Teman Ranjang Billionaire

Teman Ranjang Billionaire
Baju pengantin untuk anakku


Vani terdiam mendengar ramalan nenek tua tersebut sedangkan Nick yang kesal menarik Vani namun Vani enggan untuk pergi dari situ karena Vani ingin mendengar kelanjutan ramalan dari nenek tersebut.


"Tunggu bentar dong mas," kata Vani


"Lalu nek?" tanya Vani penasaran.


"Tapi saya melihat ada cahaya di ujung, yang artinya akan ada kebahagian di sana dan kamu tidak sendiri ada tawa riang anak," jawab nenek tersebut.


"Ya udah nek maksih," ucap Vani lalu memberikan uang di meja nenek tersebut.


Nenek tersebut tersebut tersenyum, "Bahagia pasti akan kamu jelang," gumam nenek tersebut.


Vani dan Nick berjalan menyusuri lorong-lorong lagi, baik Nick tidak begitu menggubris ramalan nenek tersebut karena kembali lagi mereka tidak begitu percaya dengan hal seperti itu, semua sudah digariskan oleh yang di atas. Setiap manusia memiliki ujian hidupnya masing-masing, ujian itu menandakan kalau Tuhan sayang sama umatnya, hanya dengan ujian manusia lebih berkualitas, kesabaran dan ketabahan manusia diuji namun masih dalam batas kemampuan masing-masing.


Puas berkeliling, Vani dan Nick kembali lagi ke hotel, mereka istirahat sejenak.


"Kira-kira apa ya yang membuatku menangis mas" tanya Vani tiba-tiba teringat akan ramalan nenek tadi.


"Entahlah apa jangan-jangan kamu menangis karena aku selalu minta jatah padamu," goda Nick yang membuat Vani melemparkan tatapan mautnya pada Nick


"Ngapain aku menangis karena hal itu toh aku juga menikmatinya," sahut Vani


Nick terkekeh dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Sudahlah sayang, jangan dipikirkan pada dasarnya setiap rumah tangga selalu ada cobaannya, dengan begitu akan semakin membuat kita menjadi hamba yang berkualitas, banyak-banyak berdoa saja," pesan Nick


Lalu Vani menatap suaminya sesaat, memang benar yang dikatakan oleh suaminya.


Apapun itu yang terpenting mereka selalu bersama menghadapi ujian mereka.


"Mas aku boleh nggak minta sesuatu?" tanya Vani dengan serius


"Apa?" tanya Nick serius juga.


"Aku kan ngefans banget sama Lee min ho, ajak dong mas ke rumahnya," jawab Vani dengan tertawa.


Nick melempar tatapan mautnya pada Vani, lalu dia menaikkan gaun Vani dan melepas pakaian dalam milik istrinya.


"Berani minta bertemu laki-laki lain jadi sekarang harus melayani aku," kata Nick kesal


"Ampun mas, iya iya," ucap Vani


Mereka akhirnya bergulat, gara-gara Lee Min hoo akhirnya obrolan berakhir dengan permainan ranjang.


Vani mendapat serangan senjanya, hingga matahari


terbenam aksi panas mereka berdua belum juga selesai, memang kalau urusan ranjang nggak Sean, Nick ataupun Daffa ahli semua.


Setelah puas mereka berdua mandi bersama lalu ke restoran hotel untuk makan malam setelah itu jalan-jalan lagi menikmati Korea malam hari.


Vani dan Nick sangat bahagia, terlebih Vani yang hidupnya berubah seratus delapan puluh derajat.


Sama halnya dengan Nick dan Vani, Daffa juga sedang menikmati bulan madu mereka dengan gayanya sendiri.


Berbeda dengan Nick yang menikmati bulan madunya dengan jalan-jalan namun Daffa dan Putri hanya menikmati bulan madu mereka di kamar saja.


Setelah makan malam, Putri memakai lingerie dan malam pertama siap dieksekusi.


Malam sendu dengan rintik-rintik air hujan menambah nikmat malam pertama mereka.


Suara-suara gaib dari Putri maupun Daffa menggema seisi kamar untung kamar mereka ada peredam suaranya coba kalau tidak pasti pelayan mereka ikut merinding mendengar jeritan-jeritan Putri dan desa han Daffa.


