
Hari pernikahan Sean semakin dekat, semua persiapan sudah mulai dilakukan.
Arini dan Sean juga sudah fitting baju pernikahan mereka.
"Aku sangat bahagia sayang akhirnya kita akan menikah lagi," kata Sean
"Aku juga bahagia asal nanti kamu nggak nikah lagi saja," sahut Arini
Sean tertawa mendengar kata-kata Arini, mana mungkin dia akan menikah lagi sedangkan cinta kasihnya semua sudah habis untuk Arini, bagi Sean Arini adalah segala galanya.
"Mana mungkin aku menikah lagi sedang hatiku sudah menjadi milikmu sayang," timpal Sean.
Arini tersenyum, dia juga bahagia meski diawali dengan paksaan tapi dia berharap berakhir bahagia dengan Sean hingga maut memisahkan.
Usai kehamilan Arini sudah menginjak empat bulan, dimana saat usai segitu janin mulai bergerak dan hidup karena roh sudah ditiupkan.
Hari ini Sean tidak pergi ke kantor karena dia harus menemani Arini ke dokter untuk memeriksakan kandungan setelah itu dia akan pergi ke Mall untuk membeli keperluan bayinya kelak.
Di sisi lain Daffa disibukkan dengan berkas-berkasnya begitu pula dengan Putri yang berkutat di depan laptopnya.
Tiba-tiba Diana masuk ke dalam ruangan Putri,
"Halo," sapa Diana dengan senyum manisnya.
"Halo," sahut Putri dengan senyum manisnya pula.
Putri menghentikan aktivitasnya dan mempersilahkan Diana duduk, Diana duduk berseberangan dengan Putri.
"Ada keperluan apa Diana sehingga kamu datang kesini?" tanya Putri penasaran.
Diana terdiam, dia menatap Putri dengan lekat dari tatapan matanya nampak Diana tengah bersedih.
"Aku mencintai Daffa, dan kami akan segera menikah jadi tolonglah lepaskan Daffa," jawab Diana.
Putri tersenyum ketir akan permintaan Diana, bagaimana dia bisa meninggalkan Daffa sedangkan dia juga mencintai Daffa.
"Bagaimana kamu bisa meminta hal itu padaku Diana, dari segi usia kamu mungkin lebih tua dari aku namun dari cara berfikir kamu jauh lebih licik dari aku," sahut Putri
"Aku tau tapi Daffa dan aku telah dijodohkan, apa kamu akan membuat Daffa durhaka pada orang tuanya?" timpal Diana.
Putri terdiam dia tentu tidak ingin Daffa durhaka kepada orang tuanya tapi dia bisa apa, cintanya pada Daffa bukan sebuah kesalahan seharusnya orang tua Daffa lah yang mengalah pada anaknya dan membebaskan Daffa dalam memilih pasangan hidup.
"Mohon maaf Diana tapi durhaka itu kamu lihat dari segi mana dulu, aku rasa tindakan mas Daffa bukan sebuah wujud dari kedurhakaan melainkan wujud mempertahankan cinta yang dimilikinya disini seharusnya kamulah yang pergi, untuk apa kamu mengejar cinta mas Daffa yang jelas bukan untuk kamu," ujar Putri. "Pintu keluar ada di sana, maaf aku akan melanjutkan aktivitas saya." Putri mempersilahkan Diana untuk keluar.
"Sampai kapan pun aku nggak akan menyerah mendapatkan Daffa," ancam Diana
"Aku juga nggak akan melepaskan mas Daffa untuk kamu," sahut Putri.
Selepas kepergian Diana Putri menangis tanpa terisak, dia bingung harus bagaimana sedangkan cintanya semakin bertambah untuk Daffa.
Diana keluar dengan perasaan yang berkecambuk dia begitu sangat mencintai Daffa.
Diana duduk di kursi sambil menangis, bingung apa yang harus dilakukan.
Shane yang melihatnya langsung duduk saja di samping Diana.
"Kenapa wanita memiliki hobi menangis, padahal menangis itu menyusahkan lo mata basah, hidung beringus, riasan jadi rusak apalagi kalau memakai maskara yang murahan mata jadi hitam semua," kata Shane.
