Teman Ranjang Billionaire

Teman Ranjang Billionaire
Papa!


Tubuh Nick membatu serasa petir menyambar tubuhnya saat ini bahkan bernafas pun terasa sulit,


tubuhnya terasa oleng terlalu lemah menerima kenyataan yang ada saat ini hingga Nick mundur selangkah.


"Nggak lucu Kinan," kata Nick yang masih belum percaya apa yang dikatakan Kinan. Nick berharap kalau ini hanyalah lelucon Kinan, dia berharap Kinan ngeprank dirinya seperti apa yang sering dia lakukan pada teman-temannya namun harapan itu tinggal harapan, yang terjadi di depannya bukanlah lelucon atau prank, tapi sebuah kenyataan yang harus Nick terima.


"Aku nggak bercanda mas, ini anak kita. Apa kamu nggak ingat saat itu kita selalu melakukannya," sahut Kinan dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.


Keira bocah kecil lucu itu menatap mamanya yang menangis, dia pun ikut menangis.


Kinan memenangkan anaknya, lalu mendekat ke arah Nick namun Nick mencoba mundur menghindari Kinan dan juga Keira.


"Tidak kah kamu lihat mas, wajahnya sangat mirip dirimu, gen gen terbaikmu menurun ke anak kita.


Mulai matanya, hidungnya, rambutnya, bibirnya bahkan tanda lahirnya pun sama dengan kamu," kata Kinan.


Nick masih terdiam, air matanya jatuh membasahi pipinya kini.


"Dulu aku pergi karena aku ingin melihat kamu sukses mas, jika aku bilang kalau aku hamil pasti kamu shock dan nggak akan fokus bekerja. Saat itu kamu baru saja diterima berkerja di perusaahan besar seperti apa yang kamu impikan, aku tidak sanggup jika merenggut impian besar dalam hidupmu mas, oleh sebab itu aku pergi tanpa kata menghilang seperti ditelan bumi, namun asal kamu tau seumur hidupku aku tetap cinta sama kamu mas, bahkan sekarang cintaku padamu masih sama seperti dulu," jelas Kinan.


Nick hanya terdiam, dadanya sesak mendengar kenyataannya sekarang, sebuah misteri dalam hidupnya kini telah terpecahkan, ternyata itu alasan Kinan meninggalkannya waktu itu.


Keira semakin menangis, dia memeluk Kinan dengan erat.


Sasa yang kebetulan di sana mencoba menggendong Keira dan membawanya bermain di halaman depan.


"Maafkan aku mas, ampuni aku yang pergi meninggalkanmu," kata Kinan.


Nick menatap mata Kinan yang sudah basah dengan air matanya.


Mata Kinan mengisyaratkan kejujuran yang membuat Nick semakin rapuh.


Lalu bagaimana dengan Vani sekarang? entahlah, kembali lagi ini bukan salah Nick, bukan juga salah Kinan takdir merekalah yang seperti ini.


"Umurku tidak akan lama lagi mas, oleh karena itu aku titip Keira padamu, hanya kamu yang dia miliki setelah aku tidak ada nanti," ungkap Kinan.


Nick membatu untuk kesekian kalinya, kenyataan apalagi ini. Mengapa dalam sekejap Tuhan seolah mempermainkannya.


Ingin sekali Nick berteriak sekeras-kerasnya, menumpahkan kekalutannya saat ini menolak kenyataan yang ada namun lagi-lagi dia tidak berdaya melakukan semua itu.


"Apa yang kamu bilang Kinan?" tanya Nick tak percaya.


"Aku di vonis sakit kanker, Alhamdulillah sekarang stadium akhir, sebentar lagi aku akan meninggal mas," jawab Kinan dengan terisak.


Nick menghadap keatas mencoba menahan air matanya supaya tidak jatuh namun air matanya sudah tidak dapat dibendung. Sesak sekali dadanya sekarang baru saja bertemu dengan mantan wanitanya namun kenapa Tuhan kini ingin mengambilnya lalu bagaimana dengan Putri mereka?


"Kenapa ya Tuhan, kenapa!" gumamnya dalam tangis.


Tanpa aba-aba Nick memeluk mantan wanitanya tersebut, dia mencoba menenangkan tubuh rapuh Kinan.


Kinan menerima pelukan Nick, bahkan dia memeluk Nick dengan erat, pelukan yang sangat dia rindukan selama bertahun-tahun.


"Maafkan aku Kinan, maafkan aku," bisik Nick.


Kinan Semakin terisak, jika dia bisa memohon ingin sekali meminta Tuhan memperpanjang umurnya sedikit, supaya dia bisa melihat hari-hari Nick dengan keira.


