Teman Ranjang Billionaire

Teman Ranjang Billionaire
Salah paham


Puas mengobrol dengan temannya Nick kembali lagi ke mobil, Nick mengerutkan alisnya karena dia melihat Vani yang senyum-senyum sendiri tak jelas.


"Kamu kenapa Van?" tanya Nick


Vani tersenyum sambil menggelengkan kepala, kini suasana hening terjadi diantara keduanya, Nick maupun Vani sama hanyut dengan pikiran masing-masing.


Tak berselang lama mereka sampai di rumah sederhana Vani,


"Van aku nggak mampir ya, karena ada yang harus aku kerjakan," kata Nick


Vani terdiam, dia bingung kok Nick nggak memberikan bungkusan yang berada di jok belakang.


Hingga dia turun tapi Nick diam saja, pikiran Vani kini traveling kemana-mana. Asumsi negatif menyeruak merasuki pikiran dan hati Vani sehingga mata Vani mulai basah dibuatnya.


"Apa kalung itu buat wanita lain?" Vani bermonolog dengan dirinya sendiri.


Vani berkali-kali melihat ponselnya, dalam aplikasi chating nya terlihat Nick online tapi dia tidak mengirim pesan sama sekali pada Vani.


Vani mencoba melakukan panggilan namun Nick berada dalam panggilan lain. Sepuluh menit kemudian Nick masih saja dalam panggilan lain bahkan tiga puluh menit kemudian masih saja dalam panggilan lain.


Vani yang kesal menaruh ponselnya di bawah bantal,


"Pasti kamu sibuk telpon dengan wanita lain," gumam Vani


Vani yang tidak ingin terjebak dalam kerisauan hatinya mencoba untuk memejamkan mata dan akhirnya dia terlelap juga.


Keesokannya Nick mendatangi perusahaan BIA Grup lagi, rencannya dia ingin memberikan kalung berlian pada Viona sebelum dia memberikan kalung itu ternyata Viona sudah menyetujui kerja sama diantara mereka.


"Kami berminat kerja sama dengan perusahaan anda," kata Viona


"Terima kasih Nona Viona ini akan menjadi berita bagus untuk Presdir kami," sahut Nick.


Nick mengambil tasnya dan mengeluarkan kotak merah yang berisi kalung berlian.


"Ini ada ucapan terima kasih dari kami Nona," kata Nick sambil menyodorkan kotak warna merah pada Viona.


Viona membukanya dan dia nampak senang melihat kalung berlian yang indah.


"Saya harap anda mau menerimanya," imbuh Nick


Viona mengangguk, "Baiklah saya akan menerimanya karena anda yang memaksa," sahut Viona.


Tak berselang lama seorang pria masuk, dia langsung memeluk Viona.


"Kenalkan pak Nick, suami saya," kata Viona


Nick mengulurkan tangan dan mereka berkenalan, karena Nick tidak ingin menganggu akhirnya dia memutuskan kembali ke kantor.


Di kantor Nick langsung memberikan laporan pada Sean terkait perusahaan BIA yang menerima kerja sama yang Nick ajukan.


"Bagus Nick, bulan depan kamu dapat bonus dariku," ujar Sean.


Nick tersenyum puas, setelah berbincang-bincang dengan Sean dia pamit kembali ke ruangannya.


Sebelum kembali ke ruangannya Nick menyempatkan diri menemui Vani, dari kejauhan nampak Vani sedang mengepel lantai pantry.


"Van," panggil Nick


Vani menoleh lalu melanjutkan pekerjaannya kembali. Ntah mengapa dia sangat kesal pada Nick,


Nick sudah di depan matanya tapi Vani seolah tak menganggap Nick ada. Dia masih saja melanjutkan pekerjaannya, hal ini membuat Nick heran pasalnya sikap Vani nggak pernah gini. Saat Nick datang pasti dia menghentikan pekerjaannya kalau gak gitu melakukan pekerjaannya sambil mengobrol dengan Nick.


"Kamu kenapa Van?" tanya Nick


"Nggak papa," jawab Vani


Vani yang sudah menyelesaikan pekerjaannya segera memberesi peralatannya


"Mohon maaf pak Nick saya mau melanjutkan pekerjaan saya," katanya lalu pergi


Nick hanya menatap nanar punggung Vani yang meninggalkannya. Dalam kepala Nick muncul berbagai pertanyaan, bingung dengan sikap Vani yang tiba-tiba berubah.


