
"Apa kamu tidak bisa menemui Amira sendiri Sean?" tanya papa Arini
"Mohon maaf pak, kalau Sean harus menemui Amira sendiri saya tidak mengijinkan," sahut Arini
Papa Amira menatap Arini dengan lekat tersirat kebencian yang mendalam pada Arini.
"Tapi apa tidak merepotkan dirimu Arini?" papa Amira mencoba bernegosiasi dengan Arini
Dia terus membujuk Arini dengan berbagai macam hal namun Arini tidak mudah dibujuk.
"Anda terus saja membujuk saya, apa tujuan anda sebenarnya tuan, jika hanya butuh Sean untuk membujuk Amira kenapa saya tidak boleh iku," ucap Arini yang membuat papa Amira tak berkutik.
"Brengsek," umpat papa Amira dalam hati.
Mau nggak mau Arini ikut, sepanjang perjalanan keheningan yang menyelimuti Arini dan Sean.
Arini sungguh tidak ikhlas jika ada wanita yang dekat-dekat dengan Sean, apa dia sudah mulai jatuh cinta dengan Sean? lalu bagaimana sumpah bucin yang dulu ia ucapkan?
Entahlah, lagipula sekarang ada benih hasil panjat pinang Sean.
Setibanya di rumah Amira, Sean dan Arini bergegas masuk ke dalam kamar.
Keadaan Amira sangat kacau, rambut acak acakan begitu pula dengan kamarnya yang seperti kapal pecah.
Saat Amira melihat Sean dia sangat senang,
"Sean," Panggilnya lalu berjalan mendekat
Amira langsung saja memeluk Sean, Arini yang melihatnya pun jadi kesal.
"Aku rindu pelukan hangat mu Sean,"kata Amira lirih
Sean berusaha melepas pelukan Amira namun Amira tak mau, bahkan dia semakin erat memeluk Sean.
Arini yang sedari tadi kesal dengan Amira berusaha melepas pelukan Amira.
"Amira dia suamiku, jaga batasan mu!" seru Arini
Dengan susah payah Arini dan Sean melepas pelukan Amira.
"Dia milikku Arini!" teriak Amira
Arini dengan posesifnya, memeluk Sean, "Om tante kenapa anda hanya jadi penonton drama kami. Tidak kah ada niatan untuk menasehati anak kalian menyesal saya mengijinkan Sean datang kemari," maki Arini
Melihat orang taunya dimaki, Amira tidak terima dia pun menarik rambut Arini sehingga Arini memekik kesakitan.
"Lepas Amira!" seru Sean
Bukannya dilepas, Amira malah semakin menarik rambut Arini dengan kencang.
"Kenapa kalian diam saja, kalau sampai rambut istriku botak akan aku tuntut Amira," teriak Sean sambil mencoba melepas tangan Amira.
Arini yang merasa geram, menarik tangan Amira dan setelah Arini posisinya bisa membalas Amira, Arini gencar melakukan pembalasan.
Dia menarik rambut Amira balik bahkan pembalasan Arini lebih kejam.
"Berani menarik rambutku lagi, aku buat botak rambutmu," kata Arini
"Sudah Arini sudah, maafkan Amira." Mama Amira memohon pada Arini
Melihat mama Amira yang sudah menangis membuat Arini melepas tangannya.
"Kalau bukan mama kamu, nggak aku kasih ampun, lain kali jangan membangunkan singa yang sedang tertidur," kata Arini
Sean yang melihatnya tersenyum, "Dia sungguh wonder women," batin Sean
Mama Amir memeluk Amira, dia sungguh tak menyangka anaknya berubah jadi begini. Cinta buta membuat Amira dari wanita yang lembut menjadi wanita gila dan itu membuat Sean kecewa.
