
Nick mel umat dan menikmati bibir Vani dengan rakus, Vani mencoba meronta namun tubuhnya benar-benar dikunci oleh Nick.
"Ah kenapa dia malah nyium aku sih, awas saja habis ini aku cincang tubuhnya," batin Vani.
Kelihatannya antara batin dan sikapnya tidak sinkron batin merutuki namun bibirnya malah mulai mengikuti permainan Nick.
Karena mereka berciuman di ruang cleaning service tentu ada beberapa OB dan cleaning service lainnya yang melihat adegan tak senonoh mereka termasuk Via.
"Nggak nyangka ya, ternyata Vani adalah simpanan pak Nick," kata salah satu cleaning service.
"Iya ya, kasian aku ma Vani kalau pak Nick bosan pasti Vani ditinggal," sahut lainnya.
"Heh, jangan salah siapa tau nasibnya mujur seperti Arini," sahut lainnya lagi.
Mendengar ocehan teman-temannya Vani pun berusaha melepaskan diri namun kelihatannya Nick enggan melepaskannya sehingga mau nggak mau Vani menggigit bibir Nick.
"Gila ya kamu mas, aku udah kehabisan nafas nih! gak lucu kalau aku meninggal akibat kekurangan oksigen gara-gara ciuman," maki Vani
Nick tertawa, mata Nick kini tertuju pada beberapa cleaning service yang menjadi penonton adegan live dia dan Vani.
"Keluar, tau ada orang berciuman juga malah berdiri di situ," kata Nick dengan nada tinggi sehingga mereka semua berhamburan keluar.
"Malu banget tau nggak," gerutu Vani
Nick menatap Vani dengan lekat, dia bertanya alasan Vani marah dan bilang kalau dia membencinya padahal sebelumnya hubungan mereka adem ayem kenapa sekarang tiada angin dan hujan tiba-tiba marah.
Vani menunduk, "Karena kamu memiliki wanita lain," jawab Vani lalu melemparkan pandangannya sembarang.
"What!" teriak Nick kaget. "Dimana buktinya aku membagi cinta, apa kamu melihat aku jalan dengan wanita atau tidur dengan wanita?" tanya Nick balik
Vani menggeleng
"Lantas?" sela Nick
"Kamu memberikan kalung pada wanita," kata Vani
Nick yang mendengarnya semakin bingung, otaknya mulai berfikir membuka satu persatu file-file yang sudah tersimpan rapi. Kemudian mata Nick membola, dia sadar sekarang mungkin yang dimaksud Vani adalah kalung untuk CEO BIA.
"Apa maksud kamu kalung berlian pink itu?" tanya Nick
Vani mengangguk, lalu tawa keras keluar dari mulut Nick sehingga membuat Vani kesal
"Apanya yang lucu!" omel Vani
"Lucu lah, itu pak Sean yang menyuruhku membelinya sebagai ucapan terima kasih untuk CEO BIA yang bernama Viona," jelas Nick.
Seketika muka Vani memerah seperti kepiting yang direbus. Dia pun bingung harus menyembunyikan wajahnya dimana.
"Duh, malunya," gumam Vani dengan menyipitkan matanya.
Dia sungguh tak punya keberanian menatap Nick yang sedari tadi menertawakannya.
"Vani Vani, mangkanya apa-apa itu dibicarakan jangan menyimpulkan sendiri ya begini hasilnya jika mengikuti asumsi negatif yang datang," ujar Nick
Vani yang malu plus kesal meninggalkan Nick yang terus menertawaknnya.
Nick pun mengejar Vani yang berjalan meninggalkannya.
Nick memeluk Vani dari belakang, "Maafkan aku telah membuatku salah paham," bisik Nick
Vani terdiam, dalam kasus ini murni dia yang salah namun malah Nick yang minta maaf.
"Aku yang salah mas," sahut Vani
"Aku," timpal Nick
"Aku, pak Nick ngalah napa ma yang lebih muda," gerutu Vani.
"Iya iya, kamu yang salah." Akhirnya Nick mengalah daripada rebutan salah sama Vani.