Pekerjaan yang banyak membuat Nick tidak memikirkan sikap Vani padanya.


Saat sore tiba Vani pulang terlebih dahulu tanpa menunggu Nick.


Biasanya kalaupun Nick pulang bersama Sean, Vani pasti menunggu untuk mengobrol sebentar namun tidak kali ini.


Nick pun mengeluarkan ponselnya, dia mengirim pesan pada Vani.


Terlihat dia online tapi pesan Nick tidak kunjung dibaca.


Nick yang kesal memasukkan ponselnya dalam saku celananya dan kembali ke ruangannya guna menunggu Sean.


Vani tersenyum menyeringai, dia sengaja tidak membuka pesan Nick.


"Kalian semua lelaki brengsek semua, tukang selingkuh, jangan mentang-mentang kamu bos aku bisa mempermainkan perasaanku," gumam Vani lalu merebahkan dirinya di kasur.


Di sisi lain, Sean yang baru saja sampai rumah langsung mendapat pelukan dari Arini.


"Sayang aku kangen sekali," kata Arini


Arini mendengus bau asam Sean, dia tidak melepaskan pelukannya dan pelayan yang melihatnya nampak tersenyum melihat majikan mereka.


"Sayang pindah di kamar yuk sekalian kita bisa main panjat panjatan," bisik Sean yang membuat Arini melepas pelukannya.


"Tu maunya kamu," sahut Arini.


Arini dan Sean masuk kamar, setelah Sean membersihkan diri dia menyusul Arini di tempat tidur.


"Sayang, apa kamu tidak memiliki media sosial?" tanya Arini


"Nggak, nggak punya waktu untuk bermedia sosial, lagipula aku suka menghabiskan waktu ku mengurusi bisnis daripada harus bermedia sosial," jawab Sean


"Kamu punya?" tanya Sean balik


"Punya," jawab Arini


"Pantes jadi ratu gosip, update selalu berita terbaru," sahut Sean.


Arini tertawa merekah, "Nggak juga sayang, hanya saat aku lagi bosan saja, kalau bersama kamu mana berani aku buka ponselku yang ada ponselku kamu buang seperti dulu," timpal Arini.


Sean tertawa, meskipun dibuang tapi kan Sean menggantinya dengan ponsel yang lebih bagus.


Pagi ini rencananya Viona akan datang ke kantor Sean guna membicarakan kerja sama mereka sekalian mengucapkan terima kasih atas hadiah yang diberikan oleh Sean.


Vani yang hendak mengepel loby tak sengaja berpapasan dengan Viona, mata Vani tertuju pada kalung yang dipakai oleh Viona.


"Kalung itu," batin Vani.


Pikiran Vani traveling kemana-mana, Penghianatan mantan kekasihnya terdahulu teringat kembali meski sempat dia lupakan.


"Tega kamu mas, kini kamu ciptakan luka baru dan kamu bukan luka lama yang belum mengering lukanya," Vani bermonolog dengan dirinya sendiri.


Karena pikirannya bercabang kemana-mana, Vani mengepel dengan asal bahkan lantai terlihat sangat basah karena dia tidak memeras alat pel yang dibawa.


Banyak pegawai yang protes namun Vani tidak mengindahkannya sehingga mereka semua marah pada Vani.


Nick yang kebetulan dari luar segera mendatangi Vani yang dimarahi oleh para pegawai.


Nick menyuruh mereka semua kembali bekerja dan Vani berjalan masuk ke dalam ruangan cleaning service.


"Kamu kenapa sih Van?" tanya Nick kesal karena dari kemarin Vani menghindarinya.


Vani tersenyum sinis, "Nggak usah pura-pura, aku tau kamu punya kekasih lagi. Dia tadi kesini mungkin sekarang di ruangan kamu," kata Vani dengan ketus


Nick menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia sungguh tidak mengerti dengan maksud Vani. Pura-pura apa dan wanita siapa? itulah yang kini ada dalam otak Nick.


"Apa sih maksud kamu?" tanya Nick dengan memegang tangan Vani namun Vani mencoba melepasnya.


"Dasar buaya, aku benci kamu!" teriak Vani yang membuat Nick kesal dan menyambar bibir Vani.