"Aku benar-benar kecewa Amira, aku selalu mengagumi kelembutan mu. Tapi sekarang rasa kagum ku hilang yang ada malah rasa benci. Untuk om dan Tante mulai sekarang jangan libatkan saya lagi, baik Amira mau gantung diri, mau nyebur sumur mau mengiris tangannya saya sudah tidak peduli." Lalu Sean mengajak Arini keluar dari kamar Amira
Mama dan papa memeluk anaknya dengan erat, Amira hanya menangis, sekarang dia tidak hanya kehilangan cinta namun dia juga kehilangan sahabat yang amat sangat menyayanginya.
Sepanjang perjalanan Arini memegangi kepalanya yang masih sakit karena tarikan Amira tadi.
"Masih sakit?" tanya Sean
Sean hanya tersenyum, pemikiran Arini memang logis.
"Kamu hebat Arini," puji Sean
"Hebat lah, dari kecil ayah selalu berpesan padaku kalau jangan lemah, jika ada yang menyakitiku aku harus membalasnya asal aku nggak salah. Jadi kalau kamu menyakitiku aku pun akan membalasnya, aku nggak mau melow." sahut Arini
Sean menatap Arini lekat, dulu dia begitu sangat mencintai Amira karena sikap manja dan kelembutan Amira sekarang sebaliknya dia mencintai Arini karena ketegaran dan sikap yang tak mau ditindas.
"Fokus ke depan, nanti nabrak lo," kata Arini dengan terkekeh
Sean segera mengalihkan pandangannya, dia menatap jalan lalu memfokuskan pikirannya.
Tak selang lama mobil Sean memasuki halaman rumahnya.
Saat di kamar, Sean memeluk Arini namun tiba-tiba Arini merasa mual.
Arini melepas pelukan Sean dan bergeser," kalau ingin memelukku lepas dulu bajumu," kata Arini
Sean baru sadar kalau tadi Amira memeluknya, dengan segera dia melepas bajunya.
Setelah melepas bajunya, Sean mendekat lagi dia pun berjongkok lalu mengajak bicara calon bayinya
"Masih di dalam perut pun kamu tidak suka dengan bau orang yang menyakiti mamamu, besok kelak jadilah pelindung mamamu setelah papa," kata Sean lalu mencium perut Arini.
Sean berdiri lalu mencium kening Arini,
"I love you sayang," kata Sean
"I love you too," sahut Arini
Sean membulatkan matanya, inilah pertama kalinya Arini mengucap cinta pada Sean.
"Kamu bilang apa?" tanya Sean tak percaya
"Bilang apa emangnya," jawab Arini dengan mengelak
"Ulang dong," pinta Sean
"Ogah, nggak ada siaran ulang," sahut Arini
"Pelit," timpal Sean
Arini hanya tertawa, melihat sikap Sean kini dia yakin kalau Sean benar-benar mencintainya dan tidak alasan untuk ragu dengan Sean.
Dan kini juga dia tidak punya alasan pergi dari Sean karena ada benih Sean yang sedang tumbuh di rahimnya.
Mengenai sumpah bucin nya dulu entahlah.
Sean memeluk Arini dengan erat, begitu pula Arini yang semakin dalam menenggelamkan wajahnya dalam pelukan Sean.
Mencium bau keringat yang bercampur parfum dari tubuh Sean membuat Arini semakin mengendus tubuh Sean yang hanya memakai kaos dalaman tipis.
"Segarnya," kata Arini
Sean hanya menggaruk kepalanya yang gatal jelas-jelas bau tubuhnya gak enak banget malah Arini bilang segar.
"Kamu masih waras kan?" ucap Sean yang membuat Arini marah
"Waras lah memangnya aku Amira yang nggak waras," sahut Arini
Merasa bau tubuh Sean sangat menenangkannya membuat Arini melarang Sean untuk mandi karena kalau mandi pasti bau keringat Sean hilang.
"Sayang kamu apa-apaan sih," protes Sean
"Ini permintaan anak kita," sahut Arini
"Astaga, kenapa kamu mengajari papa jorok sih sayang," ucap Sean
Arini hanya tertawa, dia sungguh bahagia sekarang.
Di sisi lain, Amira masih tidak mau berhenti menangis. Mama dan papanya dibuat bingung.
"Apa kita minta bantuan Daffa?" Ide papa