
Di bab ini aku mau bahas semua tokoh ya kak, Vani Nick, Daffa Putri, Shane Amira dan tak lupa pasangan tersomplak Arini dan Sean.
Aku minta maaf kalau semakin kesini semakin bulet seperti sinetron yang nggak ada habisnya.
Mohon dimaklumi ya kak, terkadang otaknya bingung memunculkan konflik apa supaya kakak2 semua tetap suka.
Jangan lupa ya kak, like, koment, hadiah dan juga Vote nya.
Terima kasih kak 😘😘😘😘
Hari ini rencananya Arini ingin pergi ke salah satu pusat oleh-oleh Krisna, dia ingin berbelanja kembali dan sesuai janji Sean kalau dia ingin menunggu Arini di mobil.
"Belanja lah sepuasnya nanti uang aku transfer," kata Sean.
"Siap Boz, eh salah sekarang bos nya kan aku," sahut Arini dengan terkekeh.
"Jangan mentang-mentang semua milik kamu kamu bisa semena-mena sekarang, ingat setelah Ijab Qabul uang yang masuk rekening itu uangku bukan uangmu," timpal Sean.
"Baiklah baiklah lagipula aku nggak begitu butuh uang itu, yang aku butuhkan hanya dirimu dan cinta kasihmu," ucap Arini.
Sean yang terharu menjatuhkan bibir di kening Arini, dia bersyukur sekali memiliki istri yang nggak doyan uang meskipun memiliki kaki bebek namun bagi Sean Arini tetap yang paling sempurna.
Biar kata seperti nenek sihir bagi Sean Arini seperti Britney Spears, biar kata kelakuan seperti Buaya bagi Sean Arini tetap seperti Luna Maya, begitulah cinta Sean buat Arini sungguh besar pake sekali.
Arini asik memilih milih pakaian, dia sungguh lapar mata, semua dia beli tanpa memikirkan apapun berbeda dengan dirinya dulu beli baju satu saja mikir ribuan kali.
Tiba-tiba saat sedang mengambil baju ada sebuah tangan yang juga hendak mengambil baju yang Arini pilih.
"Aku dulu yang milihnya," kata Arini tak mau kalah.
Lelaki tersebut terlihat diam lalu tersenyum, "Kita bertemu lagi," ucapnya yang membuat Arini mengerutkan alisnya.
Memori Arini berkelana saat pria tersebut bilang kalau bertemu lagi dengan Arini sedangkan Arini sungguh asing dengannya.
"Aku pria kemarin yang kamu tabrak di hotel," katanya.
"Aaaaaa iya, maaf-maaf aku lupa soalnya yang ada di otakku hanya wajah suamiku," sahut Arini. " Yang menjengkelkan," imbuhnya dalam hati.
Pria tersebut tersenyum, "Kelihatannya kamu sangat mencintai Sean," ujarnya.
Arini bingung menatapnya, bagiamana bisa dia tahu kalau suaminya adalah Sean, "Bagaimana kamu tahu kalau suamiku adalah Sean?" tanya Arini
"Kemarin aku kan sempat melihatnya, siapa yang tidak tau Sean, seorang pebisnis hebat ditambah lagi wajah tampannya yang sangat digandrungi para wanita membuat aku sungguh iri padanya," jawab Pria tersebut.
Mereka saling berkenalan, nama pria tersebut adalah Marcel. Pria keturunan Indo dengan Tionghoa jadi dia memiliki wajah-wajah mandarin.
Marcel menemani Arini berbelanja sedangkan di mobil Sean juga ada meeting online dengan para petinggi dan juga Nick di Belanda.
Merasa sudah lelah Arini memutuskan untuk menyudahi belanjanya, sedangkan Marcel membantu Arini membawa barang belanjaannya ke kasir.
"Kamu belanja banyak sekali, sungguh enak ya jadi istri seorang Sean kapan saja setiap saat bisa berbelanja sesuka hatinya," ucap Marcel
"Jangan salah kamu mas, aku bukan wanita yang suka menghambur-hamburkan uang suami, jika bukan karena ngidam aku juga ogak berbelanja banyak begini," sahut Arini.
Marcel melihat kemiripan Arini dengan adiknya yang sudah meninggal, adiknya juga tidak suka menghambur-hamburkan uang, meski dia selalu memberi uang yang cukup banyak untuk adiknya.
