Teman Ranjang Billionaire

Teman Ranjang Billionaire
Tuduhan keji Sean


Daffa terjatuh,


"Sudah sayang, sudah! mas Daffa bisa mati." Arini mencoba menahan Sean supaya tidak memukul Daffa lagi.


Sean menyingkirkan tangan Arini dengan sedikit mendorongnya sehingga Arini jatuh.


Daffa yang mengetahui Arini jatuh bangkit dan menolongnya.


"Hati-hati Sean, kamu bisa melukai anakmu," kata Daffa.


Melihat Daffa menolong Arini membuat Sean tertawa keras.


"Bagus, dari awal aku sebenarnya sudah curiga. Kalian sering bertemu di sini dan kemarin kamu menemukan Arini bahkan masuk dalam kamar hotel Arini jangan-jangan kalian ada hubungan dibelakang aku," tuduh Sean.


Arini menatap Sean dengan tajam


"Jaga bicaramu, aku dan mas Daffa tak ada hubungan apa-apa," sanggah Arini.


"Benar Sean, aku dan Arini tidak ada hubungan apa-apa, maafkan aku. Ini semua hanya salah paham," sahut Daffa.


Lagi-lagi Sean tertawa, "Mana ada maling mengaku, kalau semua maling mengaku pasti penjara penuh," timpal Sean.


"Simpan saja maaf kamu Daffa," imbuh Sean


"Dan kamu Arini, aku sungguh kecewa. Apa kurangnya aku di dalam hidupmu hingga kamu curangi aku," kata Sean


Arini menghela nafas, "Meskipun aku salah tapi please jangan lebay, aku tidak mencurangi kamu sedikit pun," sahut Arini kesal dengan Sean


Arrrggggg


Sean frustasi lalu pergi begitu saja sedangkan Arini dan Daffa menatap punggung Sean yang semakin menjauh dan hilang.


"Maafkan aku Arini karena membawamu dalam masalah," ujar Daffa


Arini tersenyum dan menatap Daffa," Nggak apa-apa mas," sahut Arini


"Lalu bagaimana selanjutnya?" tanya Daffa


"Aku akan meminta maaf lagi padanya meskipun aku tidak salah," jawab Arini


Daffa tertawa dia merasa tersindir dengan ucapan Arini. Dia sungguh merasa tidak enak karena salah paham mereka akibat ulahnya.


Arini pamit pada Daffa untuk menemui Sean, namun saat di ruangan Sean dia tidak menemukan Sean di sana. Dia bertanya pada Nick tapi Nick juga tidak tau.


Arini yang bingung akhirnya memutuskan untuk pulang tapi Sean tidak ada di rumah. Pikiran Arini mulai kacau sekarang, segerombolan pikiran negatif hinggap begitu saja tanpa aba-aba dari Arini.


Arini berjalan mondar-mandir, panggilannya juga tidak diangkat oleh Sean.


"Kamu benar benar marah," gumamnya


Arini yang lelah pun merebahkan dirinya di tempat tidur, dia mencoba memejamkan matanya namun pikirannya pergi ke Sean.


Aaaarrrggggg


Teriaknya frustasi,


"Sayang kamu di mana sih." Arini bermonolog dengan dirinya sendiri.


*******


Hingga malam tiba Sean belum juga pulang, hal ini membuat Arini tak tenang. Berkali-kali Arini menengok ke bawah lewat jendela kamarnya namun mobil Sean tidak terlihat.


"Sayang, jangan buat aku takut," gumam Arini


Tak selang berapa lama tiba-tiba


Brak


Terdengar suara pintu dibuka dengan keras, Sean masuk dengan sempoyongan. Dengan segera Arini mendekat ke arah Sean yang duduk dengan melepas sepatunya


"Sana pergilah, aku bisa membuka sepatuku sendiri," kata Sean dengan sedikit mendorong Arini


Arini diam saja kali ini karena memang semua berawal darinya.


Lalu Sean naik ke tempat tidur, Arini juga ikut naik ke tempat tidur.


Biasanya Sean meminta jatah namun kali ini dia langsung tidur dengan membelakangi Arini.


