
Nick paham apa yang dirasakan Sean, ingin sekali Sean turun dari mobil dan menghajar Marcel namun Nick melarangnya.
"Jangan Pak, lebih baik bicarakan dengan nona Arini saat sudah tidak emosi, bisa jadi ini hanya salah paham saja," kata Nick
"Ya sudah lebih baik kita pergi, dari daripada lama-lama di sini takutnya tidak kontrol," titah Sean.
Nick memundurkan mobilnya lalu putar balik sedangkan Arini yang sangat kesal dengan Marcel menatapnya penuh Amarah seperti Serigala yang hendak menerkam mangsanya.
"Kenapa sih kamu nekat sekali! aku bukan wanita single yang bisa selalu menjawab telpon mu," maki Arini
Mulut Marcel seakan terkunci dia bingung harus jawab apa, ini semua dorongan dari rasa rindunya pada Arini. Tanpa Marcel sadari dia memiliki rasa aneh tersendiri untuk Arini.
"Punya mulut nggak!" Arini terus saja memarahi Marcel sedangkan Marcel hanya menunduk tanpa berani menjawab, dia nampak seperti bawahan yang dimarahi atasannya.
Dia berdecak kesal, Kepala Arini rasanya ingin meledak.
"Maaf," itulah kata yang keluar dari mulut Marcel.
"Ya sudah sana pergilah, jangan kesini lagi. Jika Sean tahu tamatlah aku," pinta Arini lalu meninggalkan Marcel yang masih berdiri di tempatnya.
Marcel tampak seperti orang linglung, "Bagaimana sekarang, memang sulit menemui istri orang," batin Marcel lalu masuk mobil.
Sepanjang perjalanan Marcel hanya diam memikirkan Arini, di sisi lain Sean memerintahkan Nick untuk membawanya ke bar, pikirannya benar-benar kalut, hatinya sakit dadanya sesak mengingat kelakuan istri tercintanya yang semua hanya salah paham semata.
"Anda mau mabuk lagi pak?" tanya Nick
"Nggak mau berenang," jawab Sean dingin namun mampu membuat Nick tertawa.
"Potong gaji," sahut Sean yang seketika membuat Nick terdiam.
Pandangan Sean jauh menerawang ke depan, sesampainya di klub Sean masuk bersama Nick.
"Biarkan saya menemani anda pak," kata Nick
"Kamu pergilah ke kantor, banyak kerjaan menumpuk di sana," titah Sean.
Namun Nick tetap bersikeras menemani Sean, dia takut terjadi apa-apa dengan Sean mengingat tadi mood nya sangat jelek.
Baru sebentar saja Sean sudah habis sebotol minuman jenis wiski dengan harga kisaran tiga juta per botol.
Belum puas dia memesan lagi, Sean memang kuat minum namun semenjak menikah dia tidak pernah minum lagi, kini baru minum sebotol saja kepalanya sudah terasa pening.
Sean memesan lagi, bahkan dia minta yang kadar alkoholnya lebih tinggi. Dia benar-benar ingin melupakan permasalahanya dengan Arini.
"Brengsek kamu Arini!" serunya.
Sean mulai meracau, efek dari minuman keras yang di konsumsinya mulai terasa.
Sean tertawa sendiri lalu marah. Sungguh hal ini membuat Nick hanya bisa geleng-geleng kepala.
Nick menemani Sean sambil memantau pekerjaananya dari tempat dia berada.
Sean sudah menghabiskan beberapa botol, tak jauh darinya ada seorang wanita dan lelaki yang sedang minum juga, dengan sempoyongan Sean mendekat lalu membogem pria tersebut tentu hal itu memicu keributan di sana.
"Brengsek kamu Marcel, beraninya mendekati istriku!" katanya.
Pria tersebut tentu tidak terima dengan bogeman Sean hingga dia pun membalas perbuatan Sean dan berkali-kali melayangkan pukulan ke wajah Sean.
Nick yang tidak terima membalas pria tersebut dia juga meminta anak buahnya untuk mengatasinya.
"Kamu salah jika cari masalah dengan kami," kata Nick dengan mencengkeram pipi pria tersebut.
"Tapi dia yang memulai duluan," sahutnya tak terima.
"Dia hanya memukulmu sekali tapi mengapa kamu membalasnya lebih dari sekali," timpal Nick yang membuat Pria tersebut terdiam.
