Teman Ranjang Billionaire

Teman Ranjang Billionaire
Rencana double date


Karena urusan yang sangat penting dia menunggu Sean di balkon lantai atas yang tak jauh dari ruang kerja Sean.


Lama Nick menunggu tapi Sean tak kunjung keluar, "Lama sekali, mereka memainkan gaya apa saja," gumam Nick


Pelayan yang melihat Nick dari bawah berinisiatif untuk mengantarkan minuman.


Sampai minuman habis tapi Sean tak kunjung keluar.


Nick mondar mandir resah dan gelisah menunggu Sean pasalnya dia harus mendapatkan tanda tangan Sean secepatnya.


"Ini orang gencar sekali melakukan serangan senjanya, dari tadi nggak keluar-keluar," gerutu Nick


Ponsel Nick pun berdering, terlihat kliennya menghubungi Nick meminta berkas dengan tanda tangan Sean secepatnya.


Mau nggak Nick mencoba menguping di depan pintu, suasana hening tak ada suara-suara gaib yang membuatnya merinding.


"Mereka sudah melakukan gencatan senjata apa belum ya, apa masih saling serang," gumam Nick


Nick sungguh dilema dan bingung, dia takut kalau mengetuk pintu Sean akan marah dan mengancamnya dengan berbagai ancaman yang tidak manusiawi, tapi kalau tidak mengetuk pintu kliennya akan pergi dan membatalkan kerjasamanya.


Arrrrgggggggg


Nick sungguh frustasi,


Tiba-tiba pintu terbuka, Sean keluar dengan bertelanjang dada.


Betapa kagetnya dia melihat Nick berada di depan pintu ruang kerjanya.


"Kamu, ngintip aku ya Nick," kata Sean dengan menatap Nick


"Masih banyak film panas yang berkeliaran di internet yang lebih hot untuk apa saya mengintip anda yang mungkin permainannya nggak se hot seperti di film film," sahut Nick


Sean melirik Nick dengan lirikan mautnya, sungguh kesal sekali dengan asistennya tersebut.


"Mau aku pecat?" tanya Sean kesal


"Maaf pak," jawab Nick dengan singkat.


Karena tak ingin menganggu Arini yang sedang tidur di ruang kerjanya, Sean mengajak Nick untuk di ruang tamu lantai atas tempat Nick tadi menunggunya.


Nick memberikan berkas yang harus ditanda tangani, "Silahkan tanda tangan pak, karena klien sudah menunggu," kata Nick


Tanpa membaca berkasnya Sean langsung menandatangani berkas yang diberikan oleh Nick.


"Aku tidak membacanya awas kalau kerja sama ini membuat perusahaan rugi," ancam Sean


"Tenang pak semua sudah saya pelajari dan renungkan semalaman," sahut Nick lalu pamit


Sean kembali ke ruang kerjanya lalu dia memindahkan Arini ke kamar setelah itu Sean membersihkan dirinya.


Malam ini dia berniat untuk menemui Daffa di rumahnya.


Saat mobil Sean masuk rumah Daffa, menyusul mobil Daffa masuk.


Sean menyandarkan diri di mobilnya, menunggu Daffa keluar dari mobil.


"Hey bro," sapa Daffa lalu memeluk Sean


Sean menghela nafas," Hey Daffa," sapa balik Sean


Sebenarnya saat melihat mobil Sean masuk rumahnya, Daffa sedikit kaget. Asumsi-asumsi negatif berkeliaran di otaknya namun dengan segera Daffa menepis semuanya dan turun dengan bersikap biasa.


"Tumben kamu kesini? ada apa?" tanya Daffa seolah tidak terjadi apa-apa dengannya maupun Sean.


"Aku mau menyelesaikan konflik di antara kita, meskipun aku masih kesal padamu namun aku ingin mengakhirinya mengingat kita adalah sahabat," jawab Sean to the point


Daffa tersenyum, "Apa Arini yang menyuruhmu?" tanya Daffa


"Tidak, semua inisiatif ku sendiri," jawab Sean sinis


Meskipun tidak mengakuinya tapi Daffa tahu kalau memang Arini yang menyuruhnya.


Suasana hening sesaat, Daffa maupun Sean mengunci mulutnya mengikuti pikiran yang terbang entah kemana,


"Sean, maafkan aku," ucap Daffa dengan raut wajah yang mendung


Sean menatap Daffa dengan lekat, sangat terlihat di mata Daffa kalau Daffa menyesal.


