Teman Ranjang Billionaire

Teman Ranjang Billionaire
Jangan manjat dulu


Tanpa mempedulikan para pedagang Daffa melajukan mobilnya, untung Daffa ahli dalam mengendarai mobil seperti pengendara dalam film fast and furious.


"Cepat Sean," teriak Daffa lalu membukakan pintu untuk Daffa dan Arini.


Putri hanya terdiam melihat mereka bertiga, dia hanya mematung. Sean yang kesal berteriak memanggil Putri.


"Woy bocil, cepat!"


Putri lalu bergegas naik mobil.


Daffa mengendarai mobil dengan gesit, dia terus fokus pada kemudinya. Mobil yang ia kendarai meliuk-liuk melewati kendaraan lainnya dalam kondisi jalan yang lumayan padat.


"Sakit sayang." Arini merintih menahan sakit


Mendengar Arini kesakitan membuat Sean cemas, "Daffa! please cepat Daffa," kata Sean dengan raut wajah ketakutan.


"Ini sudah cepat Sean, Arini bersabarlah sebentar," sahut Daffa.


Daffa tak kalah cemas, Putri yang melihatnya mengerutkan alisnya.


"Sangat terlihat jelas kalau kamu mencintainya mas," batin Putri.


Daffa mengambil ponselnya lalu memberikannya pada Putri.


"Panggil nomor itu, perintahkan pada pihak medis supaya bersiaga menyambut kita," perintah Daffa


Dengan segera Putri melaksanakan perintah Daffa, tak berselang lama mobil Daffa sudah sampai di parkiran, beberapa perawat menyambut mereka lengkap dengan brankar pasien.


Sean membawa Arini ke ruang UGD dan dokter segera memeriksanya.


Sean, Daffa dan Putri menunggu di depan ruang UGD. Saat dokter keluar mereka semua berdiri dan memberondong dokter dengan beberapa pertanyaan.


Dokter menjelaskan kalau sakit perut yang di alami oleh Arini karena kelelahan sehingga perutnya mengalami kram.


Dokter juga menyarankan kalau jangan terlalu sering mengalami kelelahan karena berdampak pada janin yang di kandung.


Sean, Daffa dan Putri masuk ke dalam ruangan begitu pula dengan sang dokter.


"Oh ya pak Sean, untuk sementara waktu jangan melakukan hubungan suami istri dulu, tunggu sampai keadaan istri anda normal kembali," pesan Dokter.


"Matilah aku," sahut sean


Semua yang mendengarnya menatap Sean, bingung dengan kata-kata Sean.


Daffa yang tau maksud Sean pun menepuk bahunya seraya berucap


"Tenang bro, nggak ada orang mati karena libur bercinta," bisik Daffa


Semua yang mendengarnya tertawa, Arini yang merasa baikan memanggil Sean.


"Ayo kita pulang, aku sudah tidak apa-apa," kata Arini


"Nggak boleh pokonya kamu harus dirawat di sini, keadaan seperti ini minta pulang," omel Sean


Dokter hanya menggelengkan kepala, sebenarnya Arini sudah boleh pulang. Namun Sean memaksa untuk dirawat karena dia tidak ingin terjadi apa-apa dengan Arini.


Malam datang dengan cepat, Daffa ingin sekali menemani Sean dan Arini tapi dia harus segera mengantarkan Putri pulang.


*******


Tiga haru pun berlalu, Arini sudah diperbolehkan Sean pulang. Di sini yang menentukan bukan dokter melainkan Sean sendiri.


Sesampainya di rumah Sean menggendong Arini untuk naik supaya dia tidak lelah naik tangga.


Setibanya di kamar, Sean meletakkan Arini di tempat tidur.


"Bagaimana kalau untuk sementara waktu kita menggunakan kamar yang berada di bawah supaya kamu tidak lelah," kata Sean


Arini langsung menyetujui ide Sean, karena memang lelah jika harus naik turun tangga.


Segera Sean memerintahkan pelayan rumahnya supaya mengemas barang barangnya dan Arini untuk dipindahkan ke kamar bawah.


"Kamarnya sempit sayang," kata Sean


"Nggak papa sayang, ini bagi aku udah luas," sahut Arini


"Memang kamar kita yang terluas di antara kamar-kamar yang ada di rumah ini" timpal Sean.


********


Sudah seminggu Sean tidak memanjat Arini dan itu menyebabkan Sean uring-uringan tak jelas bahkan anak buahnya salah sedikit saja langsung kena semprot begitu juga dengan Nick.


