
Arini tersenyum mendengar kata-kata Sean setidaknya rasa takutnya sedikit berkurang, dengan erat Arini memeluk suaminya yang masih polos.
"Bersih-bersih yuk," ajak Sean
"Hayuk tapi gendong ya," sahut Arini dengan tersenyum.
"Duh manjanya istriku," timpal Sean.
Sean berdiri dengan dengan polos, begitu pula dengan Arini. Mereka berdua menuju kamar mandi tanpa sehelai benang yang menempel di tubuh mereka.
"Nambah ya?" tanya Sean dengan terkekeh
"Capek lah sayang." Arini menolak keinginan suaminya.
**********
Tidak seperti biasanya, Putri datang ke kantor lebih pagi. Saat masuk ruangannya Putri mendapati banyak berkas-berkas yang harus segera diselesaikan.
Baru saja hendak meletakkan pantatnya Shane datang dengan membawa berkas lagi.
"Kita harus kerja keras hari ini, karena hari ini adalah akhir bulan dimana pak Daffa meminta laporan menyeluruh," kata Shane lalu meletakkan berkas di meja.
"Baik Pak Shane," sahut Putri.
Shane tersenyum dengan puas karena Putri sangat cekatan dan sangat bisa di andalkan jadi pekerjaannya lebih ringan.
Mata dan tangan Putri terus bekerja dengan benda kotak di depannya.
Karena tadi tidak sempat sarapan Putri membawa roti dan mineral water untuk sarapannya.
Tak terasa jam makan siang sudah datang dan kebetulan juga Putri sudah menyelesaikan semua pekerjaannya.
Putri meregangkan ototnya yang kaku, dia juga memegang tengkuknya sambil memejamkan matanya.
Saat membuka matanya sudah ada Daffa yang duduk berseberangan dengan dirinya.
"Eh pak Daffa," kata Putri kaget
"Cepek ya," ucap Daffa
"Iya pak dikit," sahut Putri.
Daffa datang ke ruangannya Putri untuk mengajak Putri makan siang, karena dia tahu kalau sedari tadi Putri sibuk dengan pekerjaannya.
"Makan siang yuk," ajak Daffa
"Tapi aku sudah bawa roti pak," kata Putri
Tanpa aba-aba Daffa menarik tangan Putri, dia memaksa Putri untuk makan siang dengannya.
"Jangan menolak perintah atasan," kata Daffa dengan tegas.
Putri hanya bisa pasrah meskipun sebenarnya dia sangat senang sekali bisa makan siang dengan Daffa.
Daffa membawanya me sebuah restoran yang letaknya lumayan jauh dari kantornya, tiga puluh menit melakukan perjalanan dan kini mobil sudah berbelok di sebuah resto kecil dengan ekterior yang menarik cocok untuk anak-anak muda.
"Resto ini khusus menjual steak, kamu mesti coba," kata Daffa
Putri mengangguk dengan tersenyum, Putri membuka safety belt nya dan saat hendak turun Daffa menarik tangan Putri.
"Put," panggil Daffa
"Iya pak," sahut Putri dengan membalikkan tubuhnya
Daffa hanya diam, dia bingung mau ngomong apa.
"Sudahlah, ayo turun," timpal Daffa lalu dia turun.
Putri mengerutkan alisnya lagi-lagi heran dengan sikap Daffa yang menurutnya aneh.
Saat masuk dalam resto, Putri menatap kagum Desian interiornya.
Daffa menarik kursi untuk Putri lalu untuk dirinya, mereka memesan dua porsi steak dan jus buah.
"Put, jika aku mengajakmu menikah apa kamu setuju?" tanya Daffa
"Setuju banget pak, nggak pake nolak," jawab Putri
"Jujur sekali Put, dirimu," sahut Daffa.
Putri tersipu malu dengan kata Daffa,
"Tapi kata pak Daffa usiaku masih muda. Lagipula aku harus kuliah dulu untuk menggapai cita-citaku," timpal Putri.
"Ya sudah kita jalani aja dulu, tapi ingat kamu udah aku booking lo, jadi jangan dekat-dekat dengan laki-laki lain," ujar Daffa.
Begitulah hari-hari Putri dan Daffa, mereka sering menghabiskan waktu bersama bahkan Daffa sudah pernah membawa Putri pulang. Daffa kini juga sudah membayar orang untuk menjaga ayah Putri dia juga menjadwalkan terapi untuk ayah Putri.
"Mas terima kasih ya telah hadir dalam hidupku, aku tak menyangka dikejar-kejar rentenir waktu itu telah mengubah nasibku." Putri berterima kasih dengan tulus.
"Sama-sama," sahut Daffa.
