
Vani tersenyum malu
"La pak Nick juga gitu," kata Vani
Akhirnya mereka mengobrol hingga tak sadar hujan telah berhenti, Nick mengajak Vani makan terlebih dahulu baru mengantarnya pulang.
Semenjak saat itu hubungan Vani dan Nick semakin dekat, Vani yang telah lama tertarik dengan Nick akhirnya memunculkan Virus yang dinamakan cinta.
"Pak Nick, aku sayang kamu," gumam Vani dengan menatap langit-langit kamarnya.
"Meskipun cinta tetap jual mahal dan jaga image ya Van kalau nggak, kamu bisa dipanjat oleh Nick," imbuh Vani
Di sisi lain Arini menghampiri Sean yang sedang menyibukkan diri di ruang kerjanya.
Melihat Sean yang sibuk membuat Arini mengurungkan niatnya untuk menganggu suaminya namun saat hendak berbalik Sean malah memanggilnya
"Sayang," panggil Sean
Arini memutar bola matanya menatap Sean yang sedang duduk di kursi kerjanya
"Mau kemana?" tanya Sean
"Awalnya aku ingin mengganggumu tapi kelihatannya kamu sibuk sekali jadi urung deh," jawab Arini lalu mendekat ke arah Sean.
"Kemari lah," titah Sean dengan menepuk pahanya
Arini pun duduk di pangkuan Sean, dia mengalungkan tangannya pada leher Sean.
"Masih lama kerjanya?" tanya Arini
"Sebentar lagi, setelah itu aku juga mau bekerja lagi," jawab Sean
Arini mengerutkan alisnya, dia bingung dengan jawaban Sean
"Kerja di mana lagi?" tanya Arini
"Di ranjang lah, manjat kamu," sahut Sean dengan tertawa
Arini mencibirkan bibir kesal dengan Sean ternyata yang dimaksud kerja lagi adalah mengerjai dirinya.
"Kamu memangnya nggak bosan sayang tiap hari manjat aku terus?" tanya Arini
"Nggak lah, tubuhmu tu udah jadi candu sayang bahkan jadi kebutuhan pokok bagiku seperti makan kalau nggak manjat aku lemes dan mungkin bisa mati," jawab Sean
Arini menggelengkan kepala
"Trus kalo nanti aku melahirkan gimana? pasti kan setelah melahirkan aku nifas," ucap Arini
Sean nampak berfikir,
"Entah lah sayang, dipikir nanti," sahut Sean.
Sean segera menyelesaikan pekerjaannya supaya bisa segera memanjat istrinya.
Arini dengan setia menunggui Sean yang sibuk dengan kerjaannya.
*********
"Sayang setelah ini aku akan ada tamu," kata Sean
"Ya sudah aku ke ruangan cleaning service atau ke rooftop saja," sahut Arini.
"Maaf ya sayang," timpal Sean lalu memeluk istrinya.
Dia mengecup semua wajah Arini, bahkan dia mengecup leher Arini sehingga meninggalkan jejak merah di sana.
"Sayang sudah, nanti kamu pengen," kata Arini
Sean melepaskan pelukannya, "Lihatlah sayang," kata sean sambil menunjuk bagian bawahnya
Terlihat rudalnya ingin menyembul keluar, karena gemas Arini menjatuhkan tangannya sehingga membuat Sean memekik kesakitan
"Ini rudal hidup sayang, kamu kira nggak sakit," pekik Sean dengan memegang rudal Jerico miliknya
"La kamu cabul sekali," sahut Arini dengan terkekeh
Tak selang berapa lama, Nick datang dan memberitahukan kalau klien nya sudah menunggu di loby,
Arini bergegas keluar dari ruangan Sean, menuju ruang cleaning service untuk menemui Vani.
Hari ini adalah jadwal Daffa untuk ke kantor Sean, Daffa tampak tersenyum karena dia bisa bertemu dengan Arini.
"Meskipun hanya bertemu dan melihat mu tersenyum itu sudah cukup bagiku Arini," gumam Daffa
Shane yang mendengarnya hanya bisa menggelengkan kepala, dia tak menyangka bos nya jadi bodoh seperti ini.
