
Vani dan Nick yang duduk di bangku depan tertawa, masih bisa-bisanya mikir reputasi, toh kalau pun dia memanjat pohon mangga tidak akan ada yang tau.
"Kamu tu, sayang apa nggak sih ma aku dan baby kita, manjat gitu saja nggak mau," gerutu Arini
Nick pun ikut menyahut dari depan, "Biar saya yang manjat nona,"
Arini menggeleng, "Nggak pak Nick, yang ayah dari anak ini kan Sean bukan anda," timpal Arini.
Kesal dengan Suaminya, Arini duduk agak menjauh sehingga membuat Sean kesal dan mau gak mau mengikuti keinginan istrinya.
Dia memerintahkan Nick untuk segera pulang biar dia bisa memanjat pohon mangga.
Sesampainya di rumah, semua menuju halaman belakang. Vani yang pertama kali datang ke rumah Sean pun membuka mulutnya lebar-lebar. Dia terpukau dengan kemegahan rumah Sean.
"Rin ini rumah kamu?" tanya Vani yang takjub.
"Iya Van, rumah Sean," jawab Arini.
"Beruntung sekali kamu Rin, jadi ratu di rumah ini," timpal Vani dengan bola mata yang terus berputar menikmati kemegahan rumah Sean, "Istana presiden kalah Rin dengan rumah mu," sambung Vani setelahnya.
Arini hanya tersenyum, Vani seperti dirinya dulu saat pertama kali datang ke rumah Sean. Dia begitu kagum sehingga Sean menariknya keluar dan dia terjatuh.
Setelah di bawah pohon mangga, Arini menyuruh Sean untuk manjat.
"Cepatlah sayang, aku sudah tidak sabar ingin makan mangga setengah matang," pinta Arini
Sean menghembuskan nafasnya dengan kasar, lalu dia mulai memanjat pohon mangga yang tingginya hanya dua meteran tersebut.
Diantara pohon mangga lainnya pohon mangga yang Sean panjat lah yang memiliki buah lebat meskipun pohonnya terbilang pendek.
"Carikan yang dimakan kelelawar sayang," teriak Arini
Sean yang kesal tak menyahut permintaan Arini, dia pura-pura tidak dengar. Sean langsung saja memetik seikat pohon mangga dan langsung menjatuhkannya.
"Masih kurang apa tidak?" tanya Sean
"Yang digigit kelelawar sayang," teriak Arini dari bawah
"Nggak ada," sahut Sean
Karena tak ingin lama-lama Sean memutuskan untuk turun. Namun tiba-tiba tangannya menyentuh sarang semut rang-rang sehingga Sean digigit oleh semut tersebut.
Saat asik mengusir semut tersebut Sean malah terjatuh.
Arini, Nick dan Vani panik, karena Sean memegangi kakinya dengan kesakitan.
"Sayang!" teriak Arini mendekat ke arah dimana Sean berada.
Nick dan Vani juga ikut mendekat.
Nick melihat luka Sean, tidak ada luka luar namun Sean sangat kesakitan yang bisa dibilang dia mengalami cidera dalam.
Dengan bantuan para pelayan lainnya, Nick segera membawa Sean ke rumah sakit.
Arini hanya menangis melihat Sean merintih kesakitan.
"Maafkan aku," kata Arini
Nick menoleh ke arah Arin, "Lebih baik banyak-banyak berdoa nona supaya pak Sean tidak mengalami cidera yang serius."
Setibanya di rumah sakit, Nick turun lalu memerintahkan para petugas medis yang berjaga untuk membawa brankar guna menjemput Sean yang masih berada di mobil.
Dokter melakukan pemeriksaan pada Sean, untuk lebih jelas apa yang dialami oleh Sean dokter melakukan Rontgen pada kakinya.
Setelah semuanya jelas baru dokter dapat menyimpulkan kalau Sean mengalami cidera otot yang cukup serius.
"Pak Sean mengalami cidera otot yang cukup serius," kata Dokter.
Arini sangat sedih mendengar kalau Sean mengalami cidera yang serius.
Sean kini sudah dipindahkan ke ruang perawatan,
Rasa sakit Sean sedikit reda setelah dokter memberi obat antri nyeri dan juga mengompresnya, Dokter juga membalut luka Sean dengan perban elastis supaya tidak bengkak.
