
Setelah beberapa hari dirawat, Arini kini sudah diperbolehkan untuk pulang.
Setibanya di rumah dia disambut oleh para pelayan, mereka senang sekali karena nyonya mereka telah pulang.
Sean membawa Arini ke kamar untuk istirahat, "Bagaimana sayang? dadanya masih sakit?" tanya Sean.
"Sudah nggak kok sayang," jawab Arini.
Seolah tau yang dipikirkan Sean, "Tapi belum bisa diajak panjat panjatan dulu ya," imbuhnya kemudian.
Sean tersenyum lalu mencubit hidung Arini, "Iya-iya belum mau minta kok sayang, besok kalau kamu sudah kuat kita main tiga hari tiga malam," sahut Sean.
Arini hanya bisa menggelengkan kepala, hanya orang super yang bisa panjat pinang tiga hari tiga malam.
"Awas Lo kalo kamu keok," ejek Arini
Sean yang gemas lalu memeluk tubuh istinya yang mungil berkali dia mengecup pucuk kepala Arini.
"Apa plan kamu hari ini sayang?" tanya Arini
"Menemui Marcel dan memberinya pelajaran, aku ingin dia merasakan apa yang kita rasakan," jawab Sean dengan tangan yang mengepal.
Arini mengelus punggung suaminya mencoba menenangkannya, "Sudahlah sayang, kita harus mengikhlaskannya, sampai kapan akan berguna terus. Dia berbuat seperti ini juga karena dendam padamu, gara-gara adiknya meninggal dan kamu lah penyebab adiknya depresi dan mengakhiri hidupnya," kata Arini.
"Salahnya sendiri siapa suruh baper, kan aku sudah pernah bilang ma semua teman ranjang ku, kalau jangan bawa perasaan karena aku hanya mencari kepuasan semata, kalau dia jatuh cinta padaku ya bukan salah aku dong," sahut Sean.
"Iya paham, itu kan dari versi kamu bukan dari versi barisan para mantan teman ranjang kamu," timpal Arini.
"Coba deh kamu pikir, setelah kamu membalas perbuatan Marcel kemarin pasti akan menimbulkan dendam lagi dan pasti akan terus seperti itu, ok fine sekarang aku yang jadi target Marcel untuk memancing kamu, bagaimana kalau anak kita nanti yang dicelakainya" imbuh Arini
Sean nampak berfikir, meskipun malas sekali memberi ampun pada Marcel tapi dia membenarkan perkataan istrinya.
"Lalu? bagaimana sekarang," tanya Sean
"Biar yang berwajib yang menangani Marcel," jawab Arini.
"Baiklah," sahut Sean pasrah.
Sean menyuruh Nick untuk menyerahkan Marcel kepada pihak yang berwajib karena dia enggan mengotori tangannya untuk melenyapkan Marcel.
Nick segera datang ke tempat dimana Marcel di sekap, dia memerintahkan anak buahnya untuk membawa Marcel ke kantor polisi.
"Beruntunglah dirimu Marcel, pak Sean berbaik hati padamu biar pihak yang berwajib yang memberi hukuman padamu," kata Nick
Marcel mengerutkan alisnya, bagaimana bisa Sean sebijak itu, padahal Marcel telah siap mental jika sewaktu-waktu Sean melenyapkan dirinya.
"Arini," gumam Marcel dengan tersenyum.
"Maafkan aku, aku hanya bisa berharap semoga di kehidupan berikutnya, kamu adalah jodohku," gumam Marcel lagi.
"Nona Arini sudah dibooking pak Sean, baik di kehidupan sekarang maupun kehidupan yang akan datang," sahut Nick yang membuat Marcel tersenyum.
Kini anak buah Nick segera menyerahkan Marcel ke pihak yang berwajib dan Nick kembali lagi ke kantor.
************
Keadaan Arini sudah sembuh total dan inilah saat yang ditunggu-tunggu oleh Sean, sore ini dia sudah tidak sabar untuk segera pulang ke rumah.
"Anda semangat sekali pak?" tanya Nick
"Semangat lah Nik, setelah seminggu lebih aku menahan hasrat diriku yang membara," jawab Sean dengan tertawa.
"Astagfirullah pak, ternyata bahagia anda itu simpel sekali hanya dapat jatah sudah bahagianya nggak karu-karuan," sahut Nick.
"Sudahlah jangan banyak ngomong, cepatlah menikah supaya kamu nggak usah bersolo karir di kamar mandi," timpal Sean.
