Teman Ranjang Billionaire

Teman Ranjang Billionaire
Basah semua


Sean segera kembali ke kamar, melihat tingkah Sean yang aneh membuat Arini bingung.


"Ada apa sayang?" tanya Arini


"Mereka nggak ada di kamar jangan-jangan diculik hantu lagi," jawab Sean.


Arini menggelengkan kepala, suaminya sungguh mengada-ngada.


Mana mungkin ada hantu menculik manusia apalagi enam orang.


"Kamu tu sayang ada-ada saja, mana ada hantu menculik manusia, kalau pun ada pasti hantunya melambaikan tangan menculik mereka," sahut Arini kesal.


"Lalu kemana dong mereka?" tanya Sean.


"Kita cari yuk," ajak Arini.


Sean dan Arini berjalan keluar mencari keenam temannya, ternyata dari kejauhan nampak keenam temannya sedang menikmati matahari terbit.


"Tu mereka, heran aku sama kamu, otak kok nggak logis," maki Arini


Sean hanya terkekeh, "Iya ya sayang nggak kan takut lagi dengan hantu," sahut Sean.


Saat mulai dekat dia melihat teman-temannya pada bermesraan, sehingga membuat Sean kesal.


"Woy, kalian ini enak ya pada bermesraan di sini," maki Sean


"Kamu ni iri aja sih bro, kamu main panjat manjat kami saja tidak iri," sahut Daffa.


Sean kesal karena di Skakmat oleh Daffa, lalu dia mengajak Arini kembali tapi Arini lebih memilih tinggal dan ikut menikmati matahari pagi.


Mau nggak mau Sean mengikuti Arini, Puas dengan cahaya pagi yang segar kini mereka kembali ke Vila karana mereka harus kembali ke kota mereka secepatnya.


Entah bagaimana debat mereka dan bagaimana rayuan maut para pejantan tangguh namun Cemen sehingga para wanita kini ikut ke kamar masing-masing.


Nick mandi terlebih dahulu karena Vani harus menyiapkan baju mereka.


Nick keluar dengan lilitan handuk kecil di pinggangnya, dan itu membuat Vani menelan salivanya.


"Apa kamu merindukannya?" seloroh Nick yang membuat Vani mundur sedikit.


Nick duduk di samping Vani, lalu dia mengunci tubuh Vani hingga kepala Vani membentur kepala ranjang.


"Mas kamu mau ngapain?" tanya Vani gugup


"Aku mau mencicipi calon istriku," jawab Nick.


Bibir Vani dan Nick saling berpaut, Nick segera menidurkan Vani di tempat tidur dan adegan DP terulang lagi.


Hal ini terjadi juga di kamar sebelah, sebelum mandi Daffa merayu Putri.


Dia memeluk Putri dari belakang, "Katanya kemarin kamu ingin memiliki anak sayang," bisik Daffa dengan sedikit menggigit daun telinga Putri yang membuat Putri merasakan sensasi geli geli Nikmat.


Suara gaib Putri lolos sudah yang semakin membuat Daffa berhasrat apalagi bayangan akan tubuh polos Putri saat itu kini masuk ke dalam pikirannya.


Daffa membawa Putri ke tempat tidur, dia menciumi wajah Putri tanpa ada yang terlewatkan, begitu pula dengan leher yang tak lepas dari jilatan dan hisapan mulut nakal Daffa.


Suara gaib semakin keras, hingga jika ada yang mendengarnya pasti akan merinding.


Hal serupa juga sama di kamar sebelah, akhirnya Shane mampu menaklukkan Amira yang pada dasarnya memiliki libido yang cukup tinggi pula.


Kini Shane juga melakukan hal yang sama seperti teman-temannya, lama tidak bercumbu dengan wanita membuat Shane meninggalkan jejak begitu banyak.


"Mas nanti kalau ketahuan mereka bagaimana?" tanya Amira cemas.


"Ngapain sih mikir mereka, pasti mereka juga melakukan hal yang sama," jawab Shane lalu dia melanjutkan aksi nakalnya.