Arini yang melihat keadaan Sean jadi sedih, "Maafkan aku," katanya dengan menggenggam tangan Sean dan berkali-kali menciumnya.
Bola mata Sean mencari keberadaan Nick,
"Nick," panggil Sean
Nick segera mendekat, siap melaksanakan perintah dari Sean.
"Pulanglah dan ambil mangga yang tadi aku petik," titah Sean.
Arini menatap Sean dengan raut wajah kebingungan, bagaiamana bisa dia menyuruh Nick mengambil mangga, sedangkan kini nafsu makan Arini sudah lenyap, jangankan makan untuk senyum dia tak sanggup.
"Nggak usah sayang," tolak Arini
"Kamu tadi ingin makan mangga, aku dengan susah payah mengambilkannya sampai jatuh begini dan kini kamu tidak menginginkannya," kata Sean kesal
Arini hanya menggelengkan kepala. Karena tidak ingin membuat Sean marah, Nick bergegas ke rumahnya untuk mengambil mangga yang tadi dipetik oleh Sean.
"Bahkan saat sakit pun dia sungguh menyebalkan." Arini merutuki Sean dalam hati.
Sean memejamkan matanya merasakan sakit pada kakinya, Arini yang melihatnya pun bertanya
"Kamu kenapa sayang?" tanya Arini khawatir
"Sakit sekali sayang," jawab Sean.
Arini segera menghubungi Dokter, dengan segera Dokter datang dan memeriksa Sean.
"Tidak apa-apa, setelah satu jam tolong berikan lagi obatnya namun sebelumnya pak Sean harus makan terlebih dahulu supaya obatnya bekerja maksimal," pesan Dokter.
Selepas kepergian Dokter, perawat datang dengan membawa makan untuk Sean.
Arini dengan telaten menyuapi Sean, sehingga membuat Sean tersenyum.
"Jika begini terus aku rela jika sakit setiap hari," kata Sean
Arini mendengus kesal, lalu mencibirkan bibir
"Sinting," katanya
Sean hanya tersenyum melihat Arini yang kesal, "Ada masalah apa sih sayang, kenapa kamu terlihat kesal?" tanya Sean dengan pura-pura.
"Kesal sama kamu, orang kok aneh! semua orang tu minta sembuh la ini malah minta sakit," gerutu Arini dengan tangan yang sibuk menyuapi Sean, " Tapi nggak papa sih, jadi aku bisa cari Sugar Daddy," imbuh Arini
Mendengar perkataan Arini membuat Sean kesal, "Sekalian saja cari berondong lalu hidup bahagia dengan hartaku," sahut Sean kesal tingkat dewa
Arini semakin menggeoda Sean
"Wah, makasih idenya sayang," timpal Arini.
Sean yang kesal tidak mau melanjutkan makannya, sehingga membuat Arini tertawa.
"Maaf, maaf. Ayo habiskan kalau nggak dihabiskan aku cari berondong sungguhan," ancam Arini
Mau nggak mau Sean memakan makannya hingga ludes tak tersisa.
Arini yang merasa lelah merebahkan dirinya di bed pengunjung, tiba-tiba pintu terbuka dan yang datang ternyata adalah orang tua Sean dan juga Oma.
Mama langsung menghambur ke arah Sean, dia langsung memeluk anaknya yang terbaring dengan kaki yang diperban.
Mama menangis, melihat Sean begitu pula dengan Oma.
Arini pun ikut bergabung bersama kelaurga Sean.
"Mama, Sean hanya cidera otot bukannya meninggal," omel Sean dengan menatap mamanya.
"Dasar anak kurang ajar, bisa-bisanya bicara seperti itu pada mama kamu," maki papa
mendengar makian papanya Sean hanya terkekeh.
Oma yang melihat Arini langsung saja menjewer kuping Arini sehingga Arini memekik kesakitan.
"Gara-gara menuruti keinginanmu, cucuku jadi jatuh," maki Oma lalu melepas jewerannya.
"Kenapa Oma menyalahkan aku, salahkan saja cicit Oma yang berada di dalam perut," gerutu Arini sambil mengelus telinganya yang panas akibat tangan Oma.