Teman Ranjang Billionaire

Teman Ranjang Billionaire
Pergi menyelamatkan Arini


Nick hanya bisa menggelengkan kepala, gemes rasanya kenapa masalah nggak segera diselesaikan dengan bijak, kalau sudah begini pasti ujung-ujungnya dia yang repot.


"Kamu pergi lagi kah sayang?" gumam Sean dengan raut serta hati yang tidak karu-karuan.


"Iya," sahut Nick dalam hati.


Sean memerintahkan Nick mengecek semua akses pengeluaran Arini dan tidak ada penarikan dalam jumlah besar hari itu.


"Nona Arini tidak melakukan penarikan uang sama sekali hari ini," kata Nick yang membuat Sean semakin galau, dia yakin ada yang tidak beres dengan istrinya.


"Dia tidak pergi, aku yakin pasti ada yang tidak beres. Kalau dia pergi meninggalkan aku pasti dia melakukan penarikan uang yang banyak terlebih dahulu sebelum pergi jauh seperti yang dulu. Apalagi tadi Vani bilang kalau dia pucat," terka Sean.


Sean memerintahkan Nick untuk mengecek seluruh rumah sakit yang berada di kota ini dia takut kalau terjadi apa-apa.


Dalam sekali kirim pesan, proses pemeriksaan data pasien seluruh rumah sakit tengah dikerjakan dan beberapa waktu kemudian laporan sudah dikirim di email milik Nick.


Nick mengecek satu persatu, dari hampir belasan rumah sakit tak ada satu pasien yang bernama Arini, kalaupun ada itu bukan nyonya nya.


"Tidak ada pak." Nick memberi laporannya.


Sean semakin lemas, dia bingung harus ngapain. Dia memerintahkan anak buahnya untuk mencari Arini di manapun, semua harus di cek mulai Bandara, stasiun, terminal dan juga pelabuhan.


Nick meminta Vani untuk melihat riwayat taxi online yang dipake Arini guna mencari tau siapa Drive nya.


Setelah mendapatkan nomor Drive nya, Nick segera menghubungi namun tidak diangkat.


Berkali-kali menghubungi namun tidak diangkat, hingga Nick kesal dan memukul sofa.


"Sial susah sekali dihubungi. Kenapa nggak dibuang saja ponselnya," gerutu Nick yang membuat Sean menoleh.


"Ada kabar?" tanya Sean


"Saya sedang menghubungi driver taxi yang tadi ditumpangi Nona Arini pak," jawab Nick.


Sean menyunggingkan senyuman, asistennya sungguh jenius kenapa dia tidak kepikiran kesana. saking senangnya Sean memeluk Nick, sehingga membuat mata Nick membola, bekerja dengan Sean hampir lima tahun baru kali ini Sean memeluknya.


"Sudah pak, nggak enak dilihat para pelayan nanti dikiranya kita ada hubungan spesial," kata Nick


"Brengsek apa maksud kamu ada hubungan spesial, aku masih normal," sahut Sean kesal.


Nick tersenyum kaku mendengar kata Sean, ponsel Nick berbunyi dan yang memanggil adalah supir taxi online yang sebelumnya dia hubungi.


Sopir menjelaskan kalau Arini tengah diculik oleh dua orang, sopir juga memberitahu alamatnya pada Nick.


"Ayo kita kesana," ajak Sean lalu dia berdiri.


Kini dia dan Nick pergi ke alamat yang diberikan oleh driver, namun saat tiba di lokasi rumah tersebut nampak kosong tidak ada satu orang pun di sana, Sean dan juga anak buahnya tidak menemukan apapun di sana selain sampah makanan yang menumpuk.


Marcel kelihatannya lebih cerdik dari Sean, dia memang sengaja mengecoh Sean karena dia pasti tau kalau Sean menghubungi driver taxi online tadi.


"Brengsek driver itu, beraninya dia berbohong pada kita," umpat Sean dengan mengusap rambutnya kasar.


Nick melihat sekitar, dia menemukan sepatu Arini yang tercecer satu, "Lihatlah pak, bukankah ini sepatu nona Arini," kata Nick.


Sean menghampiri Nick yang jongkok dengan mengamati sepatu Arini.


"Iya ini sepatunya," sahut Sean.


Sean nampak lemas lagi, dibawa kemana istrinya dia dalam keadaan baik-baik saja atau tidak.


Sean menghubungi Daffa untuk meminta bantuannya, dia sangat kaget saat Sean memberitahunya kalau Arini telah diculik.


