
Baru saja memarkirkan sepeda motornya terdengar mobil Sean yang masuk, Arini berdiri menunggu suaminya tersebut.
Nampak senyum Sean merekah saat menatap istri yang sedari tadi amat dia rindukan dengan segera Sean melangkahkan kakinya menghampiri Arini.
Tanpa rasa malu pada sopir maupun pelayan yang berada di sekitarnya Sean langsung saja memeluk Arini begitu pula Arini yang juga antusias membalas pelukan Sean.
"Welcome to home hubby," kata Arini
Mencium baru keringat tubuh Sean membuat Arini menenggelamkan wajahnya ke dada Sean mencari ketenangan namun dengan kurang ajarnya Sean malah mengapit Arini dengan ketiaknya sehingga Arini kesal karena ketika Sean asam sekali.
"Sayang, kok gitu sih! apa kamu ingin membunuhku dengan ketiakmu?" gerutu Arini lalu masuk ke dalam rumah meninggalkan Sean yang masih berdiri di teras.
Sean tertawa melihat Arini yang kesal padanya,
"Tunggu dong sayang," pinta Sean
"Ogah," sahut Arini tanpa melihat Sean.
Sean mengejar Arini lalu menangkapnya.
"Kena kau kancil," kata Sean
"Kalau aku kancil bearti kamu buaya," timpal Arini sambil terkekeh.
"Nggak papa buaya penjaga hatimu," sahut Sean
"Iihh so sweet nya my husband," ujar Arini.
Sean mengangkat Arini ala bridal, dia segera membawa Arini ke kamar, melihat tingkah Arini yang menggemaskan membuat Sean ingin melakukan serangan senjanya pada Arini.
Akhirnya panjat pinang tak dapat terelakkan, kedua insan ini saling memacu untuk mendapatkan kenikmatan dunia mereka.
"Terus sayang," bisik nya yang menyuruh Sean untuk memompa dengan cepat karena dia akan mendapatkan klimaksnya.
Dengan senyum mengembang Sean memacu pinggulnya supaya Arini mendapatkan klimaksnya.
Tak berselang lama tubuh Arini menegang yang bearti dia telah mendapatkan klimaksnya.
Tak berselang lama, Sean mendapatkan klimaksnya, mereka berdua istirahat sejenak lalu Sean dan Arini mandi bersama.
Nick dan Vani sudah pulang dari Eropa, Nick yang baru masuk sudah disuguhi pekerjaan yang super duper menumpuk seperti gunung.
Nick menghela nafas, rasanya lemas sekali melihat tumpukan berkas-berkas yang melambai-lambai pada Nick.
Nick meminta Vani untuk resign karena Nick tidak mau calon istrinya kelelahan dengan pekerjaan yang kasar seperti pekerjaan Vani sekarang.
Rencananya uang dari Sean Vani gunakan untuk usaha dan juga buat biaya umroh orang tuanya.
Seperti biasa setelah Sean berangkat Arini kembali ke kamar untuk melihat film action kesukaannya.
Saat asik dengan filmnya tiba-tiba ponselnya berdering, terlihat Marcel memanggil. Awalnya Arini enggan mengangkatnya namun Marcel terus memanggil mau nggak mau Arini menjawabnya.
*Pagi Arini ~ Marcel
Pagi ~ Arini
Kamu bisa keluar rumahmu nggak, aku dari luar negeri ini membawa oleh-oleh untuk kamu ~ Marcel
Kok repot-repot segala ~ Arini
Untuk adikku nggak repot kok ~ Marcel*
Arini lalu keluar rumahnya untuk mengambil oleh-oleh yang dibawakan oleh Marcel.
Saat keluar ternyata Marcel sudah menunggunya di dalam mobil, melihat Arini keluar pagar Marcel pun keluar mobilnya dengan membawa bingkisan dari luar negeri untuk Arini.
Karena takut ada yang melihat Arini menyuruh Marcel pergi,
"Tega sekali kamu, baru mendarat langsung kesini menunggu selama dua jam, namun setelah mendapat bingkisannya kamu menyuruhku pergi," kata Marcel pura-pura kecewa.