Meski Daffa belum mengungkapkan perasaanya namun dia yakin kalau Daffa mencintai dirinya dengan tulus.
Daffa lalu meyambar bibir Putri dengan rakus, dia mel umat bibir Putri dan sesekali menyesepnya.
Putri juga membalas ciuman dari Daffa meski agak kaku.
Setelahnya kedua insan ini menangkap oksigen sebanyak-banyaknya karena paru-paru mereka sudah kehabisan oksigen.
Putri turun dari mobil Daffa dan melambaikan tangannya. Putri menatap mobil Daffa yang semakin menjauh. Dia sungguh bahagia Daffa sangat sayang padanya.
Sepanjang perjalanan pulang, Daffa terus saja menyunggingkan senyuman, dia sungguh bahagia meski belum mengungkapkan perasaannya tapi dia yakin kalau Putri paham jika dia juga menyukainya.
Saat Daffa membelokkan mobilnya terlihat dua mobil yang sudah terparkir rapi di halaman rumahnya.
"Mama, papa," gumam Daffa lalu turun.
"Sayang," panggil mamanya
Daffa berjalan mendekat ke arah papa dan mamanya.
"Tumben mama dan papa pulang," kata Daffa
"Anak durhaka, mama papa pulang malah bicara nggak sopan," sahut papa Daffa
"Iya, iya maaf," timpal Daffa.
Sebentar lagi adalah ulang tahun Daffa, rencananya kedua orang tua Daffa ingin mengadakan pesta dan surprise untuk Daffa oleh sebab itu mereka pulang.
"Mama ingin merayakan hari ulang tahun mu sayang, mangkanya mama dan papa pulang," kata nyonya Daffa.
Mereka mengobrol panjang kali lebar hingga Daffa pamit untuk membersihkan diri begitu pula dengan orang tuanya yang juga ingin istirahat.
Seperti hari kemarin Shane dan Putri disibukkan dengan berkas-berkas perusahaan.
Karena Putri membutuhkan bantuan Shane dia pun pergi keruangan Shane untuk kerja kelompok di sana.
"Pak Shane saya nebeng mengerjakan di sini ya, supaya saya dengan mudah bertanya," kaya Putri meminta izin.
"Dengan senang hati, aku juga jadi semangat kerja ditungguin wanita cantik," goda Shane dengan terkekeh.
Putri dan Shane mengerjakan kerjaan mereka dengan serius, karena sama-sama lelah akhirnya mereka istirahat dan saling mengobrol.
"Put, Minggu besok pak Daffa ulang tahun, aku dengar orang tuanya mengadakan pesta untuk Daffa, apa kamu mau ikut?" tanya Shane di akhir kalimatnya.
"Kalau nggak diundang ya gak datang pak," jawab Putri
"Tapi pak Daffa pasti mengundangmu mengingat kalian semakin dekat sekarang," sahut Shane.
Setelah mendapat informasi tentang ulang tahun Daffa, Putri jadi galau. Dia bingung mau ngasih kado apa sedangkan gajinya untuk biaya ayahmya.
Putri kembali berkutat pada laptop yang dibawanya, dia ingin segera mungkin menyelesaikan tugasnya supaya bisa kembali ke ruangannya.
********
Hari ini Sean Arini, Nick Vani dan juga Shane datang ke pesta ulang tahun Daffa.
Daffa sungguh kesal dengan orang tuanya karena tiba-tiba mengadakan pesta ulang tahun yang lumayan megah untuk nya.
Banyak kolega serta bawahan Daffa hadir, orang tua lah yang mengundang mereka semua.
Mama Daffa yang memberi sambutan pun mengumumkan akan menjodohkan Daffa dengan anak sahabatnya yang kini menjadi CEO perusahaan yang cukup terkenal juga.
Daffa seketika memucat, dia sangat terpukul mengetahui kenyataan kalau orang tuanya menjodohkan dirinya.
Daffa berjalan mendekati Putri yang saat itu berkumpul dengan Arini dan Vani begitu juga dengan pasangan mereka masing-masing.
"Semangat Put, jangan takut pokok nya," bisik Arini menyemangati Putri yang terlihat takut.
"Mas Daffa kasian Putri, ini maksudnya apa?" tanya Arini bingung.
"Entahlah Arini, kenapa tiba-tiba mama mengumumkan hal yang tidak penting," jawab Daffa.
"Seperti tidak tau mamamu saja," sahut Sean.
Daffa memegang erat tangan Putri, Melihat Daffa memegang tangan Putri mama Daffa datang mendekat.
"Ini siapa Daffa?" tanya mama dengan tatapan yang sulit diartikan pada Putri.