Diana seketika mengambil cermin dari dalam tasnya, dia melihat wajahnya.
"Jelek kan?" goda Shane
Shane tertawa, "Kan aku bilang kalau memakai maskara murah," sahut Shane.
Diana mengelap wajahnya yang basah karena air matanya, Shane terus saja melihat tingkah wanita yang berada di sampingnya.
"Nah kalau nggak nangis gini kan cantik," puji Shane yang membuat Diana tersenyum.
Shane dan Diana akhirnya bercerita, mengobrol dengan Shane membuat Diana melupakan sakit hatinya.
"Shane apa aku kurang cantik?" tanya Diana
Shane menatap wajah Diana, dia membolak-balikkan wajah Diana lalu mengamati Diana dari atas ke bawah.
"Cantik," jawab Shane
"Kalau aku cantik kenapa Daffa tidak mencintai aku Shane?" tanya Diana lagi.
Bibirnya tersenyum mengembang, dia merasa geli dengan pertanyaan Diana yang setiap orang pasti tau akan jawabannya.
"Kenapa kamu memberikan aku pertanyaan retoris Diana? pertanyaan yang kamu sendiri sudah tau jawabannya," ujar Shane.
Diana tersenyum, " Aku ingin tau pendapatmu Shane," ucap Diana.
Shane menghela nafasnya, memang orang yang sedang terpapar virus cinta otaknya menjadi lemah dan jongkok bahkan mereka kerap bertanya sesuatu yang mereka sudah tau jawabannya.
Memang benar kata orang-orang sejak dulu beginilah cinta penderitaannya tiada berakhir.
"Yang harus kamu ketahui cinta itu tidak bisa dipaksa, semakin kamu memaksanya dia akan semakin membencimu, dan cinta itu tidak memandang cantik jelek, kaya miskin, dalam kacamata cinta semua itu sama," jelas Shane
Diana menatap Shane, mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Shane.
"Jadi meskipun cantikmu tembus langit ke tujuh tidak akan membuat Daffa mencintaimu karena hatinya sudah ada Putri, setiap pandangan Daffa hanya ada Putri, Putri dan Putri jadi percuma jika kamu bersikeras ingin mendapatkan cinta Daffa," imbuh Shane lagi.
Shane menjelaskan panjang kali lebar, Diana hanya manggut-manggut mendengar ceramah dari Shane.
Kemudian Diana beranjak dari tempat duduknya seraya berkata
"Tapi yang nggak kamu tau kalau cinta itu butuh pengorbanan Shane, terima kasih atas pencerahannya tapi aku akan berjuang demi cintaku pada Daffa." Kemudian Diana berjalan pergi begitu saja meninggalkan Shane yang masih duduk di tempatnya terpaku menatap kepergian Diana yang meninggalkan sebongkah kesal.
"Kalau punya Asumsi sendiri kenapa bertanya, dasar wanita aneh! memperjuangkan cinta yang sudah dimiliki orang lain sama saja menabur garam di lautan," gerutu Shane lalu beranjak dan kembali ke ruangannya.
*********
Mama Daffa berfikir keras cara memisahkan Daffa dan Putri, banyak rencana-rencana licik yang dipikirkan olehnya.
Dia membaca berkas mengenai seluk beluk Putri, terpancar senyuman di bibirnya.
"Jadi kamu tinggal dengan ayahmu yang sakit karena kecelakaan," gumamnya
Mama Daffa meminta orang kepercayaannya untuk mengantarnya ke rumah Putri. Jika Daffa tidak mau meninggalkan Putri biar Putri yang meninggalkannya.
Di rumah Putri ada seorang art yang ditugaskan Daffa untuk merawat ayah Putri.
"Jadi ini rumahnya?" tanya mama Daffa sambil menatap rumah sederhana Putri.
"Iya nyonya, inilah rumah nona Putri," jawab orang mama Daffa.
"Ini bukan rumah lebih terlihat seperti kandang ayam, heran sekali dengan Daffa kenapa mencinta wanita yang benar-benar dari kalangan bawah, apa kata dunia jika sampai mereka menikah," ucap Mama Daffa dengan memijat pelipisnya yang pusing.