
"Tergantung usaha kalian bisa mencuri hati mama atau tidak," kata mama
Daffa menatap mamanya dengan pandangan yang tak biasa, entah harus senang atau tidak. Kenapa harus mencuri hati mamanya, kenapa tidak langsung disetujui.
"Ingat mama segera kembali jadi waktumu tidak banyak," ucap mama lagi.
"Ma, kenapa tidak langsung disetujui saja," protes Daffa
"Ingin lihat keseriusan kamu," timpal mamanya.
Mama pergi meninggalkan Daffa yang masih berdiri terpaku menatap punggung mamanya yang semakin menjauh.
Arrrgggg
"Kenapa susah sekali menaklukan hati nenek sihir itu," gumam Daffa mengatai mamanya.
Daffa segera kembali ke kantor nya banyak yang harus diselesaikan.
Hingga malam hari dia masih disibukkan dengan urusan kantor.
Hingga tengah malam Daffa baru bisa pulang begitu pula dengan Shane.
Mereka segera menuju rumah masing-masing.
Keesokannya, pagi sekali Daffa sudah datang ke kantor, segudang pekerjaan menunggu untuk segera diselesaikan.
"Shane bagaimana sudah mulai normal?" tanya Daffa dengan berkas-berkas yang masih di tangannya.
"Sudah pak," jawab Shane.
Tepat pukul lima sore Daffa sudah menyelesaikan pekerjaannya, dia berniat membawa Putri ke rumahnya untuk bertemu mamanya.
"Aku kok takut ya mas bertemu mama kamu," kata Putri ragu.
"Kalau kita nggak segera menemui mama sekarang keburu mama kembali ke luar negeri," kata Daffa meyakinkan.
"Baiklah," sahut Putri.
Putri sungguh gugup, ini baru pertama kalinya dia diajak ke rumah Daffa.
Mereka berdua menuju rumah, setelah sampai Daffa menggenggam tangan Putri mencoba menenangkannya, "Demi cinta kita," kata Daffa
Putri mengangguk, dia nampak gugup meski dia berusaha menaklukan rasa gugup yang sedari tadi menguasai dirinya.
Untuk menetralkan rasa gugup Putri, Daffa mencium bibir Putri, Daffa mel umat, menyesap dan menyusuri dalam rongga mulut Putri, lama berpaut hingga kehabisan nafas.
"Kamu kok suka sekali mengejutkan aku dengan bibirmu sih mas," gerutu Putri sambil mengelap sisa-sisa saliva yang menempel di bibirnya.
"Bibirmu sangat manis sekali sayang, aku udah kecanduan," sahut Daffa dengan terkekeh.
"Ya ini aku dewasa sebelum waktunya," timpal Putri
Hampir tiga puluh menit mereka asik sendiri di mobil, mama yang sudah tau kedatangan Daffa bingung kenapa tidak kunjung keluar.
"Anak itu ngapain saja di mobil, kenapa nggak keluar," gumam mama heran.
Tak berselang lama Daffa keluar dengan Putri, mereka berjalan masuk ke dalam rumah.
"Pantas lama la ada betinanya," gumam mama.
Setelah masuk dalam rumah, Daffa melihat mama yang berdiri di depan jendela dengan menatap luar.
"Mama ngapain di situ?" tanya Daffa
"Lihat kamu, mama kepo sudah datang dari tadi tapi baru keluar," jawab Daffa
Daffa terkekeh ternyata mama tau kelakuannya, Putri yang malu juga menyenggol bahu Daffa dengan bahunya.
"Maklum ma, nyempetin dulu," kata Daffa dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Dasar, kebelet sekali" sahut mama sinis.
Putri mendekat lalu menyalami Mama, "Maaf ma, di mobil kami tidak melakukan apa-apa kok, cuma...." belum sempat melanjutkan kata-katanya Daffa menarik tangan Putri.
"Cuma apa?" tanya mama menyelidik
"Biasa lah ma anak muda," jawab Daffa.
"Mama tanya Putri bukan kamu," sahut Mama.
Putri menatap Daffa, dia bingung harus bilang apa, "Cuma cium aja ma," jawab Putri.
Mama menatap Daffa dengan mencibir, "Mes sum,"
Daffa lagi-lagi hanya terkekeh, lalu mereka semua menuju ruang makan untuk makan.
Setelah makan, Putri mengambil piring-piring kotor dan mencucinya.
"Apa yang dilakukan Putri?" tanya mama heran
"Mencuci piring ma," jawab Daffa
Berbeda sekali dengan Diana yang tidak mungkin mau melakukan pekerjaan rumah.
********
Maaf ya kak baru up dan up nya sedikit.
Ni lagi pergi ke tempat pelosok jadi sinyalnya sulit sekali.
Nanti aku up lebih banyak lagi ya kak😘😘😄