Teman Ranjang Billionaire

Teman Ranjang Billionaire
Cemburu


"Harus gitu," sahut Vani dengan kesal


"Kalau dipotong gimana making love nya sayang," timpal Nick dengan terkekeh.


Vani melemparkan tatapan tajamnya pada Nick, heran dengan calon suaminya tersebut.


"Gampang saja, aku tinggal cari yang lain," kata Vani dengan terkekeh


"OOO gitu, ok carilah yang lain. Mumpung kita di Belanda silahkan cari bule di sini," sahut Nick lalu melangkahkan kaki ke tempat tidur dan pura-pura merajukkan diri.


"Lo kok ngambek sih mas," ucap Vani lalu menyusul Nick.


Vani menggoyang-goyang tubuh Nick tapi Nick masih saja pura-pura merajuk. Vani pun memeluk Nick dari belakang,


"Mas kamu ni apaan sih, dimana-mana yang merajuk tu wanitanya bukan pria," kata Vani


"Tapi kali ini beda," sahut Nick


"Maaf deh mas, iya-iya nggak cari yang lain kan ada kamu di hatiku mas." Vani bergombal ria untuk membujuk Nick


"Buktikan dong," timpal Nick.


"Kamu mau bukti?" tanya Vani


Vani langsung membalikkan badan Nick lalu menyambar bibir Nick dengan rakus, Nick sempat kewalahan mengimbangi serangan mendadak dari Vani.


Puas berpaut kini mereka menangkap oksigen sebanyak-banyaknya.


"Kamu agresif juga ya sayang," kata Nick yang membuat Vani malu.


"Kan kamu yang mengajari mas," timpal Vani tanpa menatap Nick.


Otak Nick traveling kemana-mana membayangkan Vani bermain dengan agresif di atasnya.


Otaknya sudah terkontaminasi hal-hal yang berbau me sum sehingga Nick jadi frustasi sendiri.


"Aku cicip dikit dong sayang," pinta Nick


Vani melemparkan tatapan tajamnya pada Nick, sehingga membuat Nick terkekeh.


"Kamu pikir aku makanan bisa dicicip," gerutu Vani.


Nick menyuruh Vani untuk istirahat karena Nick ingin keluar sebentar bisa bahaya jika bersama dengan otak yang sudah traveling kemana-mana.


"Jangan lama-lama ya mas, karena aku takut," pinta Vani


"Siap boz," sahut Nick.


Nick menuju loby hotel untuk merokok dan menormalkan pikirannya, saat asik merokok datang seorang yang bergabung dengan Nick yang akhirnya mereka mengobrol kesana kemari hingga Nick lupa waktu, dia lupa dengan Vani yang menunggunya di kamar dia juga lupa kalau mereka belum makan siang.


Waktu sudah menunjukkan jam lima waktu setempat, Nick segera kembali ke kamarnya namun sebelumnya Nick membelikan makanan dulu untuk Vani di restoran hotel.


Saat masuk dia melihat Vani berdiri sambil menatap luar di jendela.


"Sayang, maaf aku baru kembali," kata Nick meminta maaf.


"Iya," jawab Vani singkat


Nick memeluk Vani dari belakang, tapi dengan segera Vani melepaskannya karena kesal sekali dengan Nick.


'Nggak usah peluk peluk, malas aku sama kamu mas," kata Vani tanpa menatap Nick.


"Jadi kamu marah nih ma aku, iya iya sayang maafkan aku, tadi ada seseorang bergabung denganku di loby kami bercerita panjang kali lebar." Nick mencoba menjelaskan pada Vani.


Vani hanya diam mendengar cerita dari Nick, Vani sungguh kesal dengan Nick karena telah meninggalkannya di kamar lama sekali apalagi dia belum makan.


Vani yang mendiamkan diri membuat Nick menghela nafas, "Baiklah habiskan dulu marahnya, aku tidak mau mengganggu," kata Nick


Sesekali Nick melirik Vani berharap Vani segera menyelesaikan marahnya. Karena memang sungguh tak nyaman diam diaman dengan pasangan baik yang sudah halal atau belum.