"Kadang saya bersolo karir di ranjang kok pak, nggak mesti di kamar mandi," ujar Nick dengan terkekeh.
Sean hanya bisa menggelengkan kepala, heran dengan asistennya yang semakin kesini semakin somplak seperti dirinya.
Sean segera melangkahkan kaki ke luar ruangannya meninggalkan Nick yang masih sibuk dengan pekerjaan dadakan yang diberikan olehnya.
Di rumah Arini sedang menunggu Sean di taman depan. Arini memetik lima tangkai bunga mawar dan masuk kamar untuk menaburkannya di atas ranjang.
Setelah menaburkan bunga mawar di atas ranjangnya, Arini kembali ke taman untuk menunggu Sean kembali.
Tak berselang lama mobil Sean sudah memasuki halaman rumahnya, Sean memarkir sembarang mobilnya dan segera menghampiri Arini yang duduk di bangku taman.
Dari kejauhan Sean sudah tersenyum sambil melambaikan tangannya, dia sungguh rindu sekali dengan istrinya tersebut.
"Sayang, kamu ngapain disini?" tanya Sean.
"Menunggu suamiku,' jawab Arini dengan tersenyum
Sean segera memeluk istrinya tersebut, dia menciumi wajah Arini tanpa ada yang kelewatan.
"I Miss you," bisik Sean
"I Miss you too," sahut Arini.
Sean menggendong Arini ala bridal dan segera membawanya ke kamar.
Para pelayan yang melihatnya tersenyum senang, mereka turut bahagia dengan kemesraan majikan mereka.
Saat masuk dalam kamarnya, Sean membolakan mata ternyata istrinya telah menyiapkan tempat panjat mereka.
Lilin aroma terapi, musik lirih serta taburan bunga mawar di atas tempat tidur.
"Apa kamu juga menantikannya?" tanya Sean
Arini yang malu hanya mengangguk, lalu Sean meletakkan tubuh Arini dia atas ranjang.
"Apa kamu siap sayang menerima serangan senjamu?" tanya Sean
"Siap sayang," jawab Arini.
Tanpa aba-aba Sean menjatuhkan bibirnya di bibir Arini, kini mereka berdua bergulat panas.
Baju telah pindah ke lantai, bisikan bisikan gaib sudah mulai terdengar, ranjang pun sudah mulai bergoyang mengikuti irama pinggul Sean yang maju mundur menyerang Arini.
Leher dan dada tak lepas dari kecupan bibir nakal Sean hingga warna merah-merah berjejer rapi di sana.
Sudah satu jam kemudian, Sean sudah menegang. Arini merasakan cairan hangat dalam liang senggamanya.
Kedua insan ini saling mengambil oksigen dengan nafas yang masih memburu.
"Kita lanjut apa nggak ini sayang," tanya Sean
"Udah dulu ya, perut aku sungguh ngilu," jawab Arini
Sean menatap Arini nampak Arini menahan sakit, hal ini tentu membuat Sean panik, dia segera memakai pakaiannya kembali dan memakaikan pakaian Arini namun sebelumnya dia sudah membersihkan area sensitifnya dengan tissue basah.
"Masih sakit?" tanya Sean.
Arini mengangguk, Sean nampak khawatir lalu dia menghubungi dokter kandungan Arini dan menyuruhnya segera datang dalam waktu kurang lebih dari tiga puluh menit.
Dokter dari seberang panggilan Sean tentu kesal, padahal hari ini dia ada praktek dan ada beberapa pasiennya yang masih menunggu.
Mau nggak mau dokter meninggalkan pasiennya, dia meminta dokter pengganti untuk menggantikannya memeriksa pasien.
Dua puluh menit kemudian dokter sudah sampai di rumah Sean, kepala pelayan mengantar dokter tersebut ke dalam ruangan Sean.
Melihat ada bunga mawar yang bertaburan di atas ranjang mereka, tisu yang berserakan dan juga lilin aromaterapi sudah dipastikan kalau mereka habis melakukan hubungan suami istri.
"Apa kalian habis melakukan hubungan suami istri?" tanya dokter
"Iya dok," jawab Arini sambil menahan sakit
"Durasinya berapa menit?" tanya dokter lagi
"Enam puluh menit lebih sedikit lah dok," jawab Arini lagi
Dokter menggelengkan kepala, karena pasiennya ini benar-benar susah dibilangin.