
Shane langsung memeluk Amira, dia bahagia karena tidak jadi patah hati.
Daffa dan Putri turut bahagia melihat Shane dan Amira, kini asistennya tersebut sudah tidak jomblo lagi.
Marcel memantau gerak gerik Sean, bahkan dia membuat ulah pada cabang perusahaan Sean yang berada di Bali supaya dia bisa mendekati Arini.
Seusai pulang dari pusat oleh-oleh Krisna, Arini dan Sean berniat untuk pergi ke Kintamani, setelah itu mereka turun ke desa Trunyan untuk melihat mayat sesuai keinginan Arini, di tengah perjalanan Sean mendapat panggilan dari Pimpinan cabang perusahaannya, kalau ada masalah yang harus ditangani langsung.
"Brengsek, aku menggaji mereka dengan tinggi kenapa masih melibatkan aku. Mereka becus kerja atau tidak!" maki Sean.
Arini mencoba menenangkan suaminya dengan mengelus dada Sean.
"Sabarlah sayang, nggak boleh marah-marah. Mungkin masalahnya rumit sehingga harus kamu yang mengurusinya langsung," hibur Arini.
"Kalau aku pergi ke kantor cabang kamu bagaimana?" tanya Sean.
"Aku ya di kamar lah, kalau aku bosan aku bisa pergi jalan-jalan di sekitar hotel. Pekerjaaan kamu lebih penting daripada keinginanku sayang," jawab Arini.
"Tumben aku bijaksana," batin Arini dengan terkekeh.
Sean mendaratkan kecupannya di kening Arini, tak hanya di kening Sean juga melahap bibir Arini yang membuat Sopir merinding karenanya.
Sean menurunkan Arini di depan loby itupun sesuai permintaan Arini sendiri karena tidak ingin membuang waktu Sean.
Saat hendak masuk ke dalam, Marcel pura-pura berjalan dan menyapa Arini.
"Arini," sapa Marcel
"Eh Marcel, sapa balik Arini
Marcel berbasa-basi untuk mengajak Arini makan di restoran hotel, awalnya Arini menolah namun Marcel sedikit memaksa jadi Arini menyetujui permintaan Marcel.
Marcel tersenyum miring, dia berhasil mengajak Arini makan berdua dengannya.
Marcel dan Arini bercerita panjang kali lebar, Marcel menemukan banyak kesamaan antara Arini dan adiknya dulu.
"Sean adalah idolaku, aku ngefans banget pada suamimu tapi aku sedikit menyayangkan sikapnya yang suka gonta ganti wanita," kata Marcel membuka obrolan.
"Itu dulu sekarang dia berubah," sahut Arini.
"Semoga saja, karena kembali lagi Arini kalau karakter orang itu susah diubah, tapi semoga saja Sean benar-benar berubah dan tidak mengecewakanmu," timpal Marcel.
Inilah tujuan Marcel sedikit demi sedikit mendoktrin Arini supaya membenci Sean, dia juga ingin menciptakan kesalahpahaman antara mereka yang akan membuat Sean frustasi.
"Arini bagaimana kamu bisa menikah dengan Sean?" tanya Marcel pura-pura tidak tau.
"Ceritanya panjang," jawab Arini.
Karena tidak ingin memaksa Arini untuk bercerita Marcel mengalihkan pembicaraan mereka ke bahasan yang lain.
Marcel ingin membuat Arini nyaman dengannya untuk itu dia tidak mau terburu-buru dalam membalaskan dendamnya pada Sean.
Marcel ingin membuat Sean merasakan apa yang dia rasakan.
Keasikan mengobrol membuat Arini menghabiskan waktu yang lumayan lama dengan Marcel dan jauh di sana ada Sean yang menatapnya dengan tatapan tak suka nya.
Dengan rahang mengeras dan tangan yang mengepal Sean mendatangi Marcel dan Arini yang asik bercanda.
"Arini," teriaknya sehingga semua pengunjung hotel menatap ke arah Sean semua termasuk Marcel.
Marcel tersenyum puas memang ini yang dia harapkan, terjadi kesalahpahaman di antara Sean dan Arini mengingat Sean sangat posesif terhadap Arini.
Sebuah bogeman melayang di wajah Marvel, bule vs Tionghoa berkelahi jelas bule yang menang.
Tak puas dengan satu bogeman, Sean membogem lagi hingga beberapa kali.
Marcel sengaja tidak membalas untuk menarik simpati Arini benar saja Arini memegangi tangan Sean yang hendak melayangkan pukulan ke Marcel.
"Sudah, sudah!" teriak Arini sehingga Sean menghentikan pukulannya.
Sean kini balik mencengkeram lengan Arini, "Ada hubungan apa kamu dengannya, sehingga melarang diriku untuk memberinya pelajaran, hah!" Seru Sean
Arini terdiam tak menjawab, ada rasa takut melihat Sean yang marah padanya.
Marcel berpura-pura bangun dan berkata
"Lepaskan Arini, pukul lah aku tapi jangan istrimu dia tengah mengandung apa kamu tega menyakitinya,"
Sean pun melepaskan cengkeramannya, lalu menarik Arini pergi dari restoran tersebut, Arini menatap Marcel dengan berkata "Maaf" namun tanpa suara.
Dan itu membuat Marcel tersenyum penuh kemenangan.
"Tak ku kira secepat ini terjadi salah paham di antara kalian," gumam Marcel dengan memegangi wajahnya yang babak belur karena bogeman dari Sean.