Beberapa anak buah Nick membawa Pria itu pergi sedangkan si wanita ketakutan di mejanya.
Nick membawa Sean pulang ke rumah, akan lebih baik jika Arini yang menjaganya.
Sesampainya di rumah Sean Nick langsung membawa Sean ke kamarnya, di depan pintu Nick mengetuk pintu.
Sebelum Nick pergi dia sudah memanggil dokter pribadi Sean untuk mengobati lukanya.
"Saya titip pak Sean nona Arini, keadaanya sangat rapuh jadi tolong bicara anda dijaga," pesan Nick lalu pamit undur diri.
Arini nampak bingung dengan perkataan Nick, dengan pelan Arini membersihkan luka-luka Sean.
"Kamu kenapa sih sayang," tanya Arini dengan raut wajah sedih.
beberapa saat kemudian dokter datang lalu mengobati Sean, dia memberikan obat anti nyeri dan obat supaya tidak infeksi.
"Lukanya tidak parah, tolong diminumkan dengan rutin obatnya," pesan dokter lalu pamit undur diri.
Arini menunggui Sean yang masih setia dengan pingsannya, hingga Arini ikut tertidur juga.
*********
Perlahan mata Sean terbuka, dia melihat Arini tidur dengan memeluk dirinya, coba kalau pas lagi nggak sakit hati pasti Sean memanjat Arini namun karena dia sedang nggak enak hati dia pun memindahkan tangan Arini.
Sean yang merasa pening mencoba mengguyur tubuhnya dengan air, setelahnya dia pergi ke rumah kerja untuk melanjutkan minumnya kembali, kali ini dia minum minuman yang kadar alkoholnya rendah.
Arini yang membuka matanya sudah tidak melihat Sean di sampingnya, Arini mencoba mencarinya di kamar mandi namun nihil, Sean tak ada di sana kemudian dia keluar kamar dan kebetulan sekali pelayan hendak mengantar makan Sean ke ruang kerjanya lewat.
"Makanan itu untuk siapa?" tanya Arini
"Tuan nyonya," jawabnya.
Arini berinisiatif mengantarkan makan Sean, setibanya di ruang kerjanya Arini masuk, Sean menatapnya dengan tatapan mautnya.
Aura dingin sudah terpencar sehingga membuat ngilu Arini sehingga bicara pun terasa berat.
Arini meletakkan makanannya di meja lalu berdiri di samping Sean.
"Ada apa?" tanya Sean dengan dingin
Arini nampak canggung, rasanya seperti saat awal mengenal Sean.
Arini menghela nafas dan berkata
"Jika aku ada salah maafkan aku, tapi please jangan siksa aku dengan sikapmu yang seperti ini," kata Arini
Sean tertawa, "Kamu yakin tidak tau dimana letak salahmu?" tanya Sean
Arini mengangguk, "Jadi tolong jelaskan padaku," pinta Arini
"Mungkin aku terlalu memanjakan dirimu Arini, sehingga membuatmu tidak tau aturan," kata Sean yang membuat Arini bingung.
"Apa maksudnya?" tanya Arini
Sean menatap Arini dengan kesal, rasa sakit melihat Arini menemui Marcel di depan rumahnya kini datang kembali, ingin rasanya mengamuk namun sebisa mungkin Sean mencoba meredam amarahnya.
"Kamu seharusnya tau batasan mu, menurutmu wajar atau tidak seorang istri menemui laki-laki lain dengan sembunyi-sembunyi saat suaminya bekerja," bisik Sean.
Arini terpaku dengan menatap Sean, sungguh dia menemui Marcel bukan ada maksud apa-apa,
"Kamu salah paham sayang, aku bisa jelaskan semua," elak Arini
Sean yang tidak bisa menahan amarahnya
"Jelaskan apa! semua sudah jelas! tak ku sangka kamu tega berbuat seperti itu,' bentak Sean.
Saat hendak menjelaskan ponsel Arini berdering, ternyata ponsel Arini masih di sakunya.
Arini mengambil ponselnya dan betapa kagetnya dia ternyata yang menelpon adalah Marcel.
Melihat Arini yang memucat membuat Sean curiga lalu mengambil ponsel Arini.
Sean nampak marah karena di layar ponsel Arini
Marcel calling.