Teman Ranjang Billionaire

Teman Ranjang Billionaire
Terimalah dia


Vani menunggu Nick dengan hati yang tak karu-karuan kini pikiran negatif sudah menguasai pikiran Vani, berkali-kali Vani melihat luar jendela dengan mondar-mandir seperti setrika.


"Tega kamu mas, usia pernikahan kita baru saja seumur jagung tapi kamu sudah berbohong padaku, pasti kamu di luar punya wanita lain," oceh Vani dengan ******* ***** tangannya.


Tak beberapa lama Nick pulang, dia kaget sekali melihat Vani yang sedang melihat luar jendela


"Kamu belum tidur sayang?" tanya Nick


"Belum," jawab Vani ketus.


Nick yang merasakan aura marah dari Vani sedikit merinding, dia takut kalau Vani telah mengetahui kenyataan akan Kinan dan Keira.


Nick mendekat ke arah Vani dan memeluknya, mencoba mencairkan suasana yang sedikit mencekam.


"Jawabnya kok ketus sih sayang, kan tanya nya baik-baik," bisik Nick yang mencoba memberi sentuhan bibir pada leher Vani, memancing hasrat Vani supaya keluar.


"Kita selesaikan dulu sekarang sebelum selesai jangan harap aku akan mencairkan jatah kamu," maki Vani mencoba melepas pelukan dari Nick


Nick terlihat gugup, pikirannya sudah kemana-kemana dan Vani yang melihat Nick gugup semakin curiga kalau ada yang tidak beres dengan suaminya.


"Sebenarnya kamu ada urusan apa? kenapa kamu berbohong padaku? kerjaan sudah selesai kenapa nggak langsung pulang? kamu mampir kemana?" Vani memberondong Nick dengan banyak pertanyaan sehingga membuat Nick memucat dia nampak gugup sekali.


Kini Nick bagai tawanan yang sedang disidang di meja hijau, keringat dingin mulai mengucur membanjiri kening Nick.


Nick mengambil nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya. Inilah saatnya menceritakan semuanya pada Vani.


"Sayang, apa kamu benar-benar mencintaiku?" tanya Nick dengan menatap istrinya lekat


Vani ingin sekali menabok wajah Nick, tentu saja dia mencintai suaminya.


"Nggak usah cari gara-gara mas, tentu aku mencintaimu kenapa masih kamu pertanyakan cintaku," jawab Vani kesal.


Nick tersenyum lalu dia bertanya lagi


"Apapun yang terjadi janji ya jangan meninggalkan aku," kata Nick


Vani semakin kesal dengan suaminya, suaminya terus saja berbelit-belit.


"Sudah deh mas langsung to the poin saja jangan buat aku marah dan penasaran," sahut Vani


Nick memegang kedua pundak Vani, dia menatap wajah istrinya dengan lekat.


Nampak Nick sangat takut, tapi dia bertekad mengatakan semua sekarang daripada dia terus berbohong pada Vani.


"Aku memiliki anak," kata Nick


Vani diam memaku, tubuhnya bagai disambar petir air matanya


sudah berkumpul di pelupuk matanya siap untuk terjun bebas.


"Bagus," sahut Vani


Vani melepaskan tangan Nick yang memegangi pundaknya, dia pergi ke jendela untuk menghindari kontak mata dengan Nick.


"Maafkan aku sayang, dia adalah masa laluku kini datang kembali dengan membawa anak kami yang tidak aku ketahui sebelumnya," imbuh Nick mendekat ke arah Vani.


"Lalu kamu ingin kembali lagi dengannya dan hidup bahagia dengan mereka? lalu bagiamana dengan aku?" sahut Vani dengan air mata yang jatuh bahkan kini mulai terisak, sakit memang mendengar kenyataan dari Nick.


"Mana mungkin aku melakukan itu sayang sedangkan hatiku hanya milik kamu," ujar Nick


"Apa mau kamu mas?" tanya Vani


"Aku ingin kamu merawat anakku sayang, karena mamanya tidak akan hidup lama lagi," jawab Nick dengan sedih.


