
Pikiran Daffa sungguh kalut, entah kenapa dia tidak ikhlas jika ada lelaki yang dekat dengan Putri.
"Ada apa denganku," Daffa bermonolog dengan dirinya sendiri sambil melihat halaman kampus.
Dengan kesal Daffa melajukan mobilnya, baru beberapa meter Daffa memutar balik mobilnya dan menunggu Putri sampai pulang kuliah.
Dia nggak rela jika Putri pulang diantar lelaki lain.
Lama menunggu akhirnya yang ditunggu keluar juga, dari kejauhan Putri nampak bercanda dengan teman lelakinya.
Daffa yang melihatnya sudah kebakaran jenggot, dia menghela nafas lalu keluar dari mobil. Daffa menyandarkan tubuhnya di mobil sambil melipatkan kedua tangannya.
Banyak Mahasiswa yang terpukau dengan ketampanan Daffa sampai-sampai ada yang terus memandanginya hingga menabrak Mahasiswa lain.
Putri tidak tau kalau Daffa menunggunya, dia pun melewati Daffa yang sedari tadi menatapnya dengan kesal.
"Put," panggil Daffa
Putri yang mendengar dirinya dipanggil pun menoleh mencari asal suara itu berasal dan betapa kagetnya dia melihat Daffa yang menyandarkan dirinya di mobil.
"Ihhh mas Daffa ganteng banget," gumam Putri.
Dengan segera Putri menghampiri Daffa, "Mas Daffa ngapain di sini?" tanya Putri setelah berada di samping Daffa
"Jemput seseorang," jawab Daffa
Putri mengerutkan alisnya, bingung siapa yang hendak dijemput Daffa, dirinya atau orang lain.
"Siapa mas?" tanya Putri lagi
"Dirimu lah, ayo masuk," jawab Daffa agak kesal.
Putri terpaku semenjak kenal Daffa sampai sekarang baru kali ini Daffa kesal padanya.
Sikap Daffa pun agak gimana gitu beda dengan Daffa sebelumnya.
Daffa menyalakan klakson mobilnya sehingga Putri yang masih terpaku pun terkejut,
"Ya Allah ya Rabb mas Daffa," gumam Putri lalu masuk mobil.
Daffa dan Putri sama-sama terdiam, Daffa kesal dengan Putri sedangkan Putri masih heran dengan sikap Daffa.
Putri yang lelah akhirnya bersuara
"Mas, Kamu kenapa?" tanya Putri dengan menatap Daffa yang sedang menyetir.
"Nggak papa," jawab Daffa, "Kamu suka ma cowok ya?" tanya Daffa to the poin.
"Iya, kenapa?" tanya Putri balik
"Dengar kamu itu kuliah yang benar, jangan sampai nilai-nilai kamu turun gara-gara mikirin cowok," jawab Daffa
Putri terbengong dengan jawaban Daffa, bingung dengan sikap Daffa yang semakin tak menentu.
"Nggak kok mas, buat penyemangat saja. Aku hanya pusing memikirkannya semenjak dia cium aku," kata Putri bermaksud menyindir Daffa
Ciiittttt
Suara ban yang beradu dengan aspal.
Mendengar perkataan Putri membuat Daffa kaget dan mengerem mendadak.
"Apa!" teriak Daffa.
Putri lagi-lagi bingung, heran dengan Daffa.
"Perasaan yang cium aku dia, kenapa dia kaget," batin Putri
Daffa menatap Putri dengan sinis, "Beraninya dia menerima ciuman dari lelaki lain, bearti saat dia bilang kemaren adalah hoax, bisa jadi itu adalah ciuman ke sepuluh atau sebelas," batin Daffa.
Daffa kembali melajukan mobilnya, dia nampak kesal sekali.
"Kamu kenapa sih mas?" tanya Putri
"Apa dia menyukai kamu?" tanya Daffa balik
Putri menghela nafas, bukankah Daffa sendiri yang tidak menyukai Putri kenapa sekarang malah bertanya.
"Nggak jelas mas, dia masih ragu dengan perasaanya" jawab Putri
"Kok aneh, gak jelas tapi main cium," sahut Daffa
Emosi Putri semakin di aduk-aduk oleh Daffa, kenapa dia melemparkan semua pada Putri, yang tau jawabannya hanya dirinya sendiri.
"Entah, tanyakan sendiri sama diri mas Daffa, kenapa masih nggak jelas kok sudah berani mencium aku dan buat leher aku merah-merah seperti di gigit semut," ungkap Putri.
