
Aaahhhhhhhh
Lenguhan Arini keluar dengan lepas yang disahuti oleh ombak, suara gaib Arini dan ombak saling memburu. Begitu pula dengan Sean yang terus memaju mundurkan pinggangnya dengan suara-suara gaibnya.
"Bagaimana jika ada yang melihat kita," kata Arini sambil menikmati setiap sodokan rudal Sean.
"Gak ada," sahut Sean yang tak sanggup bicara karena tenaganya fokus untuk olahraga pantainya.
"Tapi kan ini tempat terbuka, kalau tiba-tiba ada yang datang bagaimana?" tanya Arini
"Kita tinggal menyodorkan surat nikah, lagipula aku sudah membooking pantai ini dengan mahal, jadi aman," jawab Sean
"Tapi kan...." belum sempat melanjutkan kata-katanya Sean sudah membungkam mulut Arini dengan bibirnya.
Dia tidak melewatkan sedikit pun isi dalam rongga mulut Arini.
Arini menarik rambut Sean, dan mengejang yang menandakan dia telah mendapatkan pelepasannya.
Berbeda dengan Sean yang masih terus memburu supaya segera melepaskan pelepasannya.
Byur byur byur
ahhh ahhh ahhh
Suara ombak bersautan dengan suara-suara gaib yang Sean dan Arini yang terus memburu, bagai kuda dalam pacuan.
Setelah mendapat pelepasannya Sean menjatuhkan dirinya di samping Arini, Seusai Sean mencabut rudalnya Arini segera memakai bajunya karena malu dan takut, jika bukan karena Sean ogah dia melakukan panjat pinang di alam bebas.
"Ayo kita membersihkan diri," ajak Arini
"Kita bisa mandi di situ," sahut Sean sambil menunjuk pantai bening yang hanya berjarak beberapa meter dari tempat mereka.
"Ogah, yang ada tubuhku makin lengket dan asin," timpal Arini
Sean lalu beranjak dan segera memakai pakaiannya, tak jauh dari mereka berasa ada sebuah ruangan khusus untuk mandi dan ganti baju.
Nick dan Vani menunggu di luar pintu masuk, Nick yang sudah tidak tahan dengan kesendiriannya akhirnya mengungkapkan perasaanya pada Vani.
"Sekian lama aku memendam perasaan ini, akhirnya aku tidak punya ruang lagi untuk menyimpan perasaanku yang semakin hari semakin besar ukurannya," kata Nick dengan menatap Vani lekat.
Vani yang sebenarnya juga ada perasaan dengan Nick pun sangat senang sekali.
Namun Vani tidak akan memberikan milik berharganya sebelum mereka menikah.
"Ram dan Rom hatiku tak sanggup menampung besarnya cintamu padaku pak Nick," sahut Vani dengan tersenyum.
Nick nampak pucat dengan jawaban Vani, entah apa yang terjadi padanya jika Vani tak membalas cintanya.
"Lalu?" tanya Nick
Vani tersenyum, "Aku harus menghapus data-data yang tidak terpakai, serta menguninstal beberapa nama gebetan aku," jawab Vani dengan terkekeh
Nick jadi kesal dengan Vani yang bertele-tele,
"Jadi kamu menolak ku Van?" tanya Nick dengan penasaran dan juga gugup serta kesal sedikit.
Lagi-lagi Vani tersenyum, "Maaf pak Nick saya tidak bisa," jawab Vani
Mendengar jawaban Vani membuat Nick kecewa padanya, wajah Nick tampak lemah dan lesu.
Dia beranjak lalu menatap sembarang, "Baiklah Van, maaf telah memiliki rasa lebih padamu, mungkin kamu ditakdirkan untuk menjadi temanku bukan tulang rusukku," ungkap Nick.
Vani beranjak lalu dia memberanikan diri memeluk Nick dari belakang.
"Saya tidak bisa menolak niat baik anda pak Nick," kata Vani yang membuat Nick membolakan matanya.
Dia membalikkan badannya lalu memegang kedua pundak Vani dengan kedua tangannya.
"Jadi kamu nerima aku Van?" tanya Nick memastikan
Vani mengangguk,
Nick langsung memeluk Vani dengan erat puas berpelukan kini mereka saling pandang.