Keira masuk kembali ke dalam, dia melerai pelukan Nick dan mamanya, lalu dia yang memeluk mamanya.


"Ini papa kamu sayang, Keira kan selalu bertanya dimana papa," kata Kinan.


Keira menatap Nick dengan lekat, "Papa," katanya


Nick mengangguk lalu mereka berdua berpelukan, hati Nick serasa bergetar saat Keira memeluknya, bagaimanapun juga ayah tetap ayah meski terpisah ikatan batin anak dengan ayahnya tetap ada.


Tiba-tiba, hidung Keira keluar darah wajahnya juga semakin pucat, tentu ini membuat Nick panik


"Kamu kenapa Kinan?" tanya Nick


Sasa yang di sana menyaksikan drama mereka pun mendekat.


"Sakitnya kambuh," katanya tak kalah panik


Nick segera membopong tubuh Kinan, dan segera membawanya ke rumah sakit.


Keira dan Sasa juga ikut ke rumah sakit.


"Bersabarlah Kinan," gumam Nick


Dengan cekatan dia membawa mobilnya melewati mobil-mobil di depannya.


Keira masih saja menangis sambil mengelus pipi mamanya.


"Keira diam ya sayang, kasian mama kalau Keira menangis." Nick mencoba menghibur Keira.


"Tuhan nggak akan membawa mama pulang kan pa," katanya yang membuat Sasa maupun Nick menangis.


"Nggak sayang, Tuhan kan sayang Keira. Bagaimana bisa Tuhan membawa mama Keira pergi," Sahut Nick dari depan.


"Mama selalu berdoa, supaya Tuhan tidak membawa mama pulang terlebih dahulu sebelum Keira ketemu papa," ucap Keira lagi.


Air mata Nick keluar dengan deras, anak kecil umur empat tahun harus hidup dengan rasa takut kehilangan mamanya.


Dia sedikit dewasa dari usianya.


"Nggak sayang, Tuhan nggak akan membawa mama kemana-mana, kita berdoa sama-sama ya supaya mama baik-baik saja," timpal Nick.


Mobil sudah sampai di rumah sakit, Nick segera menggendong Kinan ke ruang UGD, dokter segera menangani Kinan,


Setelah beberapa waktu dokter keluar


"Anda suami pasien?" tanya dokter


"Iya," jawab Nick asal.


"Kankernya sudah menyebar pak, kemungkinan istri anda hanya mampu bertahan paling lama dua minggu," kata Dokter.


Sebelumnya Nick menyuruh Sasa membawa keira untuk jalan-jalan sebentar.


"Apa tidak bisa disembuhkan dok?" tanya Nick


"Secara medis sulit pak, kemungkinan untuk sembuh kecil sekali bahkan tidak ada namun tidak ada yang tidak jika Tuhan berkehendak, berharap saja ada keajaiban," kata Dokter lalu pergi meninggalkan Nick yang masih terpaku didepan ruang UGD.


Kinan kini dipindahkan ke ruang ICU, Nick membawa Kinan ke lain rumah sakit, dokter yang menanganinya tadi berbeda dengan dokter Kinan sebelumnya.


"Kinan bertahanlah demi Keira, apa kamu tidak ingin melihatnya tumbuh dewasa, kita bisa membesarkannya sama-sama Kinan meski kita tidak bersama," kata Nick.


Tubuh lemah Kinan tidak merespon namun mata Kinan terus saja mengeluarkan air mata.


Sasa yang ada urusan harus pulang, karena dia di rumah juga punya suami dan juga anak.


Keira tidur dalam pangkuan Nick, wajah bocah itu benar-benar mirip Nick.


Kini dia bingung harus bicara apa dengan Vani? apa Vani mau menerima Keira, bagaimana jika Vani marah dan meninggalkannya.


Nick semakin bingung, saat hendak menghubungi Vani, dia baru ingat kalau ponselnya berada di dalam tas dan tasnya kini berada di rumah Kinan.


Arrgggh


Nick frustasi sehingga membuat Keira terbangun dan menatap Nick dengan lekat, bocah kecil ini jadi takut.


"Papa kenapa?" tanya nya


"Nggak kenapa-kenapa kok sayang," jawab Nick.


Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, Nick sungguh bingung kalau dia pulang bagaimana dengan Kinan dan Keira, kalau dia tidak pulang bagaimana dengan Vani, sedangkan ponselnya juga ketinggalan di rumah Kinan.


Di sisi lain Vani sangat khawatir dengan Nick, pikirannya sungguh kemana-mana, apalagi Nick tidak mengangkat panggilannya.


"Kamu dimana sih mas," gumam Vani