Teman Ranjang Billionaire

Teman Ranjang Billionaire
Kedinginan


Vani menatap lekat pria yang sedang berjongkok di depannya, matanya berkata bukan karena sedih melainkan dia sungguh terharu akan surprise yang diberikan padanya.


Dengan air mata yang jatuh Vani menerima lamaran Nick


"Yes, yes, i Will pak Nick," kata Vani


Nick memakaikan cincin di jari manis Vani setelah itu dia berdiri dan memeluk Vani.


Terdengar suara tepuk tangan riuh dari pengunjung restoran, ada juga dari mereka yang ikut menitikkan air mata, mereka dapat merasakan getaran dari kebahagian Vani.


"Mulai sekarang kamu adalah milikku dan selamanya akan menjadi milikku," bisik Nick dengan mengeratkan pelukannya.


"Iya mas, mulai detik ini aku adalah milikmu," sahut Vani.


Puas dengan acara peluk memeluknya, Nick mengeluarkan kotak lagi yang isinya adalah sebuah kalung dengan bandul hati meski tidak seperti milik Viona.


"Maaf tidak seperti yang kamu minta tapi bandulnya sama-sama hati. Ini adalah simbol hati aku, mulai saat ini kamulah penjaganya, jadi jangan dihilangkan harganya lumayan mahal," ucap Nick yang membuat Vani kesal di akhir kalimatnya.


Vani menatap Nick dengan tajam sedangkan Nick hanya terkekeh, lalu dia pun memakaikan kalung itu pada leher Vani.


Dan didepan banyak orang Nick menyambar bibir Vani sehingga lagi-lagi membuat para pengunjung lain riuh.


Vani hanya bisa pasrah dan menerima dengan lapang perlakuan Nick.


Setelah acara lamarannya selesai, Nick menuntun Vani duduk di meja mereka. Pelayan segera datang dan menyodorkan buku menu. Vani yang melihatnya pun mengerutkan alis pasalnya makanan yang ada di dalam menu asing baginya.


"Mas Nick nggak ada nasi goreng? atau ayam?" tanya Vani.


Nick tertawa dia gemas sekali, ini pertama kalinya Nick mengajak Vani ke restoran western, makanan di sini semua memang makanan khas negara barat.


Namanya pun menggelincirkan lidah.


"Ini ada makanan khas Austria Wiener Schnitzel, bahan dasarnya ayam," jawab Nick.


Vani akhirnya memilih makanan ini, minumnya dia meminta pada Nick untuk memilihnya bagi Vani asal segar saja udah cukup.


Setelah menentukan makanan mereka, pelayan kembali masuk untuk menyiapkan makanan. Tak selang beberapa lama makanan datang, Vani membolak balik makanan yang ada di piringnya.


"Ya ela mas, ini kan chicken katsu yang terkenal di HokBen," kata Vani.


"Iya mirip," sahut Nick


"Gitu namanya membuat lidahku tergelincir sehingga aku tak kuasa mengatakannya," timpal Vani dengan terkekeh


Nick hanya tertawa melihat kekasihnya tersebut, setelah makan di restoran Vani meminta Nick untuk mencarikan makanan lain kerena dia masih lapar.


"Kalau masih lapar kenapa nggak bilang kan bisa memesan makanan lain?" tanya Nick dengan sesekali melirik Vani yang duduk di sampingnya.


"Aku bukan pecinta western, lagipula lidahku lidah Indonesia mana cocok makan makanan orang bule," jawab Vani.


Nick hanya tersenyum mendengar jawaban Vani lalu dia pun membelokkan mobil di restoran biasa namun Vani meminta Nick makan di pinggiran jalan saja,


"Lebih baik di restoran saja," kata Nick


"Nggak mas, aku nyidam yang di pinggiran jalan," sahut Vani.


"Belum aku apa-apakan masak udah ngidam aja," goda Nick


Vani yang kesal membogem lengan Nick, "Maksudnya ngidam itu pengen banget mas," sahut Vani.


Tak selang lama mobil Nick sudah menepi, banyak pedagang kaki lima yang berjejer menjajakan jualan mereka.


Mereka berdua turun dan memesan dua porsi bakso lalu mereka mencari tempat duduk yang beralaskan tikar.


