Teman Ranjang Billionaire

Teman Ranjang Billionaire
Sadar


Nampak Amira ada di atas brankar dengan tubuh penuh luka-luka.


Mama yang melihat Amira tak kuasa menahan tangisnya, dia mengejar para perawat yang masuk dalam ruangan gawat darurat.


Mamanya berlari dan ingin menerobos masuk namun beberapa suster menghadangnya.


"Maaf kami harus segera melakukan tindakan atau nyawanya tidak tertolong," kata suster lalu menutup pintu ruangan tersebut.


Mama terkulai lemas di lantai, dia tidak bisa membayangkan kalau sampai Amira meninggalkannya.


Papa Amira mencoba menenangkan istrinya dan mengajak berdoa untuk kesembuhan Amira.


Satu jam berlalu, dokter dan suster sudah keluar.


"Bagaimana keadaan anak saya?" tanya Mama Amira


"Anak nyonya sudah melewati masa kritis namun keadaanya saat ini masih belum stabil," jawab Dokter


Mama dan Papa cukup lega sekarang, mereka masuk untuk melihat keadaan Amira.


Dua jam berlalu namun Amira belum juga sadar, mama dan papa panik kembali.


Tak selang lama empat manusia tampan datang yang membuat Mama dan Papa Amira kaget.


"Sean Daffa," katanya memanggil nama Sean dan Daffa.


"Maaf Tante, Om baru sampai," kata Sean.


Mereka mengikuti berita, mereka gambling dan tak disangka saat mencari Amira mereka melihat orang tau Amira duduk di depan ruang ICU.


Sean dan Daffa masuk untuk melihat Amira, mereka nampak menyesali perbuatan mereka pada Amira kemarin.


"Maafkan aku Amira kemarin malam tidak menyambut mu dengan baik, aku memang bukan sahabat yang baik," kata Sean dengan menggenggam tangan Amira.


"Maafkan aku juga Amira, jadi sekarang bangunlah supaya kami bisa meminta maaf padamu dan kita bisa memperbaiki lagi hubungan kita yang sempat renggang," Daffa mengimbuhkan.


Seolah mendengar kata-kata dari sahabatnya, tangan Amira merespon dia menggerakkan tangannya meski matanya tertutup.


Sean menyuruh Nick memanggil dokter karena di ruangan ICU tersebut tidak ada alat otomatis yang bisa memanggil dokter sewaktu-waktu.


Tak berselang lama dokter datang dan memulai memeriksa Amira.


"Syukurlah, meski belum sadar namun keadaanya sudah stabil," kata dokter.


Suster diperintahkan untuk memindahkan Amira ke ruang perawatan, Sean menyuruh suster untuk memindahkan Amira ke kelas VVIP rumah sakit tersebut.


Kini mereka berenam dalam ruang perawatan Amira, karena mama yang tiba-tiba drop membuat papa membawa mama pulang sejenak supaya bisa istirahat di rumah.


"Silahkan Om, sementara biar kami yang menunggui Amira," ujar Daffa


"Makasih Daffa, Amira beruntung memiliki sahabat seperti kalian," sahut papa Amira berterima kasih.


Kini tinggal mereka berempat, Sean mengirimkan foto Amira pada Arini supaya dia bisa lega dan tidak khawatir. Sean juga menambahkan kalau dia pulang telat.


Arini bisa memaklumi keadaan Sean dan itu cukup membuat Sean lega.


Sean yang dari tadi belum makan pamit untuk sarapan sebentar, ternyata bukan hanya Sean Nick dan Daffa juga belum sarapan.


Perut mereka sudah Rock n Rol karena saat ini sudah menjelang siang hari.


Cemas dengan keadaan Amira membuat pengusahaan ternama tersebut melupakan sarapan mereka.


Shane yang sudah sarapan diminta untuk menunggui Amira, tak berselang lama setelah Sean, Daffa dan Nick pergi Amira sadar.


Bola matanya memutar mengelilingi setiap sudut ruangan.


"Aku dimana?" tanya nya dengan tangan lirih. Tangan Amira memegang kepalanya yang masih berputar-putar.


Shane yang mendengarnya langsung mendekat ke bed Amira, "Kamu sudah sadar?" tanya Shane


"Iya," jawab Amira. Aku dimana? kamu siapa? bagaimana dengan pesawatnya?" Amira memberondong banyak pertanyaan yang membuat Shane bingung menjawabnya.


Mendengar kata-kata Shane membuat Amira tersenyum tipis.


