
Tidak, tidak please!!!" teriak dokter.
Dengan cemas dokter melihat monitor holter, terlihat irama detak jantung Arini semakin lemah dan tidak teratur.
"Nona bertahanlah," kata dokter lirih dengan menjahit dada Arini.
Sedangkan dokter lainnya, sibuk mengusap keringat dari dokter yang menjahit dada Arini.
Kini luka Arini sudah tidak mengeluarkan darah dengan banyak namun masalahnya sekarang adalah irama detak jantung Arini tidak teratur tentu ini akan memperlambat jantung dalam memompa darah ke seluruh tubuh.
Keringat mulai mengucur, banyak sekali beban di atas pundak para dokter yang sedari tadi bergelut dengan peso, gunting dan lain-lain. Selain nyawa Arini nasib rumah sakit, karir dan keluarga mereka berada di tangan mereka masing-masing saat ini.
Jika sampai terjadi apa-apa dengan Arini tentu Sean akan murka meskipun ini bukan salah mereka dan takdir lah yang menentukan semua.
Semua yang berada di ruangan itu menjadi cemas juga, termasuk para suster, "Ambilkan pacemaker( Alat pacu) jantung," titah dokter pada susternya.
Suster segera mengeluarkan pacemaker dan segera memberikannya pada Dokter, dengan mengucap bismilah Dokter memulai memacu jantung Arini supaya irama detak jantungnya normal kembali sehingga jantungnya dapat memompa darah secara optimal.
Saat pacemaker di tempelkan di dada Arini, dada Arini terangkat, dokter memacunya ketiga kali namun irama detak jantung malah semakin lemah.
Hal ini membuat dokter takut dan frustasi.
"Ayolah, please nasib kami ada di tanganmu," kata dokter lirih, berharap detak jantung Arini normal kembali.
"Irama detak jantungnya semakin menghilang dok," ucap suster yang membuat dokter semakin frustasi namun beliau terus mencoba, mereka hanya berharap ada keajaiban.
"Miracle please coming," kata dokter
Dokter terus saja memacu detak jantung Arini namun tubuhnya kini tidak merespon, bahkan semakin lemah, lemah dan lemah.
"Bagaimana ini dok?" tanya suster khawatir.
"Entahlah sus, kata dokter dengan suara yang ikut melemah.
Semua yang ada di dalam ruangan operasi sungguh frustasi, selain gagal menyelamatkan nyawa orang mereka juga gagal menyelamatkan rumah sakit tempat mereka bekerja.
"Kita banyak berdoa saja dan kembalikan semua pada Tuhan yang Maha Esa, karena nasib seseorang berada di tangannya, kita hanya perantara," kata Dokter pasrah.
Di sisi lain Sean, Daffa, Nick dan Shane menunggu di luar, terlebih Sean yang sedari tadi mondar mandir, "Ini operasi kenapa berabad-abad, tinggal mengambil satu peluru apa susahnya," cerca Sean yang membuat Daffa kesal.
"Kalau aku bisa tidak mungkin aku meminta bantuan dokter," timpal Sean.
Daffa dan Sean malah debat sendiri, sehingga membuat Nick harus melerai perdebatan mereka.
"Kita berdoa saja pak, semoga nona Arini dan bayi yang ada dalam kandungan nona Arini baik-baik saja," timpal Nick.
Shane berdecak kesal, "Bos dan asisten malah bijak asisten," batin Shane ikut kesal.
Mereka berempat harap-harap cemas menunggu operasinya selesai.
Salah satu suster keluar lalu dia berlari entah kemana, beberapa saat kemudian dia kembali dengan beberapa dokter lain.
Sean semakin takut, pikirannya sudah melayang kemana-mana. Kepalanya dipenuhi rasa takut sekarang, takut kehilangan istri tercintanya.
Begitu pula dengan Daffa, "Arini please, bertahanlah kami semua di sini menunggumu," batin Daffa dengan terus berdoa, memohon keselamatan Arini.
Shane dan Nick juga ikut panik, mereka berdoa untuk Arini semoga Arini dapat melewati semuanya dan selamat.
"Bagaimana dengan Marcel Nick?" tanya Sean.
Darah Sean mendidih jika teringat akan Marcel, Sean bersumpah jika sampai terjadi apa-apa dengan Arini dia akan membunuh Marcel dengan tangannya sendiri.
Dendam telah membutakan seseorang, tak hanya orang lain yang jadi korban melainkan dirinya sendiri pun jadi korban dari dendam.
"Marcel bersama anak buah kita Pak," jawab Nick
"Jangan memikirkan Marcel dulu Sean, pikirkanlah Arini. Kita harus banyak-banyak berdoa supaya Arini selamat, bukannya malah mendendam," sahut Daffa dengan bijak
"Tapi semua gara-gara dia Daffa, selain diriku Arini juga jadi korban dendamnya bahkan anakku yang tidak bersalah pun ikut jadi korban dendam Marcel.
Daffa hanya bisa menggelengkan kepala.
Tim dokter yang baru datang segera memacu detak jantung Arini lagi, mereka semua nampak tegang seperti orang yang disuruh menonaktifkan bom, salah sedikit saja bisa meledak dan membinasakan mereka semua.
Aaahhhhhhh
Teriak dokter lalu mereka semua terkulai lemas di lantai, bahkan ada yang menangis.