Teman Ranjang Billionaire

Teman Ranjang Billionaire
Kencan


Akhirnya Putri duduk di samping Daffa, dia menikmati makanan yang dibelikan oleh Arini.


Seperti bocil Putri menghabiskan makanannya.


"Kamu nggak makan mas?" tanya Putri


Daffa terdiam karena pandangan Daffa menuju ke arah Sean yang sedang menyuapi istrinya.


Putri yang melihatnya tersenyum,


"Jangan bilang kalau kamu juga mencintai kak Arini," bisik Putri yang membuat Daffa melemparkan tatapannya pada Putri


"Kamu tu sok tau," sahut Daffa kesal.


"Tau lah, dulu aku juga pernah jatuh cinta dan pacaran jadi sedikit banyak aku ada pengalaman apalagi dulu waktu sekolah aku dijuluki Dewi cinta jadi jangan salah," timpal Putri


Daffa menggelengkan kepala, heran dengan Putri masih kecil kenapa sudah ahli dalam bidang percintaan.


"Jangan-jangan kamu dulu nakal ya," ejek Daffa to the poin


Putri melemparkan tatapan matanya yang mengisyaratkan kekesalan pada Daffa, dia tak terima kalau Daffa menilainya sebagai wanita nakal meski entah apa definisi nakal dari sudut pandang Daffa


"Astagfirullah mas, sampai hati kamu bilang aku nakal, aku nggak serendah itu jadi wanita. Aku masih bisa menjaga diri," kata Putri tak terima


"Kan tadi kamu sendiri yang bilang kalau kamu Dewi cinta, bearti kerjaan kamu di sekolah pacaran melulu," sahut Daffa dengan tertawa


Arini dan Sean yang melihat Daffa tertawa lepas ikut senang, akhirnya dia bisa menemukan wanita untuk hatinya.


Melihat Daffa tertawa membuat Putri semakin kesal dia pun mengerucutkan bibirnya


"Mas kamu gitu deh, aku pacaran dulu cuma sebagai penyemangat aku mas, biar rajin ke sekolah dan rajin belajar," timpal Putri


"Hmmmm gitu, maaf maaf telah meragukan dirimu, ngomong-ngomong kamu lulusan tahun ini? kenapa nggak kuliah?" tanya Daffa


Putri menghela nafas dalam-dalam, wajahnya jadi loyo


"Aku lulusan terbaik mas, ikut tes-tes di perguruan tinggi lewat jalur undangan, udah diterima di salah satu universitas dan dapat beasiswa selama dua tahun tapi ayahku kecelakaan kalau aku kuliah ke luar kota bagaimana dengan ayahku?" jawab Putri


Daffa melirik Putri sesaat, ada rasa iba pada Putri tapi dia juga tidak bisa membantu apa-apa karena dia sendiri belum mengenal Putri dengan baik.


"Lalu kemarin siapa yang ngejar-ngejar kamu?" tanya Daffa


"Itu lintah darat mas, karena ayah kecelakaan akhirnya aku pinjam uang mereka untuk makan sehari-hari, karena aku belum mendapat pekerjaan jadinya aku belum bisa bayar," jawab Putri


Daffa tersenyum menatap Putri, tak disangka nasib Putri miris namun ada rasa salut meskipun rela mengabaikan masa depannya dengan tidak kuliah demi untuk merawat ayahnya.


"Kamu butuh pekerjaan?" tanya Daffa


Putri mengangguk sambil melanjutkan makannya kembali, dia mendekatkan makanan di mulut Daffa dan tanpa Daffa sadari dia membuka mulutnya dan menerima suapan dari Putri.


"Kamu boleh bekerja denganku, jadi sekertaris ku di kantor, kalau kerjamu bagus aku juga akan menguliahkan dirimu namun untuk biaya kuliahmu sebagian aku potongkan dari gaji mu," ucap Daffa lagi


Mendengar ucapan Daffa membuat Putri menatapnya, Putri yang terharu pun meneteskan air matanya.