"Kenapa pesan dua, aku sudah kenyang," kata Nick


"Daripada mas Nick ngiler lihat aku makan," sahut Vani dengan tertawa.


Setelah makan mereka memutusakan pulang, "Aku nggak mampir ya, titip salam untuk ibu dan ayah," ucap Nick. "Besok aku akan mengenalkan kamu pada orang tua ku, jadi siap siap ya," imbuh Nick


Vani hanya mengangguk, tanpa aba-aba Nick mencium bibir Vani lagi karena takut kalau ada yang lihat sehingga tak lama ciuman mereka terurai.


Hari ini Daffa akan pergi keluar kota untuk meninjau tempat, karena rencananya Daffa ingin membangun hotel di daerah yang berhawa dingin tersebut.


Awalnya dia akan pergi dengan Shane namun karena Shane ada jadwal lain yang tak kalah penting akhirnya Daffa pergi dengan Putri.


Dua jam berlalu akhirnya mereka sampai di lokasi. Tak disangka lokasi tempat yang akan di bangun hotel memiliki pemandangan yang sangat indah.


"Apa kamu bisa menggambar eksterior hotel dengan view seperti ini?" tanya Daffa


Putri tersenyum, "Insha Allah bisa pak kalau hanya eksteriornya saja, kebetulan saya dulu seringkali ngotak atik sebuah aplikasi untuk menggambar, coba nanti saya download lagi," jawab Putri.


"Baik lah," sahut Daffa


"Tapi untuk interior maupun RAB nya pak Daffa tetap membutuhkan seorang arsitek handal," timpal Putri.


"Iya tapi untuk proyek lima tahun mendatang kamulah Arsiteknya," kata Daffa


Putri tersenyum dengan mengangguk.


Karena view yang sangat indah, Putri dan Daffa berjalan lumayan jauh dari mobil mereka.


Tiba-tiba hujan turun dengan deras sehingga membuat baju Daffa maupun Putri basah, Daffa dan Putri berlari menuju mobil mereka yang letaknya lumayan jauh dari tempat mereka sekarang.


Hujan yang turun sangat deras membuat pandangan jadi pendek selain itu sangat berbahaya jika berkendara karena jalan yang naik turun dan juga banyak tikungan tajam.


"Kita disini sebentar daripada berbahaya," kata Daffa


"Baik pak," sahut Putri


Karena suhu dalam mobil yang semakin rendah membuat Putri maupun Daffa kedinginan.


Putri nampak pucat, bahkan bibirnya sudah membiru,


"Put," panggil Daffa


Putri tidak merespon panggilan dari Daffa, melihat kondisi Putri yang kedinginan Daffa nekad menerobos hujan untuk mencari penginapan atau sejenisnya.


Tak lama kemudian, Daffa melihat ada motel, dia pun segera masuk dengan menggendong Putri yang hampir tak sadarkan diri.


"Cepat beri kami kamar," teriak Daffa dengan panik tingkat dewa, resepsionis laki-laki memberikan kunci pada Daffa.


Segera Daffa berlari menuju kamar, dia menidurkan Putri dengan pelan-pelan.


Mau nggak mau Daffa melepas pakaian Putri, lalu dia membungkus Putri dengan selimut,


"Put bangun Put," kata Daffa


Dia mengambil air hangat lalu mengambil sapu tangannya yang juga basah untuk mengompres Putri.


Daffa mengompres dada, leher dan juga pangkal paha Putri secara bergantian.


"Maafkan aku, telah melihat tubuhmu namun aku tidak punya pilihan," batin Daffa.


Tak selang lama Putri sadar,


"Syukurlah Put," kata Daffa.


Lalu dia pun melepas pakaian basahnya dan menggunakan handuk kimono yang disediakan motel.


Dia juga membuat minuman hangat untuk Putri.


"Pak dingin sekali," kata Putri lirih.


"Iya, sebentar lagi suhu tubuh kamu pasti akan normal," kata Daffa.


Melihat Putri yang masih menggigil membuat Daffa memeluk Putri, siapa tau dengan dipeluk Daffa Putri akan merasa lebih hangat.


"Sial kenapa malah bangun," batin Daffa.