Vani terduduk di lantai, kakinya tak sanggup lagi menopang tubuhnya.


"Kenapa ini harus terjadi mas, baru saja kita menikah kamu sudah memberi buah hati hasil cintamu dengan orang lain," kata Vani


"Maafkan aku sayang, maafkan aku. Aku juga tidak tau kalau dia mengandung anakku saat itu," sahut Nick.


Nick mencoba memeluk Vani namun Vani menolak pelukan dari Nick, hatinya masih sakit saat ini. Meski ini adalah kesalahan masa lalu sebelum dirinya datang namun tetap saja Vani sakit.


Lalu Vani berdiri, "Beri aku waktu dan ruang untuk sendiri mas, untuk saat ini hatiku masih belum bisa menerima kenyataan ini," kata Vani lalu keluar kamar meninggalkan Nick yang masih memaku di kamar.


Di kamar sebelah Vani menumpahkan sakit hatinya, dia sungguh dilema saat ini.


Bertahan dengan luka masa lalu Nick atau pergi meninggalkan Nick dan rumah tangga yang baru saja di mulai.


Bahtera rumah tangganya baru saja meninggalkan pantai namun badai besar sudah menghadang yang siap-siap menghancurkan bahteranya jika pengemudi dan awak kapal tidak bisa membawa bahtera tersebut dengan ahli.


Keesokan harinya Nick berusaha mengetuk pintu kamar tamu tamu namun tidak ada sahutan ternyata saat Nick turun Vani sudah berkumpul dengan keluarganya.


"Maaf mas Nick tadi turun nggak menunggu kamu, sini sarapan," kata Vani lalu menyiapkan sarapan untuk Nick


"Kamu nggak salah pilih mantu untuk mama Nick, Vani rajin sekali," puji Mama


"Iya dong ma," sahut Nick


Mereka bercanda bersama, Vani nampak baik-baik saja sehingga membuat Nick sedikit lega.


Seusai sarapan Nick diantar Vani,


"Maksih sayang kamu udah nggak marah," kata Nick


"Aku hanya tidak ingin keluarga kamu tau kalau kita ada masalah jadi aku harus bersikap baik-baik saja di depan mereka," ucap Vani lalu mencium punggung tangan suaminya.


Nick sempat berfikir Vani sudah baik saja namun ternyata masih belum.


Dua hari berlalu, Vani masih dengan diamnya. Dia masih belum bisa menerima kenyataan dari Nick sehingga membuat Nick terpaksa membawa pulang Keira karena keadaan Kinan semakin buruk, jika Vani masih belum bisa menerimanya mungkin orang taunya mau merawat Keira.


"Ma," panggil Nick dengan menggendong Keira.


Semua yang ada di situ menoleh, begitu pula dengan Vani.


Vani pamit ke kamar, karena dia belum sanggup melihat anak Nick dengan wanita masa lalunya.


"Ini siapa Nick?" tanya mama


Nick nampak diam sesaat lalu dia menghela nafas dan jujur pada mamanya


"Anak Nick ma," jawab Nick


Semua yang ada di sana terlihat shock, bagaimana bisa Nick memiliki anak.


Nick akhirnya menjelaskan pada mamanya, terlihat mereka semua iba akan nasib Keira dan berjanji akan ikut merawat Keira.


"Dia mirip sekali dengan kamu Nick," kata mama lalu menggendong cucunya tersebut.


Nick menitipkan Keira sebentar, dia pergi menemui Vani, Nick masuk ke dalam kamar tamu, di sana Vani nampak menangis.


"Maafkan aku, mamanya keadaanya memburuk jika menunggui Keira di rumah sakit tentu aku tidak pulang jadi aku bawa dia pulang," kata Nick mendekati Vani.


"Jangan mendekat mas!" teriak Vani, namun Nick mengindahkan teriakan Vani, dia memeluk istrinya meski istrinya meronta.


"Aku mohon terimalah dia, kini mamanya adalah dirimu,"