"Kalau anda mau, saya bisa mencarikan wanita yang lebih dari Arini boz. Anda tampan, kaya, punya perusahaan pasti banyak wanita yang suka." Shane mencoba memberi option pada Daffa
"Terima kasih Shane, aku mau setia dulu dengan rasaku," sahut Daffa menolak
Mobil Shane sudah berbelok di perusahan Sean. Daffa segera turun lalu pergi ke ruangan Sean.
Saat hendak masuk terlihat Sean mendapatkan tamu beberapa orang kewarganegaraan asing.
Karena tidak ingin menganggu Daffa pergi ke rooftop sambil menunggu Sean, sedangkan Shane pergi ke ruangan Nick.
********
"Maaf ya Rin, aku harus bekerja lagi," kata Vani dengan raut wajah tak enak
"Oh iya Van, kamu kerja aja. Aku mau ke rooftop lama nggak kesana," sahut Arini
"Kamu tu suka sekali pergi ke rooftop, awas kesambet," timpal Vani dengan terkekeh
Arini menepuk bahu sahabatnya tersebut lalu dia berjalan menuju lift untuk naik ke rooftop.
Ternyata di sana juga ada Daffa yang asik dengan lamunannya.
"Wah ada mas Daffa," gumam Arini lalu berjalan mendekati Daffa
Dor
Arini mengageti Daffa dan Daffa sangat kaget,
"Kamu tu ya, untung aku nggak punya riwayat sakit jantung, coba kalau iya pasti udah mati aku," oceh Daffa
"Kalau mati ya tinggal dikubur mas," sahut Arini dengan terkekeh
Daffa tertawa dengan menatap Arini, dia sangat bahagia melihat Arini tertawa lepas.
Puas menatap Arini, Daffa melemparkan tatapannya ke langit luas.
"Mas Daffa ngapain kesini?" tanya Arini
"Nggak ngapa-ngapain, tadi aku mau keruangan suami kamu tapi dia ada tamu jadi aku pergi kesini sambil menunggu tamunya pergi," jawab Daffa
"Kalau kamu sendiri?" tanya Daffa balik
"Aku juga menunggu Sean mas, tadi ngobrol dengan Vani tapi karena Vani mau kerja jadi aku kesini sambil melihat langit," ujar Arini
Daffa tersenyum dengan pandangan ke atas langit yang agak mendung
"Rin, kamu nggak nyidam ingin peluk aku lagi?" tanya Daffa dengan menatap Arini
Arini diam sesaat lalu dia tertawa, "Udah nggak, kemarin tu belum puas aku meluk mas Daffa, gara- gara monster kampret Sean, biar saja esok kalau anaknya ileran," jawab Arini dengan menggerutu
Mendengar jawaban Arini membuat Daffa tertawa, hanya Arini lah yang berani mengatai Sean monster kampret.
Di sisi lain tamu Sean sudah pergi, Sean segera ke ruangan cleaning service untuk memanggil Arini
Setibanya di ruangan cleaning Sean tidak melihat siapa pun,
"Kemana dia," gumam Sean
Sean bertanya pada beberapa OB dan juga cleaning service lainnya namun mereka tidak melihat Arini.
Saat hendak kembali ke atas, Sean berpapasan dengan Vani.
"Van, mana Arini?" tanya Sean
"Arini tadi pergi ke rooftop pak," jawab Vani
Sean segera melangkahkan menuju lift, baru sebentar tidak melihat istrinya Sean sudah merasa rindu.
*****
Daffa terus saja menatap Arini dengan lekat, sehingga membuat Arini kikuk
"Jangan menatap aku seperti itu mas, ntar kamu naksir," kata Arini sambil terkekeh
"Aku udah naksir kamu sejak lama Arini," sahut Daffa
Arini terdiam, dia shock mendengar jawaban Daffa namun tiba-tiba Daffa tertawa keras sehingga membuat Arini bingung
"Maaf maaf aku hanya bercanda, mana mungkin aku menyukai wanita berkaki bebek seperti kamu," ejeknya
Arini mendengus kesal, Daffa yang sudah tak kuat menahan keinginannya untuk memeluk Arini pun segera mendekap wanita yang dicintainya itu dan bersamaan datanglah Sean.
"Daffa! Arini!" teriak Sean marah
Tangan Sean mengepal, rahangnya mengeras dengan langkah cepat dia menghampiri Daffa dan Arini
Buggghhhh
Pukulan mendarat sempurna di pipi Daffa