Teman Ranjang Billionaire

Teman Ranjang Billionaire
Awas kalian!


Dokter dan suster sudah dag dig dug, jantung mereka memompa darah dengan sangat cepat bahkan keringat dingin mulai keluar membanjiri kening mereka masing-masing.


Bahkan suster ada yang sampai gemetaran melihat wajah Sean yang penuh dengan air mata dan kilatan kemurkaan.


"Lihatlah kalian telah gagal menyelamatkan istriku, lalu bagiamana nasibku sekarang," teriak Sean dengan memegang pelipisnya.


Terdengar isak tangis Sean yang membuat para dokter iba padanya.


"Maafkan kami pak, mungkin ini kehendak dari yang di atas kami hanya perantara," ucap Dokter dengan menyesal.


"Aku tak butuh maaf mu yang aku butuhkan adalah istriku," maki Sean dengan suaranya yang menggelegar.


"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin pak, bahkan kami telah memindahkan istri anda kemari yang artinya keadaanya semakin membaik tapi kenapa sekarang bisa meninggal kami juga tidak tahu, kembali lagi cabut nyawa bukan wewenang kami," ungkap Dokter.


"Seharusnya kalian memantau keadaan istriku tanpa ditinggal," maki Sean


Sean dan para dokter terus berdebat, hingga selimut yang digunakan untuk menutupi tubuh Arini jatuh di lantai.


Semua mata tertuju pada Arini, dengan mendesah dan mengelus keningnya yang pusing Arini berucap


"Kalian berisik sekali, mengganggu aku yang sedang istirahat," kata Arini


Sean terkejut dan menatap Arini.


"Sayang kamu jadi hantu?" tanyanya


Arini yang baru sadar ingin pingsan kembali karena pertanyaan konyol Sean.


Masih sangat lemah, Arini terpaksa menatap kesal suaminya tersebut. Istri baru sadar bisa-bisanya di bilang hantu.


"Apa kamu ingin aku mati?" tanyanya lirih.


Sean pun menggeleng bagaimana bisa dia menginginkan Arini meninggal.


Para Dokter dan perawat segera mengecek keadaan Arini.


"Kelihatannya ketiga tuan muda tadi telah mengerjai temannya," batin Dokter dengan tertawa plus kesal.


Dokter menyuntikkan obat pada Arini, dan juga mengganti infus yang sudah habis.


"Keadaan istri anda baik-baik saja pak, semuanya membaik sekarang," kata Dokter lalu pamit keluar yang diikuti para suster yang kesal karena kejailan para bos perusahan ternama.


"Mereka ada-ada saja bagaimana bisa ngeprank temannya yang berimbas pada kita semau," kata Suster yang kesal plus ingin tertawa.


"Iya, aku tadi sampe bergetar karena takut," sahut lainnya.


Mereka semua sangat lega ternyata tadi adalah prank, untunglah Arini tidak meninggal coba kalau dia meninggal sudah dipastikan mereka akan menganggur hingga dapat pekerjaan yang baru.


Di sisi lain ketiga pria dewasa ini yang tak lain Daffa, Nick dan juga Shane tertawa ngakak di dalam mobil.


Setelah dokter datang mereka memang seger kabur untuk menghindari amukan dari Sean.


"Kamu lihat nggak dia menangis sampai terisak, aku nggak percaya seorang Sean menangis bahkan sampai terisak. Menyesal aku kenapa tidak aku video saja tadi dan aku unggah pasti akan jadi hot topic di seluruh dunia," kata Shane.


"Iya, yang nggak habis pikir bisa-bisanya saat duka dia masih memikirkan panjat memanjat," sahut Daffa dengan tertawa.


Ketiga lelaki ini terus tertawa sampai perut mereka kaku.


"Sudah sudah, habis ini tamatlah riwayatku, pasti pak Sean memanggilku," kata Nick dengan loyo.


"Aku sarankan jangan menemuinya saat ini, mending kamu alasan sibuk dengan urusan kantor daripada kamu dihajar habis-habisan," pesan Shane.


Nick mengangguk lalu melanjutkan aksi tertawa mereka.


