Teman Ranjang Billionaire

Teman Ranjang Billionaire
Jangan mengganggu kesenanganku


"Kamu bisa diam nggak, mau kamu tu apa sih! tadi aku manggil mas, kamu melarang suruh aku manggil nama, memangnya siapa yang tau namanya kalau nggak tanya dulu," omel Arini. Dia sungguh kesal sekali dengan suaminya.


Lalu Sean diam melihat Arini berbelanja,


"Jangan tiga ratus ribu dong, tujuh puluh lima ribu ya," tawar Arini


"Kalau tujuh puluh lima ribu belum boleh mbak, bagaimana kalau dua ratus lima puluh ribu," tawar penjualnya.


"Nggak ah, turunin lagi dong. Kan aku mau beli banyak," sahut Arini


Arini dan penjualnya mengobrol lama saling tawar menawar, Sean yang sudah kesal langsung mengambil uang lima juta dan memberikannya pada pedagang tersebut.


"Ini lima juta tolong beri kami baju terserah kamu," kata Sean.


Arini menatap Sean kesal, sedangkan penjualnya segera memasukkan celana, kaos serta barang-barang lainnya pada tas kresek.


Setelah itu dia memberikannya pada Arini.


"Ini mbak," kata mas mas penjual baju sambil menyodorkan belanjaan padanya.


Sean mengajak Arini kelaur pasar karena Sean mulai merasakan gerah.


"Kenapa sih kamu mengganggu kesenanganku? lihatlah belanja lima juta cuma dapat baju sedikit," gerutu Arini


"Itu udah dapat banyak biasanya aku beli baju satu lebih dari lima juta," sahut Sean tanpa merasa bersalah.


"Beda lah," timpal Arini lalu masuk mobil.


Arini sudah tidak selera berbelanja lagi karena Sean telah mengganggunya.


Dia ingin kembali ke hotel saja sambil melihat apa belanjaannya tadi.


"Nggak ingin belanja lagi?" tanya Sean


"Nggak karena kamu pasti mengganggu aku," jawab Arini ketus.


"Lagian kamu lama sekali, tawar menawar seperti orang susah saja, berapa harganya ya sudah bayar gitu harus ngoceh panjang kali lebar," sahut Sean kesal juga.


"Kamu tu ya, kalau kita bisa dapat harga yang murah kenapa nggak toh nantinya bisa hemat pengeluaran," timpal Arini


Sean dan Arini saling pandang, nampak mereka berdua sama-sama kesal.


"Awas no jatah pokoknya malam ini," ancam Arini


"Nggak papa lagian aku bisa cari yang lain," sahut Sean asal.


Arini yang mendengarnya tentu menjadi marah meskipun Sean berbicara begitu hanya asal dan tidak bermaksud cari yang lain.


"Opoo mau cari yang lain, silahkan aku juga bisa cari laki-laki lain yang lebih tampan darimu, toh sekarang uangku banyak pasti bisa lah menggaet berondong," oceh Arini.


Arini dan Sean terus berdebat di mobil sehingga supir harus geleng-geleng kepala dengan tingkah tuan dan nyonya nya.


Setelah di hotel Arini turun lebih dulu lalu meninggalkan Sean, "Seenaknya saja ingin cari yang lain setelah membuat aku seperti balon," gerutu Arini.


Keasikan menggerutu tak sengaja membuat Arini menabrak seorang pria tampan hingga berkas-berkas yang dia bawa terjatuh, "Maaf maaf saya tidak sengaja." Arini meminta maaf karena tidak sengaja menabrak lelaki tersebut.


"Tidak apa-apa," sahutnya.


Arini membantu pria tersebut untuk memunguti berkasnya yang jatuh.


"Terima kasih," ucap pria tersebut.


Sean yang baru sampai akhirnya harus melihat Arini mengobrol dengan seorang pria dan betapa kagetnya dia yang mengobrol dengan istrinya adalah saingan bisnis Sean.


"Bagus, udah dapat kenalan sekarang," kata Sean lalu menarik Arini masuk ke dalam kamar hotel mereka.