"Peduli amat ma kamu, menunggu dua abad aku juga nggak perduli," sahut Arini dengan terkekeh.
Marcel terus saja menatap Arini sehingga Arini pergi masuk ke rumah meninggalkan Marcel yang masih berdiri di depan rumahnya.
"Wanita terbrengsek sedunia namun aku malah suka," gumam Marcel lalu masuk mobil.
Seperti rencana Marcel, perlahan tapi pasti Arini mulai masuk dalam jebakannya.
Marcel mulai menunjukkan care nya pada Arini, awalnya Arini merasa risih namun lama-lama dia biasa.
Marcel juga sering membelikan Arini makanan yang dia kirim melalui kurir ke rumah Sean, tentu itu dilakukan Marcel saat Sean tidak ada di rumah.
Arini yang sikapnya cuek Bey Bey tidak memusingkan pemberian Marcel, memang seperti itulah Arini. Di sini kesalahan terfatalnya adalah tidak memberi tahu Sean, tentu ini bagai bom waktu bagi Arini yang sewaktu-waktu bisa meledak.
Hingga suatu ketika Sean tidak enak badan sehingga dia tidak ke kantor.
"Kamu harus banyak istirahat sayang,' kata Arini sambil menyuapi Sean
"Iya iya cerewet sekali sih kamu sayang, sebenarnya hanya satu obat buat aku," ucap Sean yang membuat Arini penasaran.
"Apa?" tanya Arini
"Memanjat kamu sayang," jawab Sean sambil tertawa.
"Dasar maniak, saat sakit begini bisa-bisanya mikir panjat memanjat, kenapa nggak sekalian manjat kelapa," sahut Arini kesal.
Sean yang gemas mencubit hidung Arini, semakin hari cinta untuk istrinya semakin besar.
Hal itu yang membuat Sean enggan berangkat ke kantor, maunya ingin selalu bersama dengan Arini di rumah.
Bosan di kamar Sean mengajak Arini mengobrol di teras, mereka asik bercengkerama tiba-tiba Arini ijin masuk ke dalam karena perutnya mulas.
Saat Sean hendak masuk ada seorang kurir yang mengantar sebuah buket bunga warna putih dan sebuah makanan.
Sean mengerutkan alisnya karena kurir itu bilang untuk Arini.
Sean menerima buket bunga tersebut lalu membaca note yang diselipkan di dalamnya,
"Mawar putih simbol tulusnya diriku ingin menjagamu,"
"Brengsek," umpat Sean lalu membuang Bunga dan makanan yang dia terima.
Amarah Sean naik ke permukaan, wajahnya sudah merah membara seperti lahar.
Sean memanggil semua pelayannya,
"Apa kalian tau siapa yang mengantar bunga dan makanan untuk nyonya?" tanya Sean dengan menahan marah
Pelayan hanya diam dan saling pandang, karena memang beberapa hari ini sering ada yang ngirim makanan untuk Nyonya mereka.
"Kenapa hanya diam?" bentak Sean.
Salah satu dari mereka menjawab kalau memang sering ada yang mengantar makanan untuk Arini.
Sean bagai disambar petir pada siang hari, siapa yang berani mengirim makanan dan Bunga untuk Arini.
Tanpa berkata-kata Sean pergi meninggalkan pelayannya yang masih berbaris rapi di tempatnya.
"Ada apa ini Arini?" Sean bermonolog dengan dirinya sendiri.
Sean tidak mau memarahi Arini mengingat seringnya salah paham terjadi takutnya jika dia melukai Arini lagi. Dia berniat menyelidiki sendiri siapa orang yang mencoba mendekati wanita miliknya.
Sean berusaha keras melawan amarahnya, Arini yang baru selesai dari kamar mandi mendekati Sean yang duduk di sofa.
Tak bisa dipungkiri meskipun mencoba untuk tidak marah namun hati Sean sungguh sakit mengetahui jika Arini sering dikirim makanan dan Bunga sehingga saat Arini mencoba duduk di sampingnya, Sean malah berdiri.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Arini heran.
Sean tidak menjawab pertanyaan Arini, hanya sorotan mata tajamnya yang mengisyaratkan betapa terlukanya dia.