Teman Ranjang Billionaire

Teman Ranjang Billionaire
Jebakan


"Aku suka gaya asisten kamu Daffa, menggelikan sekali," bisik Sean.


Papa Amira menatap Shane dengan tatapan tak biasa sehingga membuat Shane menjatuhkan tangannya yang tadi dengan semangat dia angkat.


"Memangnya Amira menginginkanmu?" tanya Papa menyelidik


Shane menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu terkekeh, "Belum Om tapi lambat laun anak om pasti membuka hatinya untuk saya," jawab Shane dengan percaya diri.


Daffa dan Sean saling pandang, mereka sungguh tak mengira Shane memiliki tingkat kepedean yang luar biasa.


Amira hanya tersenyum karena dia sendiri belum memiliki perasaan apa-apa terhadap Shane.


Kini mereka berempat bersiap untuk pulang, Shane berpamitan pada Amira.


"Aku pulang dulu ya Amira, jaga baik-baik dirimu. Kalau kamu merindukan aku pejamkan matamu dan sebut namaku tiga kali pasti aku tidak akan datang," kata Shane dengan terkekeh.


Amira tertawa mendengar kata-kata Shane, sungguh Shane sanggup membuatnya tertawa padahal kemarin dia baru saja mengalami hal yang mengerikan dan kini Amira bisa tertawa lepas berkat Shane


"Daffa, setan apa yang menempel padanya sehingga dia jadi seperti ini," bisik Sean


"Mungkin dia terpapar virus berbahaya pak, sehingga gila seperti anda dulu," sahut Nick yang membuat Daffa tertawa.


Sean melemparkan tatapan mautnya pada Nick tanpa bisa mengancam karena sungkan dengan yang ada di situ.


Tak ingin berlama-lama Daffa dan Sean berpamitan kepada Amira, mereka memeluk sahabatnya tersebut. Nampak Amira menangis, berat rasanya jauh dari sahabat yang baru dia dapatkan kembali.


"Hati-hati ya, Daffa Sean," kata Amira.


Daffa dan Sean mengangguk, "Kamu juga cepat sembuh dan segera kembali," kata Sean


"Kami akan menantikan kehadiran kamu di tengah kami kembali," sahut Daffa.


Lalu mereka semua pergi dan segera pulang ke tanah air.


Setibanya sampai di hotel Sean bergegas menuju kamarnya, saat pintu kamar dibuka Sean langsung memeluk Arini, dia sungguh rindu sekali dengan istrinya tersebut.


"I Miss you so much baby," bisik Sean


"I Miss you too," jawab Arini


Arini dan Sean duduk di sofa, Arini bertanya perihal keadaan Amira.


"Dia baik-baik saja mungkin seminggu sudah boleh pulang," jawab Sean


Puas bercerita, Arini beranjak untuk menyiapkan air hangat untuk Sean, karena biasanya Sean suka berendam air hangat di bathub.


********


Seminggu berlalu, Vani yang mendapat tiket liburan ke Eropa jadi galau, orang tau Vani juga tidak mau pergi mereka takut hilang di Eropa.


Keesokannya Vani mencari Nick guna bertanya terkait tiket yang dimenangkannya. Dia berharap Nick bisa menemaninya karena kata Sean tiket tidak bisa ditukar atau diuangkan mengingat semua sudah dibooking.


"Pak Nick," teriak Vani sambil berlari menghampiri Nick yang baru keluar dari mobilnya.


Vani mengira Nick berangkat sendiri tapi tenyata ada Sean yang juga ikut keluar mobil.


"Eh pak Sean," kata Vani


"Aku beri waktu kalian lima belas menit untuk pacaran, setelah itu kembali bekerja. Enak sekali semua pada bekerja la kalian mau pacaran," gerutu Sean lalu masuk kedalam.


"Cepat sekali dia masuk, seharusnya masih berbulan madu jadi kita kan bisa berduaan," ucap Vani dengan terkekeh begitu pula dengan Nick.


"Ada apa Van?" tanya Nick


"Aku masih bingung dengan tiketnya pak, sayang kalau hangus," jawab Vani


"Astaga kamu masih mikir tiket itu, ya udah nanti coba aku bicara dengan Pak Sean," sahut Nick.


Mereka terus mengobrol, hingga ponsel Nick berdering dan Sean lah yang menelponnya.


"Maaf Van, aku harus ke atas pak Sean sudah memanggil," ujar Nick.


