Teman Ranjang Billionaire

Teman Ranjang Billionaire
Berantem


Sesampainya di kantor Daffa, Sean segera keluar dari mobil dan dengan langkah panjang dia menuju ruangan Daffa.


Tanpa ketuk Sean langsung saja masuk sehingga mengagetkan Daffa yang sedang berkutat dengan komputernya. Sean memegang kerah baju Daffa dan melayangkan bogeman ke pipi Daffa.


"Brengsek kamu Daffa, kamu sengaja kan tidak memberitahu keberadaan Arini padaku supaya kamu bisa leluasa menemuinya di hotel," maki Sean


Daffa yang tidak diterima Sean membogem nya pun membalas perbuatan Sean, dia juga melayangkan tangannya di pipi Sean


"Menyesal aku membawa Arini pulang, dasar manusia tak tau berterima kasih," umpat Daffa


Sean dan Daffa saling bogem hingga keadaan mereka berdua babak belur tak karuan, kebetulan sekali Shane masuk sehingga bisa melerai Daffa maupun Sean.


"Sudah tuan tuan, kenapa kalian seperti anak kecil. Ingat ini kantor," kata Shane


Daffa dan Sean menatap Shane


"Diaaammmmm," teriak Sean dan Daffa lalu membogem Shane.


Shane memekik kesakitan, niatnya melerai dia malah kena bogeman.


Kini mereka bertiga babak belur tak karu-karuan, wajah Shane seperti panda karena bogeman Sean dan Daffa pada bagian matanya.


"Kalau sampai terjadi apa-apa dengan mataku kalian berdua harus tanggung jawab," omel Shane tak terima


Shane menduga pasti perkelahian mereka karena Arini,


"Pasti gara-gara si kaki bebek itu, wanita model seperti itu buat rebutan," umpat Shane dalam hati


Sean yang malu kembali dengan wajah babak belur menyuruh Nick untuk datang ke kantor Daffa, dia menyuruh Nick membawakan masker dan kaca mata hitam.


"Sebenarnya ada hubungan apa kamu dengan Arini?" tanya Sean


Daffa menoleh dan tertawa, "Aku tak ada hubungan apa-apa dengan Arini, aku bukan bajingan yang suka menikam teman sendiri, pikir pakai logika kalau kami ada hubungan dia tentu tak akan kembali," jawab Daffa


Daffa tentu tak bilang kalau dia ada perasaan pada Arini


"Tapi kenapa kamu tidak memberi tau keberadaanya padaku," sahut Sean


"Bukankah aku sudah membawanya pulang, tidak bersyukur sekali. Seharusnya aku biarkan saja Arini kembali sendiri, biar kamu lebih berantakan." Daffa mulai kesal dengan Sean


Sean terdiam dengan menatap Daffa, "Maaf dan terima kasih," kata Sean


"Telat, wajahku yang tampan jadi babak belur seperti ini," sahut Daffa


"Wajahku juga sama," timpal Sean


Tak berselang lama Nick datang, betapa kagetnya dia melihat wajah Sean dan Daffa serta Shane.


Nick tertawa lepas, Sean yang kesal karena Nick menertawakannya pun mengomel


"Awas kamu Nick berani tertawa bulan depan gaji minus seratus persen," ancam Sean


Seketika Nick berhenti tertawa, dia melanjutkan tertawanya dalam hati, Shane yang melihatnya jadi tertawa berbeda dengan Sean, Daffa tidak pernah mengancam asistennya.


"Carikan dokter bedah plastik terbaik Nick, aku malu pulang dengan keadaan seperti ini. Bisa-bisa aku ditertawakan Arini," perintah Sean


Nick menjelaskan, untuk operasi plastik harus membuat janji dulu, tidak bisa langsung.


Daffa dan Shane tertawa mendengar Sean ingin operasi plastik, menurut mereka lebay sekali.


"Kalau kamu ingin cepat sana operasi plastik pake kresek warna hitam," ejek Daffa


Shane, Nick ikut tertawa sehingga Sean semakin marah, dia yang kesal segera memakai masker dan kacamata hitamnya. Dia mengajak Nick untuk pergi dari kantor Daffa.


"Aku pamit dulu Daffa, anggap saja kita tadi sedang latihan gulat," kata Sean lalu pergi dan Nick mengekor di belakangnya.


Karena kondisi wajah yang babak belur Sean memutuskan untuk pulang. Setibanya di rumah Sean sehera masuk ke kamar.