Marcel terhanyut akan kenangan tentang adik yang amat dia cintai, kenangan tersebut datang merasuk dan menyeruak dalam pikiran Marcel, kerap kali dia sering ingat akan adiknya yang meninggal setahun yang lalu.
"Hey, malah melamun." Arini menepuk bahu Marcel
"Maaf Arini, kamu mengingatkan aku akan adikku yang meninggal setahun yang lalu," ujar Sean.
Arini turut bersedih dengan apa yang menimpa Marcel ingin sekali menemani Marcel namun dia harus kembali karena pasti Sean menunggunya.
"Maaf Marcel aku harus segera kembali takut Sean mencari ku," kata Arini lalu berjalan dengan membawa barang belanjaannya di troli.
Marcel menatap punggung Arini yang semakin menjauh, dia tersenyum miring.
"Waktunya balas dendam Sean," gumam Marcel dengan tertawa.
*********
Di Indonesia pukul sepuluh yang berarti di Belanda masih pukul empat pagi. Sean membangunkan Nick supaya ikut meeting dengannya, meeting dimulai pukul delapan pagi yang bearti jam dua dia sudah standby di depan laptop dengan menahan kantuk.
Vani masih memejamkan mata di bawah selimut. Semalaman Nick melakukan DP pada Vani lagi entah sudah berapa kali Vani di DP.
Ternyata hal itu membuat candu buat Vani maupun Nick.
Dua jam kemudian Vani perlahan Vani membuka matanya, dia terkejut saat melihat sampingnya tidak ada Nick.
Dengan segera Vani beranjak dan dia lega saat melihat Nick di depan layar laptopnya.
"Kamu bangun pagi sekali?" tanya Vani
"Iya ada meeting, jam delapan waktu indonesia dan jam dua di sini," jawab Nick.
"Astaga mas, kejam sekali sih pak Sean membangunkan orang jam dua pagi untuk meeting," sahut Vani.
Nick hanya tersenyum bukan masalah kejam atau nggak tapi karena tanggung jawab.
Nick adalah seorang tangan kanan jadi kalau ada apa-apa dia yang harus maju.
Vani pergi membersihkan diri dan beberapa saat kemudian keluar dengan handuk kimononya.
Melihat Vani dengan handuk kimono dan rambut basahnya membuat Nick bernafsu, dia berkali-kali menelan salivanya.
"Kita boleh nggak ya nikah lewat video call?" tanya Nick dengan memeluk Vani dari belakang bahkan tangan Nick sudah bergerilya kemana-mana.
"Kan siapa tau boleh sayang, sungguh rudal bawahku sudah tidak sanggup menunggu lama, dia ingin sekali masuk menerobos ke dalam sarangnya," timpal Nick.
"Sabar ya," ucap Vani.
Nick menidurkan Vani ke tempat tidur, seperti hari-hari kemarin dia mencumbu Vani dengan liar. Puas mencumbu Vani kini dia harus tersiksa dengan rudalnya yang siap diluncurkan.
Solo Karir adalah solusi tepat menurut Nick, bahkan sehari dia bisa bersolo karir sebanyak tiga sampai lima kali, sungguh up normal untuk ukuran orang biasa.
Hari ini rencananya Vani dan Nick pergi ke Prancis sebelum mereka kembali ke Indonesia.
Kurang puas hanya seminggu di Eropa namun pekerjaan Nick tidak bisa ditinggal lama, untungnya Sean berubah pikiran dan berbaik hati memberikan uang kembalian pada Vani karena uang jatah liburannya masih sisa banyak.
**********
Daffa dan Putri semakin gencar menaklukan hati mama Daffa, dan restu pun sudah dikantongi sekarang.
"Mama menyerah, apa yang sudah Putri lakukan benar-benar membuat mama tersihir, kamu benar dia tulus mencintai kamu bukan demi harta semata," Ucap mama
Daffa yang bahagia memeluk mamanya, dia sungguh bahagia karena mamanya telah merestui wanita pilihannya.
"Segera resmikan sebelum mama berubah pikiran lagi dan sebelum mama kembali," saran mama. "Kamu telah membuat mama menunda keberangkatan mama," imbuh mama lagi.
