaja tinggal di apartemen untuk menghindari konflik dengan mamanya.


"Bagaimana Daffa?" tanya Sean


"Entahlah, bagaimana kalau kita pergi ke sana, bagaimana pun juga Amira adalah sahabat kita dia juga pernah ada di hati kamu, mungkin saat ini dia membutuhkan kita Sean, mengingat semalam bahkan dia jauh-jauh dari negara X untuk menghadiri pernikahan kamu," jawab Daffa dengan panjang kali lebar.


Sean mengiyakan penjelasan Daffa, jauh-jauh datang hanya untuk memenuhi janji semasa remaja dulu.


"Dan aku tidak menerimanya," sahut Sean dengan menyesal.


Sean lalu menghubungi Nick supaya menyiapkan jet pribadinya.


Sean dan Nick pergi dengan Shane dan juga Nick, Sean dan Daffa sangat berharap Amira selamat.


Mereka ingin meminta maaf atas kejadian semalam yang membuat Amira menangis.


Mama dan Papa Amira menunggu keajaiban dengan berdoa.


"Amira kamu dimana nak," gumam Mama dengan menangis.


Tiba-tiba ada beberapa perawat lewat di depannya dengan salah satu korban kecelakaan pesawat lagi


"Amira," teriak Mama