Teman Ranjang Billionaire

Teman Ranjang Billionaire
Lahirnya Sean junior


Vani sungguh kesal dengan Nick bisa-bisanya dia mengatai dirinya kebo dan Babi.


"Kalau aku sepeti kebo dan Babi kamu seperti Curut," balas Vani dengan kesal


Nick hanya tertawa mendengar sebutan Curut untuk dirinya.


"Maaf sayang," sahut Nick terkekeh.


Kini pesanan Vani telah siap, mie instan lengkap dengan isiannya.


Saliva Vani mengucur deras melihat mie instan yang tersaji di meja.


Dengan segera Vani melahap mie tersebut meski masih panas.


"Pelan-pelan dong sayang, jangan buru-buru nanti tersedak Lo," kata Nick.


"Iya mas," sahut Vani


Melihat Vani yang makan dengan lahap membuat Nick tersenyum.


Setalah selesai mereka kembali ke kamar.


"Besok Keira harus tidur sendiri, aku takut kalau dia sering melihat kita lagi main panjat panjatan dia akan dewasa sebelum waktunya," kata Nick


"Betul mas," timpal Nick


"Aku akan menyewa baby sitter, supaya bisa menemani Keira," ujar Nick


"Jangan mas, kan ada aku kenapa harus menyewa pengasuh." Vani tidak setuju dengan ide Nick


"Baiklah terserah kamu sayang, asal kamu nggak capek mengurus Keira," timpal Vani.


Nick bersyukur sekali karena Vani mau mengasuh anaknya, bahkan dia ingin tangannya sendiri yang mengasuh Keira.


*********


Hari-hari cepat berlalu, kandungan Arini sudah besar. Hari-hari menjelang lahiran sang buah hati semakin dekat.


"Sayang, aku takut," kata Arini sambil memeluk suaminya.


"Takut kenapa?" tanya Sean


"Takut melahirkan," jawab Arini


Sean meletakkan ponselnya dan memiringkan badan lalu memeluk istrinya, mencoba menenangkan Arini yang merasa takut melahirkan.


"Jangan takut kan ada aku sayang," kata Sean.


"Tetap takut sayang," sahut Arini.


Sean menghela nafas, lalu mengelus perut Arini.


Sean mendekatkan bibirnya di perut Arini.


"Sayang yang di dalam bantu papa menenangkan mama ya," kata Sean


Sean berusaha menenangkan Arini lewat obrolannya dengan calon bayinya di dalam, dan Arini sedikit tenang dengan kata-kata Sean.


Melihat istrinya tertawa membuat Sean menyudahi obrolan kocaknya dengan sang jabang bayi yang masih di dalam perut istrinya.


"Ingat pesan dokter jangan stres dan takut, kasian baby kita," ujar Sean.


"Iya sayang," sahut Arini dengan tersenyum.


"Jadi kamu pilih melahirkan secara normal atau sesar?" tanya Sean


"Normal saja deh sayang," jawab Arini yakin.


Sean akan menemani Arini saat bersalin nanti supaya istrinya tidak takut saat melahirkan.


Hari ini Arini sedikit menyibukkan diri dengan baju-baju bayinya.


Kamar bayi Arini dan Sean sudah siap beberapa hari yang lalu, mereka mendesain kamar anak mereka dengan desain kamar cowok, meski mereka tidak tau nanti yang keluar cewek atau cowok.


Tiba-tiba perut Arini terjadi kontraksi, Arini mengira seperti sebelumnya namun rasa sakitnya tak kunjung hilang.


Dengan menahan sakit, Arini memanggil pelayannya.


Dan para pelayan datang menolong Arini, mereka semua membawa Arini ke rumah sakit.


Sean yang mendapat laporan dari kepala pelayan meninggalkan meeting begitu saja, sehingga membuat Nick, Brian dan kliennya ikut panik.


Tak selang beberapa lama Sean sudah sampai di rumah sakit, dia segera pergi ke kamar bersalin menemui istrinya.


Arini nampak kesakitan karena proses pembukaan, melihat sang istri kesakitan membuat Sean marah.


"Kenapa kalian hanya diam saja tanpa melakukan apa-apa!" maki Sean dengan suara yang keras.


Perawat di situ semua pada takut, memang proses melahirkan seperti itu menunggu pembukaan selesai lalu ke proses melahirkan.