Daffa menatap Putri, dia senyum-senyum sendiri sambil merutuki kebodohannya, berbeda dengan Putri yang kesal dengan Daffa yang seolah memojokkannya.
"Jadi kamu menyukai aku Put?" tanya Daffa
Tapi aku paham kok mas, aku siapa dan mas Daffa siapa. Mulai saat ini aku akan menghapus perasaanku pada mas Daffa sedikit-sedikit." Imbuh Putri lalu tersenyum.
"Jangan Put, jangan dihapus buat penyemangat kamu datang ke kantor," timpal Daffa
Putri hanya tersenyum, lalu melemparkan pandangannya ke luar.
Bingung dengan sikap Daffa yang aneh dan gak jelas.
Tak berselang lama mobil Daffa belok di sebuah restoran, dia yang belum pulang sama sekali merasa lapar.
"Kita makan dulu ya," kata Daffa lalu turun.
Putri mengekor di belakang Daffa.
"Mas, boleh nggak aku bungkus untuk ayah?" tanya Putri
"Boleh," jawab Daffa.
Kini sikap Daffa sudah normal kembali, tidak seperti saat di mobil.
Seusai makan Daffa langsung mengantar Putri ke rumahnya setelah itu dia pulang.
Di sisi lain Arini dan Sean melihat langit dari balkon kamarnya.
mereka berdua saling peluk bak remaja yang sedang terpapar virus cinta.
"Kamu lihat itu sayang," kata Arini dengan menunjuk bintang yang paling terang.
"Iya, Bintang," sahut Sean
"Itu bintang Sirius, bintang yang paling terang di antara bintang lainnya," timpal Arini
"Dulu saat aku kecil aku ingin sekali seperti dia, bersinar paling terang di antara lainnya," imbuh Arini
"Beda lah kita manusia dia bintang, kenapa kamu ingin seperti dia," kata Sean yang membuat Arini kesal
"Dasar otak jongkok," ejek Arini
Sean yang kesal melepaskan pelukannya, "jangan bilang aku otak jongkok gini-gini IQ ku lebih dari Albert Einstein," omel Sean.
Arini hanya tertawa mendengar Omelan Sean, "Nafsu s e x kamu yang lebih dari Einstein," sahut Arini dengan tertawa.
Sean semakin kesal, lalu dia pun membungkam mulut Arini dengan mulutnya.
Sean tak memberi kesempatan Arini untuk melepaskan diri.
Sean terus saja mel umat, menikmati bibir Arini yang manis baginya.
Tanpa melepas pautan mereka, Sean menggendong Arini ke tempat tidur.
Tangan Sean melepas satu persatu kancing piyama Arini hingga dada Arini terkspos sempurna.
Lalu mereka pun menggelar acara panjat memanjat pinang.
Puas memanjat istrinya, Sean menjatuhkan dirinya di samping Arini, lalu dia pun memeluknya.
"Sayang, kok tidur sih," kata Sean yang kesal karena Arini tidur.
"Aku nggak tidur hanya memejamkan mata saja," sahut Arini
Sean meletakkan tangannya di dada Arini sehingga membuat Arini melenguh lalu membuka matanya.
"Nggak usah cari gara-gara deh," gerutu Arini
"Aku nggak cari gara-gara sayang, hanya memainkannya," sahut Sean.
Sebenarnya Arini tengah memikirkan proses persalinannya kelak. Dia sungguh takut kalau gagal melahirkan anaknya. Karena banyak berita yang dia baca kalau banyak wanita yang meninggal saat melahirkan.
"Sebenarnya aku takut sekali," kata Arini
Sean mengerutkan alisnya, "Apa yang membuatmu takut?" tanya Sean
"Melahirkan, aku takut kalau aku nggak selamat dan setelah kepergian ku kamu mencari istri lagi, lalu kamu dan istrimu melupakan anakku seperti yang ada di kisah maupun novel-novel," jawab Arini.
Plak
Sebuah tepukan mendarat dengan sempurna, membuat Arini memajukan bibirnya.
"Berani bicara seperti itu aku akan memanjat mu lagi," kata Sean kesal,
Sean dan Arini terdiam, Sean malah kepikiran dengan kata-kata Arini barusan.
Sean lalu menatap Arini dengan lekat seraya berkata
"Aku tak akan membiarkan itu terjadi, aku tak sanggup hidup tanpamu sayang, kamu dan anak kita pasti akan selamat, aku akan mendatangkan dokter ahli untuk proses bersalin kamu dan anak kita nanti,"