Nick mencoba membujuk Sean tapi Sean tetap bersikukuh tidak memberi cuti kepada Nick. Ya begitulah Sean, Vani yang diberitahu Nick semakin galau. Lalu dia pun ada ide untuk meminta tolong pada Arini supaya mau membujuk suaminya.


"Berilah ijin cuti seminggu sayang, biar mereka bisa bisa berkeliling," bujuk Arini


"Nggak, aku bosnya jadi semua harus menuruti apa yang aku katakan," kata Sean dengan kesal.


Arini tersenyum, "Siapa bilang kamu bosnya, perusahaan itu sudah menjadi milikku," sahut Arini


Sean menatap kesal Arini, bisa-bisanya dia menggunakan kekuasaan yang Sean berikan untuk menyerangnya balik.


"Baiklah terserah kamu saja, tapi sebagai gantinya aku mau kamu selalu menemaniku datang ke kantor selama seminggu," pinta Sean


"Ok," timpal Arini.


Rencananya besok Arini ikut ke kantor karena dia akan memberitahu Vani kalau Sean memberi cuti untuk Nick selama seminggu.


*********


Pagi sekali Mama Daffa dan Diana mendatangi apartemen Daffa, mama sengaja membawakan sarapan untuk Daffa karena pasti Daffa tidak akan masak sendiri.


"Tumben mama kesini, ada perlu apa?" tanya Daffa heran


Mama berpura-pura menangis untuk menarik simpati Daffa.


"Mama tau kamu membenci mamamu ini tapi apa tidak boleh seorang ibu membawakan bekal makanan untuk anaknya," kata Mama Daffa


Daffa mendekat lalu memeluk mamanya, " Maafkan Daffa ma, bukan begitu maksud Daffa, heran saja karena mama kan nggak pernah kemari," sahut Daffa menyesal.


Mama menyiapkan sarapan Daffa, kini mereka bertiga makan bersama di ruang makan.


"Bagaimana kabarmu Diana?" tanya Daffa basa basi


"Baik Daffa," jawab Diana, "Lalu bagaimana dengan kamu?" tanya balik Diana.


Seperti yang kamu lihat," jawab Daffa.


Mama Daffa memang membawakan makanan kesukaan Daffa sehingga Daffa makan dengan Lahap.


"Mama kapan kembali ke luar negeri?" tanya Daffa memecah keheningan di ruang makan.


Mama Daffa menatap Daffa dengan kesal, "Apa kamu tidak suka ada mama di rumah?" tanya Mama balik


"Bukan begitu, Daffa hanya heran biasanya mama sibuk dengan bisnis Mama di luar sana la sekarang kok berlama-lama di Indo," jawab Daffa santai lalu memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


Mama menghela nafas, kalau Daffa menurut kata-katanya tentu Mama Daffa pasti sudah kembali ke luar negeri bareng dengan papanya.


Setelah makan selesai, Daffa mencuci piring-piring kotor sendiri karena memang tidak ada art di apartemen Daffa.


"Jangan dicuci biar nanti mama membawa art kita ke sini," kata Mama Daffa melarang Daffa cuci piring.


Daffa hanya menggeleng kepala dengan sikap mamanya.


"Cuma cuci piring sedikit saja kenapa harus membawa art kemari," tolak Daffa


Diana juga enggan membantu karena dia takut kalau kukunya patah maklum habis menikur dan pedikur.


Setelah Daffa mencuci piring Mama memberikan jus pada Daffa yang sebelumnya dicampur dengan obat perang sang dengan dosis yang tinggi.


Sungguh Mama Daffa dibutakan oleh nafsunya sehingga tidak berfikir keselamatan anaknya bagaiama kalau meminum obat tersebut dengan dosis tinggi.


Setelah minum jus yang diberikan mamanya tubuh Daffa memanas dengan hebat, tiba-tiba bagian bawah Daffa mengeras dan berdiri tegak. Hasratnya menggebu, Daffa yang tau ada yang tidak beres masuk ke kamarnya, lalu mama Menyuruh Diana untuk menyusul Daffa.


Setalah di kamarnya, Diana mendekati Daffa yang sedari tadi mengusap tengkuknya.


"Jangan mendekat Diana, please," pinta Daffa


Inilah yang Diana inginkan, tiba-tiba dia membuka gaunnya sehingga tubuh polosnya terpampang jelas yang membuat Daffa tak tahan.


"Jangan salahkan aku jika aku melakukannya Diana,"