Nick membalikkan tubuh Vani, "Kamu mau kalung seperti itu?" tanya Nick
Vani mengangguk, "Eh nggak," jawabnya
"Kalau mau sesuatu bilang jangan diam saja, kalau kamu hanya diam mana aku tau kalau kamu menginginkan sesuatu," ujar Nick.
"Ya malu lah kan belum jadi suamiku," sahut Vani lalu menutup mulutnya.
"Secepatnya kita halalin ya, untuk saat ini anggap aja aku suami kamu, jadi kamu tiap hari harus ngasih aku jatah," sahut Nick dengan tertawa
Vani mencibirkan bibir kesal dengan Nick yang ternyata sebelas dua belas dengan Sean.
"Nggak boleh kan belum halal,"
"Cium saja, dosanya kan kecil," ucap Nick melakukan tawar menawar.
"Kok tau kalau kecil?" tanya Vani
"Tau lah aku udah diskusi ma malaikat malah aku minta saat kita ciuman nggak dianggap dosa," jawab Nick dengan terkekeh
"Lalu malaikat menjawab apa?" tanya Vani
"Katanya masih dipikir-pikir dulu," jawab Nick.
Vani semakin kesal dengan Nick,
"Ya sudah aku kembali dulu, nanti sore pulang sama aku ya," kata Nick lalu kembali ke ruangannya.
Rencananya nanti sore Nick mau membelikan Vani kalung sekalian dia ingin melamar Vani. Kelihatannya Nick sudah tidak kuat melajang lama-lama apalagi sekarang adalah musim hujan.
Daripada tiap malam kedinginan hanya memeluk guling mending dia menikah supaya guling nya jadi hidup.
Saat masuk ruangannya betapa kagetnya Nick ternyata ada Sean yang sudah duduk di dalam.
"Darimana?" tanya Sean
"Itu pak tadi ada masalah kecil," jawab Nick berbohong
"Masalah pribadi dengan Vani?" tanya Sean lagi.
Nick membolakan matanya, bagaimana Sean bisa tau.
"Kamu tau kalau pagi ini ada jadwal dengan CEO BIA?" tanya Sean
Nick menyipitkan matanya
"Gawat, bagaimana aku bisa lupa," batin Nick dengan terdiam.
Kali ini mampus lah Nick, Sean terlihat marah padanya. Nick sudah pasrah kalau Sean memotong gajinya ataupun mengirimnya ke Pluto.
"Kali ini aku melepaskan mu tapi lain kali jangan harap," kata Sean lalu keluar ruangan Nick.
Nick mengenal nafas lega, tak menyangka Sean mau memaafkannya padahal kesalahannya adalah kesalahan yang lumayan berat.
Jadwal Nick berubah, dia mengirim pesan pada Vani kalau sore ini tidak jadi mengantarnya pulang namun malamnya dia ingin mengajak Vani untuk makan malam berdua alias kencan.
Melihat Pesan dari Nick, Vani pun senyum-senyum sendiri seperti orang gila.
Via yang melihatnya pun bersuara
"Kamu gila ya," ejek Via namun Vani bodoh amat dengan ejekan Via.
"Kalau gila kenapa? iri?" sahut Vani.
"Idih ngapain aku iri," timpal Via lalu pergi meninggalkan Vani yang bersiap-siap untuk pulang.
Sore ini Nick mengantar Sean setelah ini dia pergi ke toko perhiasan untuk membelikan Vani kalung dan cincin.
Sebelumnya Nick sudah memesan meja untuk makan malam dengan Vani.
Kali ini dia menjadi tamu VIP restoran mewah tersebut.
Tepat pukul tujuh Nick sudah sampai di rumah Vani, Dia meminta ijin kepada orang tua Vani kalau malam ini dia hendak mengajak Vani makan.
Setelah mengantongi restu dari orang tuanya, Nick dan Vani pergi ke restoran.
Mata Vani takjub melihat meja mereka yang sudah ditata sedemikian rupa.
Di depan orang banyak tiba-tiba Nick berlutut dan membuka kotak kecil yang berisi cincin berlian dengan berkata
"Will you marry me,"