Sean yang marah mendiamkan Arini, untuk makan siang dia menyuruh pelayan hotel mengantarkannya ke kamar.


Arini juga masa bodoh dengan Sean, dia merebahkan dirinya ke tempat tidur lalu memejamkan mata.


Sean yang melihat Arini jadi kesal sendiri, "Dasar wanita tidak peka," gerutu Sean.


"Kamu juga tidak peka," sahut Arini.


Sean mendekati Arini di tempat tidur, "Kamu yang tidak peka, dari awal kamulah yang tidak peka terhadapku, aku curiga kamu itu wanita jadi-jadian," kata Sean


"Wanita jadi-jadian gundul mu kalau aku wanita jadi-jadian tidak mungkin aku sepeti balon," ucap Arini kesal dengan menunjukkan perutnya yang membuncit.


Mereka berdebat lagi ronde ke dua, karena tak kunjung selesai akhirnya Sean menyambar bibir Arini dan memegangi tangannya yang ingin meronta.


Tak hanya mencium, Sean juga menyingkap dress Arini dan menarik ce lana dalam Arini, Arini berusaha menolak namun tenaga Sean cukup kuat.


"Baiklah baiklah sebentar kita foreplay dulu, sakit kalau kamu langsung menusukku," kata Arini


Arini kini tenang tanpa meronta, dia juga membalas ciuman dari Sean setelah melakukan foreplay kurang lebih lima belas menit Sean pun melangsungkan panjat pinangnya.


Ya begitulah Sean ketika sedang kesal dengan Arini selalu menghukum Arini dengan hukuman ranjangnya. Mau nggak mau Arini harus menjalani hukumannya meski sedang dalam keadaan kesal.


Setalah mendapat kepuasannya Sean tersenyum puas, "Mending seperti ini berakhir dengan hukuman ranjang daripada kita terus saja berdebat yang nggak jelas," kata Sean lalu mengecup Arini.


"Maafkan aku, ya sudah besok belanja lah sendiri sesuka hatimu, aku akan menunggu di mobil setelah itu kita pergi melihat mayat seperti yang kamu ingin," imbuh Sean.


Arini mengangguk lalu memeluk suaminya, "Terima kasih sayang, maafkan aku juga," timpalnya.


Kini Arini dan Sean berbaikan kembali, memang terkadang dalam rumah tangga kita sering berdebat, bertengkar hingga cek Cok hebat namun semua pasti akan baik baik saja jika salah satu menurunkan egonya dan meminta maaf.


Dari tadi pelayan mengetuk pintu kamar namun tidak ada sahutan, beberapa kali dia kembali namun masih tidak ada yang membukakan pintu. Mereka juga menghubungi lewat telpon namun tidak diangkat.


Setelah panjat pinang, Sean dan Arini lapar dan Sean menghubungi pelayan kenapa makan siang mereka tidak diantar.


"Mohon maaf pak, dari tadi kami mencoba mengantar makan siang namun tidak ada yang membukakan pintu jadi kami membawanya kembali," jelas pelayan


"Ya sudah ya sudah, ini tips buat kalian." Sean memberikan tips sepuluh lembar uang warna merah pada pelayan tersebut.


"Terima kasih pak," ucap kedua pelayan tersebut senang.


Mata Arini membola melihat menu makan siangnya, yang salah satunya sate lilit.


Tanpa menunggu Sean dia langsung saja melahap sate lilit.


"Enak sekali sayang," kata Arini


"Kamu suka?" tanya Sean


"Banget sayang," jawab Arini.


Plak


Tepukan mendarat dengan sempurna sehingga Arini memekik kesakitan dan memegangi dahinya.


"Pasti ditepuk pasti ditepuk, gemes deh," gerutu Arini.


"Dah tau suka sate lilit kenapa nggak pernah bilang, kalau anak kita ileran bagaimana," ujar Sean


Arini terkekeh mendengar perkataan Sean, lalu mereka berdua menikmati makan siang mereka dengan diselingi canda tawa.


Tak jauh dari kamar mereka ada seorang pria yang tersenyum miring sambil melihat luar jendela.


"Kini aku tau apa kelemahan mu,"