Teman Ranjang Billionaire

Teman Ranjang Billionaire
Buka type saya


"Hehehe maaf pak Nick tadi saya terpaksa bilang seperti itu supaya Rio tidak mengganggu saya." Vani memegangi tengkuknya merasa tak enak dengan Nick


"Udah biasa saja," sahut Nick


Vani bertambah tak enak sedangkan Nick hanya tersenyum. Perawakan Nick bersih, tinggi dan tampan meskipun Nick adalah orang Indonesia tapi wajahnya mirip-mirip oppa Korea dan anehnya namanya malah mengusung nama barat.


Mungkin orang tua Nick ngefans sama orang barat mangkanya menamai anak mereka dengan nama barat.


Vani sebelas dua belas dengan Arini meskipun masih bar bar an Arini, dari segi fisik Arini lebih pendek dari Vani oleh sebab itu Shane mengejeknya berkaki pendek seperti bebek.


Sebenarnya Vani ngefans sama Sean dan juga Nick tak hanya Vani semua pegawai wanita pasti mengagumi mereka berdua secara wajah mereka cakep-cakep sekali namun hanya perangai mereka yang sedikit jaim.


Tentu sejaim jaimnya Nick tetap jaiman Sean secara Sean adalah Presdir perusahaan.


Pikiran Vani terus melayang kemana-mana sebenarnya dapat satu mobil dengan Nick bagai kejatuhan bulan, peristiwa langka seperti ini mungkin pertama dan terakhir kalinya untuk Vani.


"Apa yang kamu lamun kan Van?" tanya Nick


"Kamu lah pak memang siapa lagi," jawab Vani


Sadar akan yang diucapkannya Vani menoleh dan meringis


"Duh.... dasar mulut gak pernah sekolah," gumamnya


"Mulutku juga nggak sekolah kok Van," sahut Nick


Vani semakin malu ingin rasanya dia melompat dari mobil Nick.


Vani tak menjawab apa-apa dia takut kalau salah ngomong lagi yang nantinya malah membuatnya semakin malu.


Pikiran Vani melayang kemana-mana hingga saat mobil sudah diparkiran, Vani tidak sadar karena dia asik dengan lamunannya.


"Sudah sampai Van," kata Nick


Vani yang mulai sadar menjadi malu, "Maaf pak Nick," sahut Vani gugup


Karena gugup Vani hingga kesulitan membuka safety belt yang menyilang di tubuhnya


Nick yang melihatnya berinisiatif membantu Vani namun lagi-lagi Vani menganggapnya lain. Bahkan saat Nick mendekat dia malah memejamkan mata.


Nick mengerutkan alisnya


Ceklek


"Udah terbuka safety belt nya, kamu bisa turun Van," kata Nick


Vani membuka matanya, sungguh dia malu sekali. Bisa-bisanya dia berpikiran yang gak gak.


Aaahhhh


"Bodohnya aku," kata Vani dengan meringis malu.


Saat hendak menurunkan kakinya Nick memanggil Vani


"Van,"


Vani menoleh


"Iya pak," sahutnya


"Kelihatannya kamu sangat berharap," timpal Nick dengan tertawa


Vani membolakan matanya, dia sungguh malu dengan perkataan Nick.


Vani bergegas turun dan berlari masuk kantor, dia benar-benar malu.


Di sisi lain Arini dan Sean menghabiskan waktu di cafe, Sean terus saja manja dengan Arini.


"Sayang bawaanya kok pengen manja-manja ma kamu ya," kata Sean


"Ya bagus dong, asal nggak pengen manjat selalu," sahut Arini


Sean terkekeh mendengar perkataan Arini,


"Kamu juga kan menikmati sayang," timpal Sean


Sean tertawa, melihat Arini tertawa lepas tanpa beban membuat Sean bahagia sebelumnya dia tidak sebahagia ini, meskipun dulu jatuh cinta dengan Amira namun dia tidak pernah merasa sebahagia ini.


Karena sudah lelah Arini mengajak Sean untuk pulang. Namun karena masih ada urusan di kantor Sean malah mengajak Arini untuk menemaninya bekerja.