Semua ini berawal dari ide Shane,


Flashback


Nick yang sudah bangun dahulu pulang dan hendak pergi ke kantor, namun Daffa menelpon tanya keadaan Sean, entah mengobrol apa hingga Nick, Daffa dan Shane janjian lagi bertemu di rumah sakit.


Dokter yang merawat Sean mengatakan kalau keadaan Sean sudah membaik. Lalu mereka pergi ke ruang ICU untuk melihat keadaan Arini.


Beberapa suster melepas beberapa alat yang menempel di tubuh Arini, Daffa pun bertanya kenapa semua dilepas, para suster menjelaskan kalau keadaan Arini sudah membaik untuk itu dia tidak memerlukan alat tersebut.


"Berhubung suaminya belum bangun, saya pindahkan tanpa persetujuannya ya pak," kata Suster.


Daffa mengangguk, dia memerintahkan memindah Arini keruang perawatan VVIP terbaik di rumah sakit tersebut.


Meskipun Daffa tidak memerintah mereka, mereka sudah tahu dan paham betul ruang perawatan Arini.


Mereka bertiga mengekor suster yang membawa Arini ke ruang perawatan.


Daffa menatap Arini, "Cepatlah sadar, jangan buat kami khawatir padamu," kata Daffa dengan mengusap rambut Arini.


Ehem, ehem, Shane berdehem.


"Sudah jangan lama-lama nanti CLBK lagi kasian Putri," oceh Shane yang membuat Daffa melemparkan tatapan mautnya pada assiten laknat tersebut.


"Tidak, rasa cintaku padanya sudah mati, kini tinggal rasa sayang saja. Seperti rasa sayang kakak untuk adiknya," sahut Daffa.


Suasana hening terjadi diantara mereka, hingga ide Shane membuat semua mengangguk.


"Bagaimana kalau kita kerjain pak Sean," ide Shane.


"Boleh," sahut Daffa dan Nick setuju.


"Mau dikerjai apa?" tanya Daffa


"Kita berakting saja si kaki bebek ini meninggal, pasti seru melihat ekspresinya," jawab Shane dengan tertawa.


Nick tampak kurang setuju karena pasti Sean akan menghajarnya habis-habisan.


"Tapi....," belum sempat melanjutkan kata-katanya Shena menyela.


"Sudahlah Nick kamu ini nggak seru, nggak-nggak kalau dia memecat dirimu, kamu kan kaki tangan Sean yang teruji berkualitas sempurna," bujuk Shane supaya Nick ikut bergabung.


Nick nampak berfikir, akhirnya dia menyetujui ide partner bisnisnya tersebut dengan hati was was.


Kini mereka menyiapkan semuanya, Shane menutupkan selimut hingga menutupi wajah Arini.


"Ingat aktingnya yang bagus ya, biar dia percaya dan tak lupa tahan tawa, bila perlu tahan napas," kata Shane dengan tertawa.


Daffa dan Nick hanya mengangguk mengikuti perintah tuan koordinator.


Lama mereka menunggu, Sean tak kunjung mencari Arini, hingga Shane pamit ke mobil sebentar untuk mengambil ponselnya yang tertinggal dan setelah kembali dia bertemu Shane yang nampak bingung dan kesal.


Flashback off


Daffa dan Shane mengantarkan Nick ke kantor Sean terlebih dahulu baru ke kantor mereka.


Nick sebenarnya membawa mobil tapi kunci mobilnya ketinggalan di ruang perawatan Arini jadi dia meminta Shane dan Daffa untuk mengantarnya ke kantor karena dia tidak berani untuk mengambil kunci mobilnya.


********


Sean menciumi tangan Arini dengan menangis, dia sungguh terharu karena Arini tidak jadi meninggal.


"Aku sungguh frustasi saat mereka bertiga berkata kalau kamu telah meninggal sayang," kata Sean dengan air mata yang jatuh.


Melihat Sean menangis membuat Arini terharu, baru kali ini dia melihat Sean menangis, tangan Arini tergerak untuk mengusap air mata Sean yang jatuh.


"Jangan menangis, kamu jelek sekali saat menangis," kata Arini dengan lirih.


Sean mengangguk lalu mengecup kening Arini, dia lega sekarang, meski hatinya masih kesal sekali dengan teman-temannya.


"Awas kalian!"