Teman Ranjang Billionaire

Teman Ranjang Billionaire
Keluar sama Vani


"Jangan, aku takut kalau Amira lebih shock, kita lihat saja perkembangannya," kata mama dengan menatap anaknya sendu


Papa terdiam, benar juga apa kata istrinya. Yang dibutuhkan Amira adalah seorang psikiater bukan Daffa maupun Sean.


Besok rencananya mereka akan membawa Amira ke psikiater.


*******


"Sayang boleh panjat pinang?" tanya Sean


Arini menggeleng tanpa menatap suaminya, dia terus saja memeluk tubuh Sean sambil mendengus mencari ketenangan dengan menghirup tubuh suaminya tersebut.


Sean tersenyum dengan kelakuan konyol istrinya, biasanya orang lebih senang bau yang wangi ini malah sebaliknya.


"Jangan sering-sering manjat tuan suami, kasian baby kita," jawab Arini disela-sela endusan nya


"Lalu bagaimana nasib rudal ku sayang?" tanya Sean lagi dengan memelas


Arini menatap Sean, "Setiap hari panjat pinang dan tebing apa nggak bosan?" tanya Arini balik


"Rudal ku ini buatan German sayang, setiap hari pelumasnya harus dikeluarkan kalau nggak bisa bahaya," jawab Sean sambil terkekeh


Arini hanya geleng-geleng kepala, sungguh suaminya raja cabul dan mesum.


Mau nggak mau Arini pun mengijinkan Sean untuk menggempurnya namun kali ini dia hanya mengijinkan satu ronde.


Dengan bersemangat Sean memulai aktifitasnya, tubuhnya yang kekar mulai memaju mundurkan pinggangnya yang membuat Arini mulai merasakan nikmat yang tiada tara.


Suara merdu lolos begitu saja yang semakin membuat Sean tersenyum puas.


Menit demi menit berlalu, Sean masih saja up and down padahal Arini sudah mendapatkan pelepasannya.


"Apa masih lama?" tanya Arini karena dia sudah mulai lelah


"Masih sayang, sabar ya," jawab Sean


Arini mengangguk dan pasrah, satu ronde Sean adalah lima kali ronde pergulatan pada umumnya.


"Apa rudal besar membutuhkan waktu lama untuk mengeluarkan pelumasnya?" tanya Arini yang diselingi kata ah ah dan ah


"Ntah lah sayang," jawab Sean


Sean yang akan mendapatkan pelepasannya mengerang sambil memejamkan matanya.


Sean mengecup Arini dan bilang terima kasih pada istrinya dan mereka pun tidur sambil berpelukan.


Pagi ini Sean sudah siap dengan baju kerjanya sedangkan Arini masih tidur pulas, Sean sengaja tidak membangunkan Arini, dia tidak mau menganggu istirahat istrinya.


Sebelum berangkat Sean juga meminta pelayan untuk menyiapkan makanan yang bergizi untuk Arini dan tak lupa susu untuk ibu hamil.


Arini perlahan membuka matanya, tangannya berkelana mencari keberadaan Sean namun dia tidak menemukannya.


"Apa sudah berangkat?" gumam Arini lalu beranjak ke kamar mandi.


Pagi hari tidak melihat Sean membuat Arini dongkol, dia sungguh kesal sekali ingin rasanya memarahi suaminya yang telah pergi tanpa berpamitan.


Seusai sarapan Arini menyusul Sean di kantor, dia segera melangkahkan kaki menuju ruangan Sean.


Namun saat hendak masuk, Arini melihat ada banyak tamu jadi Arini mengurungkan niatnya.


"Nemuin Vani ah," gumamnya lalu menuju ruang OB


Terlihat Vani hendak melanjutkan pekerjaannya,


"Vani," panggil Arini


Vani menoleh,


"Arini," sahut Vani


Arini berjalan menghampiri Vani lalu memeluknya, dia sungguh kangen sekali dengan sahabatnya itu.


"Aku kangen Van, kita keluar yuk," ajak Arini


"Kamu gak lihat Rin, aku sedang kerja kalau aku keluar bisa-bisa aku ditendang ma suami kamu yang super dingin itu," tolak Vani


Arini tertawa, "Tenang aku yang ijinin," sahut Arini


Vani tertawa renyah, dia setuju dengan ide Arini, pikirnya sekali-kali bolos kan nggak papa, lagipula ini juga menjalankan perintah ibu bos jadi masuk dalam katagori bekerja.