~*kamu dimana sekarang? aku akan kesana~ Daffa


~Aku share lokasinya~ Sean*


Panggilan terputus, Daffa dan Shane yang baru saja bertemu klien menuju lokasi Sean sekarang.


"Ada apa boz?" tanya Shane


Daffa sangat panik dan gugup saat tau kalau Arini diculik, dia mengerahkan anak buahnya untuk membantu Sean.


"Tenanglah boz, seperti tidak tau si kaki bebek dia kan cerdik seperti kancil pasti sekarang penculiknya yang kerepotan," kata Shane yang membuat Daffa melemparkan tatapan mautnya pada Shane.


Shane memfokuskan tatapannya ke depan kembali, meski ada Putri tapi tidak dapat dipungkiri Daffa masih care sekali sama Arini.


Shane yang sesekali menatap Daffa hanya bisa menggelengkan kepalanya, "Apa sih kelebihan si kaki bebek itu sehingga mampu mencuri perhatian Daffa maupun Sean," batin Shane.


Tak berselang lama, Daffa sampai di rumah Marcel yang telah kosong. Dia langsung masuk dan bertanya bagaimana kabar Arini.


"Kami masih belum tau dimana Arini sekarang, aku sungguh khawatir Daffa," kata Sean dengan sedih.


"Tenanglah pak Sean, istrimu pasti baik-baik saja malah aku mengkhawatirkan penculikannya pasti kerepotan sekarang," sahut Shane yang membuat Sean dan Daffa menatapnya dengan tatapan elangnya sedangkan Nick hanya tertawa mendengar kata-kata Shane.


Shane terkekeh sambil menggaruk kepalanya yang tdiak gatal. Memang benar apa yang dikatakan Shane Arini baik-baik saja, penculik Arini lah yang kewalahan menuruti Arini.


"Aku angkat tangan boz, wanita itu sungguh membuat kami lelah," kata salah satu penculik Arini.


Marcel tersenyum, biar aku yang menanganinya.


Marcel masuk dalam kamar yang dia gunakan untuk menyekap Arini.


"Jadi kamu merindukan suami mu adikku?" tanya Marcel yang mengagetkan Arini.


"Kamu?" Arini sungguh terkejut ternyata Marcel lah dalang semua ini.


Marcel tersenyum, "Iya ini aku orang yang sangat menyayangimu," sahut Marcel


"Cih, sayang tapi menculik gak tau malu," timpal Arini kesal.


Marcel mendekati Arini yang bersanding di dinding sambil melipatkan kedua tangannya.


"Hanya kamu yang bisa membantuku memancing Sean kemari setelah itu aku bisa membunuhnya supaya dia bisa bersama dengan adikku di sana," ungkap Marcel


"Jangan bodoh Marcel, sadarlah jangan membunuh orang, kamu adalah orang yang baik jangan biarkan dendam memperbudak dirimu," bujuk Arini


Marcel tertawa dengan keras, "Aku akan menjadi orang baik setelah Sean mati," sahut Marcel


"Menyesal aku telah percaya padamu." Arini menyesal sekarang, kini nyawa suaminya dalam bahaya karena dirinya.


Arini memohon pada Marcel supaya tidak melukai Sean, dia juga menawarkan diri sebagai pengganti Sean.


Marcel mendekati Arini, kini dia mengunci tubuh Arini di dinding, "Mana mungkin aku menyakitimu," bisik Marcel


Arini yang kesal mendengkul rudal Marcel sehingga Marcel kesakitan.


"Wanita brengsek," umpat Marcel lalu menangkap Arini.


Marcel menali tangan dan kaki Arini, dan mendudukkannya di sofa.


"Diam disini," kata Marcel.


Lalu Marcel menghubungi Sean,


~Halo Sean apa kabar? ~ Marcel


~ *Siapa kamu?~ Sean


~ Akulah penculik istrimu, kalau kamu mau Arini selamat temui aku sekarang, ingat suruh teman-temanmu pulang, jika aku tau kamu membawa teman maka mayat istrimu aku kirim malam ini juga,~ Marcel*


Tuut Tut


Panggilan diputus, Sean sangat panik lalu dia meminta kunci mobil pada Nick. Sean berencana pergi menemui penculik Arini sendiri.


"Sean jangan bodoh," omel Daffa


"Lalau bagaimana, apa aku harus diam di sini menunggu mayat Arini dikirim," sahut Sean.