Karena tak kunjung reda marahnya, akhirnya Nick fokus dengan pekerjaannya sehingga melupakan Vani yang semakin kesal dengannya.


Vani kini gantian melirik Nick, lalu dia menghela nafas.


"Dari tadi nggak selesai-selesai," gerutu Vani dalam hati.


Merasa dicueki terlalu lama Vani memutuskan keluar kamar, bingung kemana akhirnya Vani duduk di loby hotel, asik sendiri tiba-tiba ada seorang bule yang mendekatinya, mereka berdua juga mengobrol lalu pria tersebut mengajak Vani untuk makan malam.


Vani menerimanya karena kesal dengan Nick, lalu mereka makan malam bersama di restoran.


Mereka makan dengan diselingi canda tawa setiap orang yang melihatnya mereka pasti disangka sepasang kekasih.


Meskipun bahasa Inggris Vani jauh dari fasih namun mereka tetap asik mengobrol.


Nick yang baru sadar kalau Vani tidak ada berusaha mencari di kamar mandi namun dia tidak menemukan Vani di dalamnya, karena takut terjadi apa-apa Nick mencari Vani.


Dia keluar mencari kekasihnya tersebut dan betapa kagetnya Nick saat melihat Vani mengobrol dengan pria di restoran dan mereka juga terlihat sangat akrab.


Cemburu iya, sakit pasti namun Nick juga menyadari kalau memang awal mulanya dia lah yang salah.


Bola mata Nick terus saja menatap Vani yang tertawa lepas dengan pria lain. Ingin sekali menghampiri Vani namun takut kalau malah membuat keributan di sana.


Vani yang tengah memutar bola matanya tak sengaja melihat Nick yang juga menatapnya, Nick membalikkan badannya lalu pergi meninggalkan restoran.


Vani segera berlari mengejar Nick, beberapa kali Vani memanggil Nick tapi diabaikan oleh Nick. Dia terus berjalan menuju kamar.


"Mas maafkan aku," kata Vani menyesal.


"Ngapain minta maaf kamu nggak salah," sahut Nick ketus.


Karena tak ingin debat lama-lama dia menyuruh Vani istirahat sedangkan dia mengerjakan pekerjaannya kembali.


"Mas, aku nggak suka dicueki," teriak Vani


Nick menutup laptopnya lalu menatap Vani dengan kesal.


"Lalu mau kamu apa?" tanya Nick


Vani menatap Nick, dia bingung harus menjawab apa.


"Lebih baik kembalilah ke restoran dan mintalah teman bule mu tadi menemanimu karena aku tidak bisa menemanimu," imbuh Nick lagi yang menyulut emosi Vani.


"Masalahmu apa sih mas?" tanya Vani dengan nada tinggi


"Aku nggak punya masalah ma kamu, bukannya kamu yang marah padaku, lalu pergi meninggalkan aku di kamar dan asik dengan Bule itu" jawab Nick dengan nada yang tak kalah tinggi.


Vani menghela nafas dia tau kini kalau Nick cemburu.


"Kamu cemburu?" tanya Vani


"Sudah tau kenapa masih bertanya?" jawab Nick keceplosan.


Nick merutuki kebodohannya sendiri dalam hati, bisa-bisanya ngaku kalau sedang cemburu.


Pasti Vani menertawainya dalam hati.


"Kamu nggak bilang soalnya jadi aku hanya bermain dengan asumsi-asumsi yang datang padaku," sahut Vani dengan kesal.


Mereka debat lagi dengan panjang kali lebar, sehingga membuat Nick langsung saja melahap bibir Vani dengan rakus, Vani mencoba meronta dengan segenap tenaga yang dimilikinya namun Nick jauh lebih kuat ibarat kata tenaga Vani adalah tenaga kambing sedangkan Nick adalah tenaga kuda.


"Jika kamu mengobrol dengan laki-laki lain lagi, aku tak segan-segan memajukan malam pertama kita," ancam Nick yang membuat Vani merinding.