"Baik lah," ucap Arini pasrah


Sean menghubungi Nick untuk menjemputnya lagi,


"Nick apa nggak sebaiknya kamu berkencan dengan Vani," kata Sean yang seketika membuat Nick ngerem mendadak


Sean yang kaget menjadi kesal


"Woi aku masih ingin hidup," omel Sean


"Maaf pak, saya shock dengan perkataan anda tadi," sahut Nick membela diri


Nick melajukan mobilnya kembali,


"Jadi bagaimana Nick?" tanya Sean


Nick pura-pura gagal paham, "Apanya pak," tanya Nick balik


"Vani," jawab Sean


"Vani bukan tipe saya pak, tipe saya adalah wanita yang lemah lembut, kalau Vani kelihatannya hampir sama dengan nona Arini," sahut Nick


"Jangan begitu kalau kamu bucin seperti bos mu baru tau rasa," timpal Arini


Nick hanya tersenyum, sebenarnya dia cukup tertarik dengan Vani tapi dia masih belum memikirkan wanita.


Sesampainya di kantor Arini hendak menemui Vani namun Sean melarangnya karena dia tidak ingin jauh-jauh dari Arini.


"Tuan, aku kok lapar lagi ya," kata Arini


Sean menghentikan jari jemarinya yang menari di atas keyboard, lalu melemparkan tatapannya pada Arini


"Ingin makan apa?" tanya Sean


"Aku ingin makan bakso beranak, trus minumnya es campur, camilannya buah mangga," jawab Arini


"Ada lagi yang lain?" tanya Sean


"Nggak, sementara itu dulu," jawab Arini


Sean meminta OB untuk membelikan Arini makanan yang dimintanya. Setelah makanannya datang Arini meminta Sean untuk menyuapinya.


"Tuan suami, suapi aku dong," pinta Arini


"Sayang kamu makan sendiri ya karena aku masih sibuk," kata Sean


Ntah mengapa mendapat penolakan dari Sean membuat Arini kesal dan kecewa.


Arini membiarkan makanannya di meja, dia memilih tidak makan karena Sean tidak mau menyuapinya.


Arini merebahkan dirinya di sofa lalu tidur, tak lama kemudian dia sudah terlelap.


Sean yang selesai dengan pekerjaannya pun turun dari kuris kebesarannya, dia mengerutkan alisnya saat tau kalau makanan Arini masih utuh tak dimakan sama sekali.


"Kok belum dimakan," batin Sean, dia mengira kalau Arini sudah menghabiskan makanannya.


Sean membangunkan Arini yang tidur, "Sayang bangun," kata Sean dengan menggoyang tubuh Arini


Dengan malas Arini bangun, dia memutar bola matanya menatap Sean.


"Kenapa nggak dimakan?" tanya Sean


"Malas, gak ada yang nyuapi," jawab Arini


Sean menghela nafas, dia meminta maaf pada Arini dan berharap Arini memaafkannya.


"Baik lah, suapi sekarang ya," pinta Arini


Tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan Daffa masuk ke dalam.


"Wah makan besar ni," kata Daffa dengan tersenyum


Daffa mendekat dan langsung duduk.


"Kamu sakit Arini?" tanya Daffa


"Nggak, cuma anak kami yang meminta disuapi ayahnya," jawab Sean


Daffa kaget mendengar kata Sean, ntah mengapa hatinya agak kecewa dan sakit mengetahui kehamilan Arini.


Walau sakit dia mencoba tersenyum


"Wah, tok cer juga kecebong mu Sean, ga menyangka sahabatku ini akan menjadi seorang ayah," kata Daffa


"Pastilah Daffa, kecebong ku kan sehat dan subur sekali masuk langsung jadi," sahut Sean dengan tertawa


"Aku dengar Amira dibawa ke psikiater, apa benar?" tanya Daffa


"Ntah lah Daffa," jawab Sean.


"Aku tak menyangka Amira senekat itu Sean," sahut Daffa


Daffa dan Sean mengobrol tentang Amira, sehingga membuat Arini kesal dan juga marah.


"Kalian kenapa membicarakan si kuntilanak itu, buat nafsu makan berkurang saja," gerutu Arini


Sean dan Daffa tertawa, "Ada yang panas ni," goda Daffa


Arini mencubit tangan Daffa sehingga membuat Sean kesal.


"Bukan muhrim jadi nggak boleh bersentuhan," kata Sean kesal