Dokter yang mendapat laporan dari perawat segera datang ke ruang bersalin.


"Berapa lama menunggunya?" tanya Sean


"Ibu Arini sudah buka tujuh sebentar lagi," jawab Dokter.


Sean memegang tangan istrinya mencoba memberi kekuatan pada istrinya.


Lama menunggu akhirnya yang ditunggu-tunggu datang, suster sudah menyiapkan proses bersalin, dokter juga sudah siap-siap.


"Tarik nafas Bu," kata Dokter


Arini mencoba mengejan untuk mengeluarkan bayinya, Sean ikut memegangi tangan Arini.


"Ini semua gara-gara kamu sayang," kata Arini


"Kok bisa aku," sahut Sean


"Coba kamu tidak memanjat ku pasti aku tidak akan mengandung," timpal Arini


"Wanita aneh, bukankah kamu juga menikmatinya kenapa sekarang malah menyalahkan aku," omel Sean.


"Enak kok," ucap Arini yang membuat suster tertawa.


Arini menarik rambut Sean hingga Sean memekik kesakitan,


"Awww bisa botak aku ini sayang," keluh Sean


"Sudahlah jangan protes, aku ini kesakitan mengeluarkan anak kamu," sahut Arini dengan terus mengejan.


Ini adalah pertama kalinya Arini bersalin sehingga agak mengalami kendala.


Proses melahirkan Arini dibilang lama sehingga Arini tidak bisa lagi mengejan.


"Bu, teruslah mengejan," kata dokter panik.


"Saya sudah tidak kuat dok," kata Arini lirih.


Arini sudah kehabisan tenaga, dari tadi dia mengejan namun bayi tak kunjung keluar.


"Lakukan cara yang lain," bentak Sean dengan wajah pucat, dia sungguh ketakutan saat ini.


Dokter meminta Arini untuk mengejan dengan kuat sekali lagi, "Bu mengejan lagi ya, kalau proses bersalin lama takutnya terjadi apa-apa dengan bayinya," kata Dokter.


Sean memegang erat tangan Arini, dia mensupport istrinya supaya kuat.


Di sisa tenaga Akhirnya Arini mengejan dengan sangat kuat dan Alhamdulillah bayi Arini keluar.


Semua nampak senang, tapi hal yang tidak baik terjadi,


Bayi Arini tidak menangis sehingga membuat dokter ketakutan lagi.


"Kenapa tidak menangis dok?" tanya perawat dengan takut.


"Entahlah sus, mungkin karena proses melahirkan yang terbilang lama," jawab Dokter


Dokter melakukan apa yang bisa dilakukan, mendapat tatapan maut Sean membuat dokter tersebut mengucurkan keringat dingin.


Kalau sampai ada apa-apa dengan anak mereka pasti tamat sudah karirnya di rumah sakit ini.


Arini yang melihat tim dokter bingung membuat nya menangis.


"Apa anak kita tidak selamat sayang," kata Arini dengan menangis. Dia tidak bisa membayangkan kalau anak yang selama sembilan bulan dia kandung pergi meninggalkannya.


"Tidak, dia hanya tidur," jawab Sean asal.


Sean tidak ingin membuat Arini bersedih, bagaimanapun juga tim dokter harus bertanggung jawab jika ada apa-apa dengan anaknya.


Karena masih saja diam membuat dokter pasrah.


lalu dia membawa bayi mungil Arini di dada Arini.


Dokter berharap mungkin dengan seperti ini bayi Arini akan menangis dan benar saja suara tangisan bayi menggema di seluruh ruangan,


Sean nampak menangis melihat bayinya menangis dengan keras.


"Terima kasih sayang, kini aku jadi ayah," kata Sean lalu menggendong bayinya.


Dokter dan perawat nampak lega, hampir saja mereka kehilangan pekerjaan mereka jika terjadi sesuatu dengan bayi Sean dan Arini.


Kini Arini dan bayi kecilnya sudah dibersihkan, mereka dipindahkan ke ruang perawatan.


Keluarga Sean yang mendengar kelahiran anak Sean pun segera memutusakan untuk pulang secepatnya.


Kini Arini dan Sean sangat bahagia dengan kelahiran putra mereka yang pertama


"Jadi siapa namanya?


Hayo-hayo ngasih ide, siapa nama untuk anak Sean dan AriniπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