Arini menghela nafas, "Nggak enak juga didiami seperti ini," gumamnya


Arini merebahkan dirinya lalu memejamkan mata, meskipun dicueki Sean namun setidaknya Sean sudah ada di rumah dan itu cukup membuatnya lega


"Sayang, udah siang kamu nggak ke kantor?" kata Arini sambil menggoyang tubuh Sean.


Perlahan mata Sean terbuka, tangannya tergerak memijat kepalanya yang pusing.


"Pusing sekali," gumamnya


Arini mencoba membantu memijat kepala Sean yang pusing tapi dengan segera dihempaskan oleh Sean


"Jangan pedulikan diriku, sana pedulikan Daffa." Kata Sean dengan meninggikan suaranya.


Sean beranjak turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi.


Kini Sean sudah bersiap dengan pakaian kerjanya sedangkan Arini sedari tadi duduk di sofa dengan melihat Sean.


Arini sudah mengambilkan baju untuk Sean namun Sean malah memilih bajunya sendiri.


"Sampai kapan kamu akan bersikap seperti ini?" tanya Arini


Sean menghentikan aktivitasnya lalu memutar bola matanya ke Arini.


"Menurutmu apa aku bisa bersikap manis lagi setelah kamu berselingkuh dengan Daffa," jawab Sean


Arini menghela nafas, "Aku dan mas Daffa tdiak berselingkuh kenapa kamu tidak percaya," omel Arini


"Mana ada maling ngaku," sahut Sean


Arini kesal sekali, ingin rasanya dia menggetok kepala Sean supaya otaknya kembali ke asalnya


"Terserah, apa katamu yang penting aku dan Mas Daffa nggak ada hubungan apa-apa," ujar Arini


Arini yang marah pergi keluar kamar, dia tidak menyangka Sean akan bersikap seperti ini,


Air mata Arini lolos begitu saja, dengan segera dia menghapusnya.


Arini pergi ke taman samping rumahnya, dia menyendiri di sana. Beberapa pelayan nampak heran karena seharusnya Arini berada di meja makan untuk makan bersama Sean bukannya di taman duduk sambil termenung.


Nick sudah datang, tak selang berapa lama Sean keluar dan naik dalam mobil, dia pergi begitu saja tanpa mencari Arini.


Puas dengan kesendirinanya, Arini masuk ke dalam kamar, dia memilih merebahkan dirinya sambil menonton film.


Siang ini Arini ingin mengantar makan siang untuk Sean, oleh karena itu dia berkutat di dapur untuk memasak tentu semua dengan bantuan internet.


Setelah siap Arini berangkat dengan memesan taxi online.


Setelah di kantor Sean, dia segera masuk ke ruangan Presdir, tenyata di dalam ruangan Sean ada Nick dan juga manager keuangan.


"Sayang, aku bawakan makan siang untukmu," kata Arini lalu duduk di sofa


Sean melirik Arini sesaat, lalu kembali mengobrol dengan Nick maupun manager keuangannya.


Nick tampak heran dengan sikap Sean, biasanya kalau ada Arini dia segera mengkodenya supaya segera keluar namun kali ini seakan tak ada Arini


Arini yang sudah kesal dengan diamnya Sean mendekat ke arahnya tentu setelah Nick dan manager keluar


"Sumpah aku sudah lelah, kesabaranku sudah di ambang batas," protes Arini


mendengar suara Arini Sean menghentikan aktivitasnya dan menatap Arini


"Lalu kamu mau apa?" tanya Sean dengan datar


"Bersikaplah seperti biasa, aku ini hamil jangan buat aku stres, kasian anak kita," jawab Arini


Sean tersenyum sinis yang membuat Arini merinding.


"Setelah memergoki kalian kemarin aku kini jadi ragu, anak itu milikku atau bukan," kata Sean


Kata-kata Sean bagai sembilu yang menusuk jantung Arini, hingga membuat Arini mematung dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.


Tanpa aba-aba air mata yang menggenang jatuh membasahi pipi Arini yang sedikit chubby.


Bibirnya seakan terkunci hingga dia tak bisa menyahut atau mengeluarkan ocehan ocehannya.


Tanpa sepatah kata Arini berjalan ke sofa untuk mengambil tasnya. Dia sungguh shock dengan tujuan keji Sean.


"Semoga kamu tidak menyesal dengan tuduhanmu padaku," kata Arini


Hanya kata itu yang keluar dari mulut Arini sebelum dia keluar dari ruangan Sean.