"Mas udah," pinta Putri


"Bentar lagi sayang," sahut Daffa


Daffa menambah laju pinggulnya dan dia mendapat pelepasannya.


Setelahnya dia tumbang dan mereka berdua lalu terkapar.


**********


Sebelum masuk Brian mengetuk pintu terlebih dahulu


"Pagi pak," sapa Brian.


"Pagi, masuk," kata Sean.


Brian masuk dan duduk berseberangan dengan Sean, "Jadi kamu kakak Nick?" tanya Sean


"Iya pak," jawab Brian.


Tanpa basa basi Sean memberikan berkas-berkas yang harus Brian kerjakan, lalu dia menyuruh Brian ke ruangan Nick.


"Ternyata bos Nick, seperti ini. Tapi perasaan kemarin saat di Pernikahan Nick orangnya nggak gini," batin Brian yang hanya bisa protes di belakang Sean.


Memang saat di acara pernikahan Nick, Sean dikenalkan dengan Brian oleh Nick namun Sean kurang begitu memperhatikan sehingga lupa.


Dengan cekatan Brian menyelesaikan pekerjaan Nick, dia juga sudah mengatur jadwal Sean.


Meskipun baru bekerja namun Brian cukup handal karena di Luar negeri dia juga sekolah bisnis. Brian bekerja di sebuah perusahaan besar dan sebagai Asisten juga.


Sean yang mendapat laporan dari Brian tersenyum puas, lalu dia mengajak Brian bertemu klien.


Dengan Gamblang dia menjelaskan semua pada klien sehingga semua klien Sean terhipnotis.


"Hebat sekali kamu Brian," puji Sean


"Makasih pak," sahut Brian dengan tersenyum


"Tapi jangan besar kepala dulu, jangan terbuai dengan pujianku," timpal Sean yang membuat Brian ingin menumpahkan air di kepalanya.


"Ada mahkluk hidup seperti ini," batin Brian.


Di sebuah rumah sakit, seorang wanita muda terbaring lemah dengan tangan yang diinfus dan beberapa alat medis lainnya.


"Bertahanlah demi anakmu," kata seorang wanita yang sedari tadi menunggui wanita yang berbaring tersebut.


Wanita yang bernama Kinan tersebut hanya tersenyum, sambil menitikkan air mata.


"Aku ingin bertemu dengan mas Nick Sa," kata Kinan dengan menahan sakitnya.


"Nick dan istrinya masih bulan madu, setelah mereka pulang aku akan membawa Nick untuk menemui kamu," kata Sasa.


Kinan adalah seorang Desainer terkenal, selama empat tahun ini dia bekerja keras untuk membangun butiknya hingga besar seperti saat ini.


Hingga tak diduga Kinan menderita sakit kanker yang saat diketahui masih stadium dua.


Kinan kurang mengindahkan nasehat dokter hingga penyakitnya semakin parah namun meskipun begitu dia masih tetap bekerja.


Beberapa hari kemudian keadaaan Kinan sudah membaik, dia diperbolehkan pulang oleh dokter.


Dari pihak medis sendiri berharap ada keajaiban untuk Kinan, namun entahlah nasib manusia ada di tangan Tuhan.


Pagi itu Kinan datang ke buktinya dan kebetulan ada customer yang ingin melihat-lihat baju pengantin.


Mata customer tertuju pada desain unik baju pengantin yang terpasang di sebuah lemari kaca.


Desainnya sungguh indah, tidak ada desain baju seperti itu,


"Saya ingin baju pengantin yang di sana," pinta customer tersebut dengan menunjuk baju di dalam lemari kaca.


"Maaf tapi baju itu untuk anak saya nanti," sahut Kinan.


"Kan anda bisa mendesainnya kembali," timpal wanita tersebut.


"Maaf, itu saya desain khusus untuk anak saya." Kinan tetap bersikeras.


Akhirnya customer tersebut memilih desain yang lain.


Memang Kinan mendesain baju pengantin untuk Keira kelak, dia takut kalau tidak bisa mendesainkan baju untuk anaknya kelak jadi dia sudah menyiapkan baju pengantin saat usia Keira masih tiga tahun saat dokter memvonis dia terkena kanker.