
Sean nampak bingung saat Arini bertanya terkait nama bayinya pasalnya dia belum mempersiapkan nama untuk anaknya.
Sebenarnya Arini sudah memintanya untuk membuat nama cewek dan cowok supaya kalau anaknya lahir kelak sudah gak bingung namun Sean bilang nanti pas lahir saja.
"Apa ya sayang?" tanya Sean dengan meletakkan tangannya di dagunya.
"Entahlah sayang," jawab Arini sambil menaikkan kedua bahunya, dia juga bingung mau dikasih nama apa anaknya.
Sean memberitahu Nick kalau urusan kantor sementara suruh menghandle dulu karena Arini melahirkan, toh ada Brian yang turut membantu. Masa kerja Brian hanya sampai akhir bulan ini karena bulan depan dia harus kembali lagi ke luar negeri.
Nick mengabari teman-temannya kalau Arini melahirkan, rencannya kawan plus rekan bisnis Sean tersebut akan berkunjung selepas jam kantor.
Asik bercengkerama tiba-tiba adik bayinya menangis sehingga membuat Sean dan Arini bingung, apalagi suara tangisannya sungguh kencang seperti speaker masjid saat adzan.
"Ini kenapa dia menangis terus," kata Sean bingung sambil mengelus pipi anaknya.
Sean mencoba menenangkan bayinya dengan menggendong dan mengayun pelan namun bayinya tak kunjung berhenti. Baik Sean maupun Arini yang belum berpengalaman dibuat bingung.
Lalu Sean pun menekan tombol sehingga suster segera datang ke kamar perawatan Arini untuk mengecek.
"Ada yang bisa dibantu Pak Bu?" tanya perawat
"Ini urus anakku, kenapa daritadi menangis," kata Sean lalu memberikan bayinya pada perawat.
Perawat tersebut langsung mengecek, siapa tak dia pup, namun diaper anak Arini bersih.
"Mungkin dia lapar pak," sahut Perawat tersebut sambil menggendong bayi Sean dan Arini.
"Tau lapar kenapa nggak diberi makan, kamu ingin membunuh anakku?" bentak Sean dengan tatapan mautnya sehingga Perawat tersebut nampak ketakutan.
"Astaga orang ini," batin perawat.
Perawat mendekati Arini yang duduk di atas bed nya untuk menguraikan ketakutannya.
Memang Sean kalau lagi marah atau kesal seperti harimau yang kelaparan.
"Asi sudah keluar Bu?" tanya perawat dengan tersenyum ramah.
"Belum sus," jawab Arini.
"Bu nanti saya buatkan susu formula untuk si baby, namun sekarang coba ibu dekatkan put ing di mulut bayi, ini bisa membantu merangsang Asi supaya dapat keluar," saran sang perawat.
Arini mengangguk lalu dia membuka kancing bajunya, perawat memberikan bayinya pada Arini,
Arini yang belum berpengalaman sedikit kikuk ditambah lagi anaknya yang terus menangis. Benar bayi Sean langsung saja menyambar dan menghisap dengan kuat put ing mamanya sehingga membuat Arini geli-geli tapi rasanya tetap beda antara bayinya dan Sean yang menghisap.
Karena ASI nya tak kunjung keluar membuat bayi tersebut melepaskannya lalu dia menangis lagi bahkan lebih kencang, mungkin dia merasa dipermainkan oleh mamanya.
"Cup ya sayang," kata Arini dengan mengelus pipi bayinya.
Arini yang melihat tingkah bayinya tersebut tersenyum persis sekali dengan Sean yang akan mengamuk jika tidak mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Saya akan membawa bayinya dulu, jangan lupa terus dirangsang ya Bu," kata perawat
"Merangsangnya bagaimana sus?" tanya Arini
"Put ing nya dipijat Bu, lalu ditarik perlahan sambil diputar-putar," jawab Suster.
Karena terus saja menangis, suster segera membawa bayi Arini keluar, mungkin sebaiknya para suster yang merawat anak Sean di ruang bayi daripada mereka kena semprot orang tuanya.