"Aku mau memaafkan mu asal kamu jangan mengulanginya lagi, Arini milikku selamanya tetap milikku," ucap Sean penuh penegasan karena dia tidak mau kalau Daffa mendekati Arini.


Daffa tersenyum menyeringai, memang mungkin saatnya dia melupakan cinta yang tak terbalaskan.


"Apa kamu mencintainya Daffa?" tanya Sean


Daffa hanya terdiam, tidak menjawab dan tidak menolak sehingga membuat Sean tersenyum.


"Dari diam mu aku tau kalau kamu juga mencintainya," kata Sean


"Tidak," sahut Daffa


"Dari dulu kamu masih saja tidak pandai berbohong Daffa," timpal Sean


Meskipun Sean menyadari kalau dia mencintai istrinya, Daffa mencoba tetap tenang.


"Apa yang membuatmu yakin kalau aku mencintai istrimu?" tanya Daffa


"Dari caramu menatapnya hingga kejadian kemarin kalau kamu tidak mencintainya mana mungkin kamu memeluknya," ungkap Sean


Dengan tenang Daffa menjawab pertanyaan Sean


"Mana mungkin aku mencinta dua orang bersamaan Sean, aku memiliki kekasih yang amat sangat aku cintai, maaf jika sikapku dengan arini membuatmu curiga," jelas Daffa berbohong


Sean terbelangak kaget, dia tak menyangka kalau Daffa memiliki kekasih. Dari dulu sampai sekarang bagi Sean Daffa adalah mahkluk misterius sedunia.


Dengan tertawa Sean membogem lengan Daffa, "Aku penasaran sekali dengan kekasihmu, bagaimana kalau kita melakukan dobel date supaya kita bisa saling mengenal Daffa." Sean memberi ide


Daffa membolakan matanya, bagaimana bisa Sean memiliki ide seperti itu.


Daffa menyipitkan matanya, "Dia tidak bisa Sean, karena dia sibuk." Daffa beralasan


"Sibuk apa? sudahlah jangan alasan Daffa, sesibuk sibuknya pasti ada waktu luang," sahut Sean


Daffa yang bingung hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Baiklah," ucapnya pasrah


"Ya sudah Minggu besok kita dobel date, tempat dan waktu nya nanti aku share karena aku harus rembukan dulu sama Arini," kata Sean


Mereka berdua asik mengobrol kesana kemari hingga tak terasa malam sudah larut.


Sean melihat jam tangannya, dan dia pun pamit pada Daffa.


"Aku pamit ya," pamit Sean


"Kenapa tidak tidur di sini? lama kita tidak seranjang berdua, sebelum Arini yang jadi teman ranjang mu kan aku adalah teman ranjang mu," sahut Daffa dengan terkekeh


"Brengsek, aku masih normal," timpal Sean menggerutu


Memang dulu Sean dan Daffa sering tidur bersama, dari kecil hingga dewasa mereka selalu bersama, mereka juga bersekolah di tempat yang sama. Hingga saat pertengahan kuliah, kira-kira semester empat mereka terpisah dan baru bertemu kembali saat sudah sama-sama menjadi Presdir sebuah perusahaan besar.


Daffa tertawa lalu dia mengantar Sean ke depan dan sekali lagi meminta maaf pada Sean.


Selepas kepergian Sean Daffa ke kamarnya untuk membersihkan diri.


Tak berselang lama Sean sudah sampai di rumahnya, dia bergegas masuk ke dalam kamar.


Sean ikut bergabung dengan Arini yang sedang melihat TV.


"Kamu kenapa meninggalkan aku setelah puas memanjat diriku sayang," gerutu Arini


"Maaf sayang, aku tadi ke rumah Daffa dan kami sudah baikan," kata Sean dengan mengecup kening istrinya


Arini nampak senang karena Sean mau memaafkan temannya.


"Terima kasih sayang," timpal Arini


Sean menceritakan semua pada Arini terkait kekasih Daffa dan juga double date yang akan diadakan pada hari Minggu besok.


Awalnya Arini nampak heran karena memang selama ini Daffa tidak pernah bercerita sama sekali tentang wanita padanya namun dia tidak begitu memikirkannya.


"Nge-date dimana sayang?" tanya Arini


Sean nampak berfikir


"Ntah lah, kamu ada ide? tanya Sean balik


"Bagaimana kalo kita kencan ala rakyat jelata," jawab Arini