"Pak nanti sore bapak pulang sendiri ya, karena saya ada janji dengan orang," kata Nick meminta ijin


Sean menghentikan aktivitasnya dan menatap Nick dengan tajamnya bahkan lebih tajam setajam pisau.


"Janji ma siapa? klien?" tanya Sean


Nick menggeleng, "Saya janjian sama Vani pak," jawab Nick


Sean membolakan matanya, "Enak saja, kamu berkencan sedangkan aku harus pulang sendiri, apa kamu mau aku hempaskan dirimu dari ketinggian lebih dari seribu meter di atas samudra terdalam supaya dimakan megalodon," omel Sean


"Aku saja menahan seminggu tidak bercinta sedangkan kamu kok malah mau berkencan, enak sekali," imbuh Sean tak ikhlas jika Sean mengantar Vani pulang.


Nick menatap bos nya tersebut


"Pantas marah marah tak jelas ternyata akibat rudalnya tidak pulang kerumahnya," batin Nick


Jam pulang telah tiba, Nick mengantarkan Sean pulang.


Setibanya di rumah Sean masuk kamar dan ternyata di dalam Arini sedang ganti pakaian sehingga rudal Sean langsung bereaksi.


Sean mengusap rambutnya dengan kasar,


"Sayang, kenapa kamu membangunkan benda yang tertidur dan sekarang lihatlah," kata Sean dengan menunjuk bagian bawahnya.


Arini hanya tertawa, lalu Sean pun meminta Nick untuk menghubungi dokter kandungan yang merawat Arini, kapan dia diperbolehkan memanjat Arini kembali.


Nick yang melihat pesan dari Sean dari layar ponselnya ogah melakukan perintahnya.


"Enak saja aku disuruh bertanya seperti itu, mending aku pura-pura tidak tau," gumam Nick kemudian meletakkan ponselnya di dasbor mobilnya.


Sean jadi galau karena Nick tidak mengerjakan perintahnya,


Arrrgggggg


"Sayang," panggil Sean


"Apa?" sahut Arini


"Coba tanyakan dokter kandungan kamu kapan aku boleh memanjat kamu," kata Sean


Arini menggelengkan kepala, sungguh Sean adalah suami terlangka sedunia, sehingga wajib dilindungi supaya tidak punah.


Awalnya dia enggan melakukan perintah Sean namun melihat wajah sean yang ditekuk membuat Arini tidak tega.


Dia mengambil ponselnya di dalam tas dan segera menghubungi dokter yang menanganinaya.


Lama Arini memanggil namun tak ada jawaban sehingga membuat Sean semakin galau.


"Ulang lagi," perintah Sean


Arini mencoba menghubungi dokternya tersebut namun lagi-lagi tak ada jawaban.


Hingga yang ke tujuh kalianya baru dijawab.


*Arini : Dok saya mau tanya


Dokter : tanya apa Ibu Arin?


Arini : terkait hubungan suami istri dok, apa boleh kami melakukannya sekarang*?


*Dokter : apa Pak Sean yang menyuruh anda?


Arini. : Nggak kok dok, entah mengapa saya ingin sekali melakukan hubungan suami istri.


Dokter : Hmmm begitu, apa anda sering kram?


Arini : nggak dok,


Dokter : Ya sudah boleh berhubungan badan tapi jangan lama lama


Arini : baik dok*


Tut Tut Tut


Panggilan berakhir


Sean dengan antusias bertanya


"Bagaimana?" tanya Sean


Arini berpura-pura melemaskan diri, sambil menggeleng


"Nggak boleh sayang," jawab Arini


Sean yang kesal pun mengomel


"Awas saja akan aku cabut ijinnya," ancam Sean


Arini heran kok ada mahkluk hidup seperti Sean, "Jangan-jangan dulu mama nyidam kepiting," gumam Arini


Merasa kasian akhirnya Arini tak melanjutkan sandiwaranya


"Boleh kok sayang," kata Arini


Sean menoleh dengan pandangan tak biasa, "Benarkah?" tanya nya tak percaya


"Benar tapi jangan lama-lama pesan dokter," jawab Arini


"Berapa menit memanganya saran dari Dokter?" tanya Sean


"Ntah lah pokoknya jangan lama-lama, mungkin 30 menitan," jawab Arini


"Apa-apaan, aku libur selama seminggu dan hanya boleh manjat selama tiga puluh menit," omel Sean


Arini hanya bisa mengelus dadanya melihat monster mengamuk gak jelas


"Mau apa nggak," kata Arini


"Maulah daripada enggak," sahut Sean kesal.