Sean nampak berfikir bagaimana supaya Asi istrinya cepat keluar, tersungging senyuman licik dibibir Sean.
Dia pun mendekati Arini yang sudah mempraktekkan apa yang dikatakan perawat tadi.
"Bagaimana kalau aku yang merangsangnya,
hisapanku lebih kuat dari baby kita, siapa tahu kalau Asi-nya langsung keluar setelah aku yang menghisapnya," kata Sean menawarkan diri.
"Aku juga bisa memijatnya Lo sayang jadi tangan kamu tidak capek," imbuhnya kemudian.
"Ogah, nanti kamu yang terangsang dan pasti meminta yang lain," tolak Arini.
Sean pun terkekeh, sebenarnya melihat dada Arini serta Arini yang merangsang ASI-nya membuat Sean berhasrat namun dia harus benar-benar puasa karena goa Arini sedang kebanjiran saat ini.
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, setelah menyuapi Arini, Sean duduk di luar untuk merokok.
Dia bingung memikirkan nama bayi kecilnya, Sean melakukan pencarian di Gugel, nama-nama bayi sungguh banyak dan indah namun dia masih kurang yakin dengan nama yang dia temukan di gugel.
"Namanya kenapa nama pasaran semua? masa iya aku ngasih nama anakku dengan nama pasaran," gerutu Sean yang pusing mencari nama untuk anaknya.
Asik mencari nama hingga dia tak sadar kalau teman-temannya datang menjenguk.
"Sean," panggil Daffa
Sean menoleh ke sumber suara dan betapa kagetnya dia kalau teman-temannya datang menjenguk.
"Hey, ngapain kalian kemari?" tanya Sean.
Daffa yang kesal ingin sekali menabok temannya tersebut, orang punya itikad baik ingin menjenguk malah tanya ngapain.
"Ingin sekali aku membogem wajahmu bro," kata Daffa
Sean hanya terkekeh, kemudian dia mempersilahkan mereka semua masuk.
Mereka yang melihat Arini berbaring di bed segera menghampiri Arini.
Arini yang istirahat akhirnya harus terbangun karena mendengar ada yang datang.
Dan saat membuka matanya betapa kagetnya dia ternyata teman-temannya semua yang menjenguk.
"Halo Arini" sapa Vani dan Amira.
"Halo kak Arini," sapa Putri ketinggalan.
"Bagaimana Rin, bayinya cewek apa cowok?" tanya Vani
"Cowok Van," jawab Arini
"Namanya siapa kak?" sahut Putri.
"Entah Put, kami belum menemukan nama yang cocok untuk anak kami," timpal Arini
Sean, Daffa, Nick dan Shane memilih mengobrol di luar sedangkan pada istri mereka menemani Arini di dalam.
"Siapa nama anak Anda pak Sean?" tanya Nick basa basi
"Entahlah Nick, aku bingung entah aku kasih nama apa," jawab Sean.
"Seharusnya kamu persiapkan dulu Sean sebelum bayinya lahir," kata Daffa lalu menyulut rokok.
"Iya, seharusnya begitu," sahut Sean yang ikut menyulut rokok juga.
Mereka semua berinisiatif membantu Sean memberi ide nama, mereka bergantian menyebutkan nama untuk anak Sean namun satu pun tak ada yang membuat Sean menyetujui nama tersebut.
"Yang kalian sebutkan tadi nama pasaran semua," ejek Sean
Semua akhirnya terdiam menyerah, lebih baik menikmati rokok daripada bingung mikir nama untuk anak Sean.
Tiba-tiba Shane nyeletuk dengan memberi ide nama lagi
"Bagaimana kalau namai Benyamin saja atau Parto." Ide Shane mampu membuat semua teman-temannya tertawa.
"Ngaco kamu Shane," kata Nick dengan tertawa kaku.
"Nggak lucu tau, mana iya anakku namanya Parto, kenapa nggak kamu simpan untuk nama anakmu kelak," maki Sean dengan melemparkan tatapan membunuhnya pada Shane, bisa-bisanya merekomendasikan nama seperti itu.
Mereka semua tertawa ngakak karena ide nama Shane