Saat hendak keluar ada Via yang mendekat, "Eh eh mau kemana?" tanya Via


"Ijin mbak Via ngajak Vani keluar bentar, udah Sean ijinin kok," jawab Arini berbohong


"Jangan bohong kamu Arini, jangan mentang mentang kamu dipungut pak Sean jadi seenaknya sendiri,"


Arini yang kesal dengan kata-kata Via pun mendekati Via


"Masih pengen bekerja di sini nggak, kalau masih jaga tu mulut," ancam Arini


Seusai meeting dengan kliennya, Sean menghubungi Arini namun tidak dijawab sehingga dia menghubungi kepala pelayan.


kepala pelayan : nyonya keluar tuan


Sean : kemana?


Kepala pelayan : saya tidak tau tuan


Sean : bodoh! kenapa nggak tanya. Kalau sampai nyonya hilang lagi kalian semua aku pecat!!!


Tut, Tut, Tut


Sean mematikan sambungan panggilannya secara sepihak


"Kamu kemana sih sayang," gumam Sean


Lalu Sean menyuruh Nick untuk mencari informasi dimana Arini, beberapa menit kemudian Nick datang menghadap.


"Nona Arini saat ini berada di kafe Cinta." Nick memberikan laporan


"Ayo kita kesana," ajak Sean


*********


Arini sedang asik mengobrol dengan Vani, mereka saling curhat dengan masalah mereka masing-masing.


"Kamu kelihatanya sangat bahagia Rin," kata Vani


"Kami akan segera menikah resmi Van, aku juga sedang hamil sekarang," sahut Arini


Vani sangat senang karena sahabatnya bahagia,


"Aku turut bahagia Rin, duh senengnya sebentar lagi punya keponakan," timpal Vani lalu memeluk Arini


Lama berpelukan mereka akhirnya melerai pelukan mereka, tiba-tiba tepukan mendarat sempurna di kening Arini


Plak


"Kebiasaan, kemana-mana nggak pernah pamit," omel Sean


"Maaf tuan suami, tadi saat bangun aku tidak mendapati kamu jadinya aku nyusul ke kantor tapi karena ada banyak tamu akhirnya aku ngajak Vani keluar" jelas Arini


Sean menghela nafas lalu memeluk dan mengecup kening Arini, Vani yang melihatnya tersenyum. Dia sangat bahagia melihat Sean menyayangi Arini hingga tak terasa air matanya terjatuh.


Nick yang melihatnya pun bertanya," Kamu baik baik saja kan?" tanya Nick


"Iya pak Nick aku hanya terharu melihat mereka," jawab Vani


Nick tersenyum, Sean yang masih ingin berduaan dengan Arini pun menyuruh Nick dan Vani kembali ke kantor dengan alasan mereka harus kerja lagi.


Vani dan Nick pamit untuk kembali, lalu mereka berjalan menuju parkiran mobil, tiba-tiba tangan Vani ditarik oleh seseorang.


"Vani apa karena dia kamu meninggalkan aku," kata pria yang bernama Rio


Vani tertawa, "Jangan memutar balikkan fakta mas, bukannya kamu sendiri yang selingkuh," sahut Vani


"Tapi Van, aku masih mencintai kamu," timpal Rio


Vani tidak menanggapi ocehan Rio, tanpa sengaja Vani menggandeng tangan Nick dan menjauh dari Rio


Rio yang tidak terima mengejar Vani sambil memanggil manggil namanya.


"Vani, tunggu kita belum selesai bicara," teriak Rio


Vani yang tidak menggubris semakin membuat Rio kesal


"Hey kamu lelaki banci, sini kalau berani hadapi aku," hina Rio


Nick berhenti lalu membalikkan badan dan menunggu Rio mendekat, tanpa aba-aba Nick membogem perut Rio


Buggghhhhh


Rio memekik kesakitan lalu dia jatuh ke tanah


"Baru segitu kamu sudah keok, lain kali lihat dulu siapa lawan mu dan asal kamu tahu aku bukan banci seperti apa yang kamu tuduhkan," kata Nick sambil berjongkok


Begitu pula Vani yang ikut memaki Rio,


"Jangan datang lagi padaku, aku benci lelaki yang berkhianat, dan satu lagi aku sudah bahagia dengannya jadi goodbye forever," maki Vani


Puas memaki Rio Vani mengajak Nick untuk pergi.


Di dalam mobil Vani hanya diam, hingga Nick yang melihatnya pun berinisiatif untuk menghibur Vani


"Katanya sudah bahagia denganku ,kenapa sekarang sedih?" kata Nick dengan tersenyum