Ketiga pasang insan ini telah dibuai oleh naf su mereka, mereka menikmati waktu bercinta masing-masing begitu pula dengan kepala suku mereka yaitu Sean dan Arini, sebelum pulang mereka menyempatkan panjat pinang di Villa.


Beberapa saat kemudian mereka keluar semua dengan rambut basah.


"Wah wah wah, kelihatannya pada berhasil nih," kata Arini


"Berhasil apaan kak," tanya Putri


"Tu rambut kalian basah semua," jawab Arini


Mereka semua pada tertawa, padahal nggak janjian Lo, la kok semua pada basah kepalanya.


Selain basah terlihat merah-merah di leher termasuk kapala suku mereka.


"Kalian ternyata ganas juga," kata Arini


"Lebih ganasan kamu Van, lihat tu leher Pak Nick full tanda merah," timpal Arini


"Maklum lah Rin kan aku harus latihan dulu," ujar Vani dengan terkekeh.


Kini mereka berdebat dan merebutkan siapa yang paling panas, seperti merebutkan piala Oscar.


Hingga tiba-tiba mereka dikagetkan oleh bola yang menggelinding di kaki mereka.


Seketika mereka terdiam semua dan saling pandang.


"Bola siapa ini?" tanya Sean


"Jangan-jangan anak kecil kemarin," jawab Shane lalu memeluk Amira dengan erat.


"Apaan sih, ini udah siang mana mungkin ada hantu," sahut Amira geram dengan Shane yang penakut sekali.


Dug


dug


dug


terdengar suara langkah kaki yang mendekat ke arah mereka, dan terlihat anak kecil yang sedang mencari bolanya.


Wajah anak kecil tersebut sangat pucat, entah dia hantu atau sedang sakit.


Arini mengambil bola tersebut dan memberikannya pada anak kecil itu.


"Ini bola kamu?" tanya Arini


"Iya Tante," Jawab anak kecil tersebut


"Panggil Kaka aja ya, masak iya Tante sih," sahut Arini


"Baik kakak," timpal bocah kecil tesebut.


"Nama kamu siapa dek?" tanya Arini lagi


"Saya han kak," jawabnya


Sean dan Shane berucap barengan


"Hantu,"


Arini dan Amira saling melemparkan tatapan mautnya pada pasangan mereka, bisa-bisanya bilang kalau anak kecil tersebut adalah hantu.


"Husss, jangan ngawur," omel Arini


Kini mereka semua debat sendiri dan saat menoleh anak kecil tersebut sudah tidak ada.


"Nah kan, fix dia tu hantu sayang," kata Sean.


Arini tetap tidak percaya pada Sean dan Shane, mana ada hantu yang berkeliaran di pagi hari, kan biasanya bangsa hantu hanya berkeliaran di malam hari.


"Hey Arini apa kamu nggak lihat, dia pucat, namanya Han, terus semalam dia main di luar malam-malam, kalau bukan hantu lalu apa," sahut Shane.


"Entahlah," timpal Arini.


Sarapan mereka sudah siap, salah satu pelayan naik ke atas untuk memanggil tuan mereka dan juga teman-temannya.


'Tuan Nyonya sapaan sudah siap," kata pelayan paruh baya.


"Iya, kami akan segera turun," sahut Sean.


"Daripada mikir hantu lebih baik kita sarapan," ajak Daffa lalu menggandeng Putri dan beranjak.


'Betul tu, tenagaku juga terkuras karena latihan pra malam pertama tadi, meskipun belum sempat memanjat tapi melakukan pen DP an juga


menghabiskan banyak tenaga," ucap Nick


"Alah gitu aja Nick, masak butuh banyak tenaga," ejek Shane.


"Memangnya kamu nggak mengeluarkan tenaga?" tanya Nick


"Iyalah semua aku keluarkan," jawab Shane.


Sean yang kesal melerai debat mereka, "Sudah sudah! lihatlah Daffa sudah makan," kata Sean kesal.


Kini mereka berenam turun barengan, Sean yang melihat Arini kesusahan pun berinisiatif menggendong istrinya tersebut.