Arini mengerutkan alisnya, heran dengan Sean yang menutupi wajahnya dengan masker dan kaca mata hitam.


"Tuan suami, kamu seperti artis saja memakai kaca mata hitam dalam rumah," kata Arini


"Iya," sahut Sean


Arini yang merasa aneh mendekati Sean, "Kamu jangan-jangan pencuri yang menyamar jadi suamiku ya," ucap Arini yang membuat Sean kesal


"Sembarangan," sahutnya kesal


Arini tertawa, lalu dia membuka kaca mata juga masker Sean dan betapa kagetnya dia melihat wajah Sean babak belur.


"Kamu kenapa tuan, siapa yang membuatmu seperti ini?" tanya Arini


Di atas kepala Arini muncul berbagai macam tanda tanya


"Sejak kapan kamu main gulat tuan?" tanya Arini heran


"Baru tadi karena aku mau ikut kejuaraan gulat." jawab Sean bohong


Meskipun tak yakin dengan ucapan Sean, Arini percaya saja. Lalu dia mengambil kotak obat untuk mengobati Sean.


Arini mencuci luka Sean dengan cairan antiseptik supaya tidak infeksi, setelah itu dia mengoles obat merah.


"Pelan-pelan dong Arini" protes Sean


"Ini sudah pelan my beloved husband," kata Arini


Arini meniupi luka Sean, lagi-lagi Sean mencari kesempatan dalam kesempitan.


Dia malah berpura-pura sakit semua supaya Arini meniupi lukanya.


"Kamu gulat ma siapa tuan?" tanya Arini


"Siapa lagi kalau nggak Daffa," jawab Sean keceplosan


Arini nampak berfikir dan dia pun tau sekarang, sebenarnya Sean berantem dengan Daffa.


"Kamu nggak boleh begitu tuan, mas Daffa itu berjasa sama kamu, dia sayang sama kamu, melihat keadaan kamu yang memprihatinkan dia segera menjemput aku namun begini kah balasannya," ucap Arini


Sean terdiam, memang benar yang di katakan Arini.


Untuk itu dia akan meminta maaf kembali pada Daffa.


*********


Lusa adalah hari dimana perusahaan Sean berulang tahun, untuk itu akan diadakan pesta besar di sana. Sean meminta Nick besarta bawahan lainnya menyiapkan acaranya se perfect mungkin.


Nick yang sibuk menyiapkan pesta membuat Sean sibuk juga karena dia harus menemui klien-klien sendiri tanpa Nick.


"Arini, belilah gaun pesta yang indah untuk acara di kantor besok lusa. Kalau bisa yang senada dengan bajuku ya," kata Sean


"Memangnya kamu akan pakai baju apa?" tanya Arini


"Kamu saja yang pilihkan, lalu kamu membeli baju dengan warna yang senada, Ok," jawab Sean


Arini mencium punggung tangan suaminya dan setelah itu Sean berangkat ke kantor.


Selepas kepergian Sean, Arini pergi ke sebuah butik yang memiliki rating bagus di kotanya. Saat masuk mata Arini sudah dimanjakan dengan beragam gaun yang indah-indah.


"Wah, bagus-bagus sekali," gumam Arini


Saat asik memilih gaun, Amira mendatanginya


"Halo Arini," sapa Amira


Arini menoleh, tak disangka akan bertemu Amira di butik.


Dengan senyuman yang dipaksakan Arini membalas sapaan Amira.


"Halo Amira," sapa Arini


"Kamu mau beli gaun?" tanya Amira


Arini mengangguk, lalu Amira menunjukkan model gaun terbaru, simpel namun terkesan elegan.


"Ini adalah produk terbaru butik kami, gaun yang simpel namun elegan cocok untuk menghadiri pesta," jelas Amira


"Kamu pemilik butik ini?" tanya Arini


"Iya," jawab Amira


Amira bercerita kalau beberapa baju Sean yang terbaru dialah yang mendesain kan, Amira sengaja bercerita supaya membuat Arini tak nyaman.


Arini mengerutkan alisnya, raut wajahnya nampak berubah dan itu membuat Amira tersenyum puas.


"Dari dulu Sean selalu meminta pertimbangan diriku mengenai model bajunya," kata Amira


"Kelihatannya kamu sengaja membuat aku kesal Amira," batin Arini


Malas meladeni Amira, Arini segera mengambil gaun lalu membayarnya dan pergi.