"Kamu nggak lagi nge prank aku kan mas," kata Putri meyakinkan


"Nggak, apa di wajahku ada tampang ini pembohong," sahut Daffa


"Subhanallah, Maha besar Allah. Entah kebaikan apa yang pernah aku lakukan sehingga Tuhan mengirim kamu untuk membantuku mas," timpal Putri


Karena merasa terharu, Putri langsung saja memeluk Daffa. Saat Daffa ingin melepaskan pelukan Putri Sean dan Arini melihat mereka sehingga mau nggak mau membalas pelukan Putri.


"Mereka seperti CCTV berjalan saja," umpat Daffa dengan tersenyum


Saat asik makan makanannya, tiba-tiba ada yang jatuh di pundak Arini.


"Sayang ini apa yang bergerak-gerak di pundak ku?" tanya Arini dengan wajah yang pucat


"Ulat, kenapa?" tanya Sean santai.


Seketika Arini berteriak,


"Aaahhhhh ulat, selamatkan aku dari monster ulat ini," teriak Arini dengan memeluk Sean


Sean segera menyingkirkan ulat yang jatuh di pundak Arini,


"Jadi kamu takut ulat?" tanya Sean


"Iya, dulu kan aku pernah bilang," jawab Arini


Daffa dan Putri yang panik juga ikut mendekat,


"Jadi kamu takut ulat," kata Daffa


Arini mengangguk dengan malu.


Mereka melanjutkan jalan-jalannya lagi, Arini membeli banyak barang tak lupa dia juga membelikan Putri dan Daffa.


"Sayang, kamu suka baju ini nggak?" tanya Arini


"Nggak, aku pake baju itu seluruh dunia menertawakan aku," jawan Sean


Arini mencibirkan bibir, "Nggak bisa kamu harus suka, lihatlah gambarnya unyu banget." Arini memaksa Sean


Sean sungguh kesal sekali dengan istrinya bisa-bisanya dia membelikan baju Sean ada gambar doraemonnya.


Seusai membayar baju yang dibelinya Arini meminta Sean memakainya.


"Ogah," ucap Sean


"Pakai," paksa Arini


Mau nggak mau Sean memakai baju yang dibelikan Arini. Daffa hanya tertawa melihat Arini dan Sean


"Wanita yang unik mampu membuat seorang Sean tak berdaya," batin Daffa dengan tersenyum


Matahari merangkak dengan cepat tak terasa dia berada tepat di atas kepala. Daffa, Sean, Arini dan Putri pergi makan di pinggiran trotoar.


"Kita ke restoran saja ya sayang," kata Sean


"Nggak aku ingin makan somay di sini, kalau kamu mau ke restoran sana berangkat sendiri," sahut Arini


Sean yang frustasi mengusap rambutnya dengan kasar. Daffa menepuk pundak Sean mencoba menenangkan sahabatnya


"Sabar istri kamu lagi hamil jadi banyak maunya," kata Daffa


"Iya, ingin rasanya aku mengikat tangannya dan menggetok kepalanya berkali-kali," timpal Sean


Daffa tertawa, "Sadis sekali dirimu," sahut Daffa


Setelah makanan datang, mereka langsung menyantap somay yang tersaji. Sean dan Daffa yang baru makan makanan pinggir jalan seperti ini dengan cepat menghabiskan makanannya.


"Pak tambah lagi dua piring," kata Sean


Arini dan mencibirkan bibirnya, " tadi katanya nggak mau, sekarang nambah," kata Arini kesal


Sean hanya terkekeh,


Setelah makan mereka memutuskan untuk mencari tempat ngedate yang lain.


Saat hendak berjalan tiba-tiba Arini memegangi perutnya.


Daffa yang mengetahuinya jadi panik


"Kamu kenapa Arini?" tanya Daffa


"Perutku sakit mas," jawab Arini


Sean yang mendengar Arini sakit perut jadi panik,


"Kamu kenapa?" tanya Sean


Arini yang kesakitan mencengkeram lengan Sean dengan kuat.


"Daffa ambil mobil," perintah Sean


Daffa segera berlari mengambil mobil mereka yang di parkir tak jauh dari tempat mereka saat ini.


Putri ikut menunggui Arini yang kesakitan


"Kak Arini kenapa mas?" tanya Putri


"Kamu nggak dengar tadi kalau istriku sakit perut!" bentak Sean


"Ya Allah galak nya," gumam Putri


Arini merintih kesakitan sehingga membuat Sean semakin cemas dan takut.