"Kamu sekarang di rumah sakit, aku Shane manusia paling tampan sejagad raya, apa kamu lupa padaku Amira," jawab Shane dengan terkekeh. "Kamu tu aneh kenapa malah mikir pesawat," imbuh Shane yang heran bisa-bisanya malah mikir pesawat yang sudah jadi bangkai.


Amira meminta Shane untuk mengambilkan minum untuknya, setalah membasahi tenggorokannya yang kering Amira ingin pergi ke toilet. Seharusnya perawat memasang kateter namun kelihatannya mereka lupa.


"Bisakah kamu membantuku pergi ke toilet?" tanya Amira


"Aku harus masuk juga?" jawab Shane


"Kamu tunggu di depan pintu," sahut Amira


"Kirain masuk dan bantu cebokin juga," timpal Shane dengan terkekeh.


Amira melemparkan tatapan matanya yang gak begitu tajam pada Shane mengingat kondisinya masih lemah.


Shane terkekeh sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Kemudian dengan pelan Shane membopong Amira yang masih sangat lemah, "Kamu yakin bisa buang air kecil sendiri?" tanya Shane nggak yakin kalau Amira ingin buang air kecil sendiri.


Saat Dia menurunkan Amira, tiba-tiba Amira akan terjatuh karena tidak kuat membawa tubuhnya sendiri.


Tak tega melihat Amira Shane pun mau nggak mau menemani Amira buang air kecil di dalam.


"Jangan ngintip," kata Amira dengan berpegangan pada Shane yang memalingkan wajahnya.


Dengan bersusah payah, Amira cebok dan memakai celananya kembali, setelah usai Shane membawanya kembali ke tempat tidurnya.


"Terima kasih Shane," ucap Amira dengan tersenyum tipis


"Sama-sama, seharusnya tadi biar aku bantu kamu cebok," kekeh Shane," Lihatlah tanganmu berdarah ini mungkin karena infusnya tertarik," imbuhnya.


Shane memanggil suster untuk membenahi infus Amira, dia juga menyuruh supaya memasang kateter supaya Amira tidak buang air kecil.


Dari tadi Shane lah yang mengurusi Amira. Dia sangat telaten sekali sehingga membuat Amira terkesan pada Shane.


Dari awal dia bertemu Amira di kantor Daffa, Shane sudah terkesan dengan sikap lemah lembut Amira, apalagi Amira memiliki wajah yang sangat cantik natural tidak seperti teman-teman kencannya yang kecantikannya dibuat-buat bahkan hingga di operasi.


Sean dan kawan-kawan sudah datang, Amira sangat senang akhirnya sahabat-sahabatnya mau memaafkan dirinya, dan kini hubungan mereka sudah seperti dulu.


Amira kini sadar dalam persahabatan jangan melibatkan cinta, karena justru akan merusak persahabatan itu sendiri jika tidak bisa menanggapi cinta yang datang dengan bijak.


Sean dan Daffa memeluk Amira, rasa sayang terhadap Amira kembali lagi dan menghilangkan rasa benci yang sempat hadir.


Mama dan Papa yang melihatnya juga sangat bahagia.


"Sean dan Daffa lah pa yang mampu membuat Amira bahagia," kata Mama


Papa mengiyakan kata-kata istrinya.


Karena hari semakin sore, semua pamit untuk kembali, Amira nampak sedih namun dia juga tidak boleh egois, semua memiliki pekerjaan apalagi Sean yang sudah memiliki istri.


"Cepatlah sembuh, dan datang ke Indo. Kalau di sana kami akan sering-sering mengunjungimu," kata Sean


"Iya, benar itu Amira mulailah hidup di Indonesia kembali dengan kami," timpal Daffa


"Kami akan sangat senang jika kamu menetap di Indonesia kembali," imbuh Shane dengan tersenyum


"Shane care banget ya dengan nona Amira," ujar Nick


Semua mengiyakan, bahkan Daffa juga setuju Shane dengan Amira.


"Kelihatannya doa kamu waktu itu dikabulkan Shane," goda Sean yang membuat semua tertawa sedangkan Amira tersipu malu.


Teman-temannya sungguh kurang ajar bagaimana bisa menggoda teman yang sedang sakit.


"Siapa yang ingin kalian jodohkan dengan Amira?" tanya Ayah dengan raut wajah yang sulit dijelaskan


Ketiga orang menunjuk Shane dan Shane sendiri mengacungkan tangannya.