Daffa tak henti-hentinya memeluk sang ibunda, meski sempat berucap kasar pada mamanya namun Daffa tetaplah Daffa yang jauh di lubuk hatinya dia sangat mencintai mamanya.
"Bicarakan dulu dengan ayah Putri dia setuju apa tidak mengingat Putri masih di bawah umur," kata mama.
"Iya ma," sahut Daffa.
Keesokan harinya, Daffa menemui Putri di ruangannya, dia membawa buket mawar putih dan merah di tangannya.
Tentu hal ini membuat Putri kaget, hari valentine masih lama kenapa Daffa memberinya buket mawar dengan dua warna.
Kenapa Daffa memilih dua warna untuk satu buket mawar?
Alasannya karena mawar merah adalah lambang keromantisan, simbol keinginan kuat Daffa untuk menjaga Putri dan menjadikan Putri seorang yang sukses sedangkan warna mawar putih melambangkan suci dan tulusnya cinta Daffa untuk Putri selain itu hadiah pada Putri karena ketulusan cinta Putri bisa meluluhkan hati keras mama Daffa.
"Untuk yang terkasih, satu buket bunga mawar dengan warna yang berbeda," bisik Daffa.
Putri sangat terharu, dia langsung memeluk pria di depannya dan langsung saja menyambar bibir kekasihnya tersebut.
"I love you mas, i love you so much," bisik nya dengan mata yang basah karena bahagia.
"I Love you too, nothing gonna change my love for you," sahut Daffa.
Mereka berpaut lagi, dan tiba-tiba suara Shane mengagetkan mereka.
"Waooooo, maaf maaf aku masuk di saat yang tidak tepat," kata Shane lalu menutup pintu ruangan Putri.
Daffa dan Putri melanjutkan kembali aksi mereka setelah terjeda karena kedatangan Shane.
**********
Setalah melihat adegan Daffa dan Putri Shane menjadi murung, dia sangat merindukan Amira. Setalah pulang dari menjenguk Amira dulu hanya beberapa kali Amira menghubunginya setalah itu Amira tidak pernah menghubunginya lagi.
Pesan dari Shane juga tak di balas dan akhir-akhir ini malah pesan Shane hanya centang satu.
"Amira, Amira, Amira," gumamnya dengan memanggil nama Amira.
Shane berharap seperti yang ada di film-film jika menyebut nama tiga kali orang yang dipanggil namanya akan datang dan berdiri di depan orang yang memanggil namun berbeda dengan situasi Shane yang tidak mungkin Amira datang.
Puas dengan lamunannya, Shane menyibukkan diri kembali. Dia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya supaya bisa pulang cepat karena ada yang ingin dia lakukan setelah bekerja.
Sore hari pun tiba dengan cepat, jam empat Shane sudah menyelesaikan pekerjaannya, dia pamit pada Daffa untuk pulang terlebih dahulu.
Betapa kagetnya Shane saat keluar kantor dia melihat Amira tersenyum padannya. Berkali-kali Shane mengucek matanya karena dia takut kalau itu hanya bayangannya saja namun Amira tetap di posisinya dengan menatap Shane.
Seperti dalam film-film Shane menghampiri dengan berlari, setelah pas di depan Amira dia nampak gugup.
"Amira," sapa Shane
"Halo Shane," sapa Amira balik.
Melihat Shane sangat bersemangat saat bertemu dirinya membuat Amira menggodanya.
"Oh ya mana Daffa? aku kesini untuk menemuinya," tanya Amira yang membuat Shane terkena mental.
Shane nampak murung, dia berfikir kalau Amira benar-benar mencari Daffa.
Amira tersenyum puas karena berhasil membuat Shane merubah ekspresi wajahnya.
"Kamu mencari Daffa ya?" tanya Shane balik
Amira mengangguk dan semakin membuat patah hati Shane.
Baru kusadari cintaku bertepuk sebelah tangan
Kau buat remuk seluruh hatiku
Mungkin lirik lagu itu menggambarkan hati Shane saat ini saat Amira mengerjainya.
"Pak Daffa di dalam masuklah, aku mau pulang dulu," kata Shane lalu membalikkan tubuhnya.
Tiba-tiba Amira tertawa sehingga membuat Shane membalikkan badannya lagi.
"Aku bercanda, aku kesini karena rindu padamu Shane," kata Amira