Bibir Nick semakin dekat dan dekat hingga ciuman tidak terelakkan lagi.
Vani yang hanya diam membuat Nick menggigit bibir bawah Vani supaya dia membuka mulutnya.
Setelah dia membuka mulutnya Nick tidak membuang kesempatan, dia terus mel umat bibir Vani yang kenyal.
Hingga suara deheman terdengar
ehem ehem
"Cie cie Vani dan Pak Nick ciuman," goda Arini
Vani segera mendorong tubuh Nick sehingga pautan mereka terlepas.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Sean
"Ciuman pak," jawab Nick
"Aku tahu," sahut Sean.
Nick sungguh kesal sekali dengan Sean, dia yang bertanya setelah dijawab malah bilang sudah tau.
"Apa sih maksudnya," gerutu Nick dalam hati.
Suasana menjadi hening, meraka diam tanpa ada yang berkata-kata, hingga Vani yang mengurai keheningan di antara mereka.
"Gimana Rin, panjat memanjatnya sukses?" tanya Vani menggoda Arini
Sean dan Arini saling pandang, mereka lalu mengacungkan jempolnya yang menandakan kalau sukses tanpa hambatan sedikit pun.
Sean juga merasa puas karena imajinasi liarnya sudah terpenuhi.
Karena lelah mereka memutuskan untuk kembali ke six senses Uluwatu.
Sean dan Arini masuk kedalam Villa mereka begitu pula dengan Vani dan Nick.
Mereka menyewa dua Villa, satu untuk Arini dan Sean satu untuk Vani dan Nick.
Satu Villa ada dua kamar tidur, meskipun satu Villa Nick dan Vani tidur beda kamar.
"Van kita kan resmi jadian, bagaimana kalau kita tidur bersama," goda Nick
Vani langsung melempar tatapan tajamnya pada Nick, " Mau aku potong tu rudal dan aku lempar ke laut?" Ancam Vani.
"Astaga Vani kejam sekali dirimu, aku kan hanya bilang tidur bersama bukan bercinta," sahut Nick
"Kalau kita tidur bersama pasti akan muncul pihak ketiga," timpal Vani.
"Nanti aku ikat deh setannya," bujuk Nick
"Nggak! sekali nggak tetap enggak," sahut Vani lalu meninggalkan Nick yang berdiri di ruang tamu.
Nick tersenyum, dia semakin suka dengan Vani yang susah didekati.
"Fix kamulah ibu dari anak-anakku," gumam Nick lalu merebahkan diri di sofa.
Di sisi lain Sean merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya.
Dia merasa mual dan pusing, kepalanya terasa berputar-putar.
Huek huek huek
Sean mengeluarkan semua yang dia makan, Arini dengan telaten memijat tengkuk Sean dengan mengoles minyak aromaterapi pada pelipis, dada dan perut Sean.
"Ini kamu masuk angin sayang," kata Arini lalu membantu Sean kembali ke tempat tidur.
"Mungkin," sahut Sean
"Ini gara-gara kita gelud di pantai tadi, apalagi angin laut kencang sekali," timpal Arini
Arini menatap Sean dengan menggelengkan kepala,
"Mau aku kerokin?" tanya Arini
Sean yang nggak paham kerokan bertanya
"Apa itu kerokan," jawab Sean dengan pertanyaan balik.
Arini yang malas menjelaskan pun membuka ponselnya lalu menyuruh Sean melihat Video yang dia buka dari YuTube tersebut.
Sean mengerutkan alisnya, "Kamu mau aku dikerokin seperti apa yang ada di dalam video ini?" tanya Sean
Arini mengangguk, "Ogah, pasti sakit tubuh kok di kerok," sahut Sean.
"Sudah jangan membantah, nurut kenapa sama istri, dijamin sembuh," sahut Arini
Mau nggak mau akhirnya Sean tengkurap, Arini mengoles minyak dan menggaruknya dengan uang.
Sean yang tidak tahan pun beranjak,
"Pengobatan apa ini, bisa-bisa kulitku iritasi." Sean protes.
"Ya dengan begitu kamu bisa sembuh karena anginnya keluar," timpal Arini.
"Nggak nggak, masih banyak obat yang bisa aku minum," sahut Sean.