Teman Ranjang Billionaire

Teman Ranjang Billionaire
Jangan tinggalkan aku


"Ariniiiiiiii," teriak Sean.


Bola mata Sean memutar, keringat dingin keluar dari dalam tubuhnya. Meskipun mimpi namun seperti nyata. Sean melepas infus yang terpasang di tangannya.


Dia segera turun dari tempat tidurnya dan menuju ruang ICU, namun Sean malah menemukan nenek-nenek yang dirawat di sana.


"Dimana kalian membawa istriku," gerutu Sean lalu berjalan keluar mencari dokter di ruangannya.


Saat di tengah jalan dia berpapasan dengan Shane yang baru saja mengambil ponselnya yang ketinggalan di mobil.


Raut wajah Shane nampak sedih, "Shane" panggil Sean.


Saat Sean mendekat, raut wajahnya semakin tak karuan.


Shane tanpa berbicara apa-apa menepuk bahu Sean yang semakin membuat Sean bertanya-tanya ada apa ini.


"Ada apa Shane?" tanya Sean penasaran.


"Nanti pak Sean akan tau sendiri," jawab Shane yang semakin membuat perasaan Sean nano-nano.


Mereka berdua menuju sebuah ruangan yang memiliki fasilitas lengkap, nampak di depan Nick dan Daffa yang duduk dengan raut wajah sedih.


Setibanya Sean di sana mereka menatap Sean dengan lekat, Daffa segera memeluk Sean.


"Tabah kan dirimu kawan," bisik Daffa


Sean semakin bingung, penasaran apa yang sedang terjadi, tiba-tiba dia teringat akan mimpinya tadi.


Tubuh Sean seakan mematung, kedua bola matanya serasa mau keluar dari kedua kelopak matanya.


Keringat dingin mulai keluar, tubuhnya sudah mulai melemas hingga tubuhnya terhuyung ke belakang, pikirannya kacau, bagai gelas kaca yang jatuh dari atas meja, ambyar.


Mata mulai berkaca, Nick mendekat untuk memegangi Sean dia takut kalau sewaktu-waktu Sean pingsan.


Daffa membuka pintu dan menyuruh Sean masuk.


"Masuklah, lihatlah istrimu sebelum tim dokter kesini dan mengambilnya," kata Daffa yang membuat Sean histeris


"Brengsek kamu Daffa, dia tidak pergi. Dia hanya tidur!" seru Sean dengan menarik kerah baju Daffa, sebuah bogeman hampir saja mendarat untung Shane tanggap dan memegangi tangan Sean.


Sean mendekat, dan tangisnya pecah bahkan dia sampai terisak tak kuasa melihat istrinya.


Sama persis dengan mimpinya.


Sean langsung memeluk istrinya, "Beraninya kamu meninggalkan aku, beraninya kamu sayang!" ucap Sean dengan air mata yang terus mengalir.


Sungguh dia tidak bisa jika hidup tanpa Arini.


"Aku mohon bangunlah, aku janji tidak menjadi suami yang terbaik untuk kamu," kata Sean.


Dia menciumi wajah pucat Arini, "Kalau kamu pergi siapa yang aku panjat sayang," oceh Sean yang membuat ketiga temannya ingin tertawa.


"Bisa-bisanya dia saat duka seperti ini malah memikirkan siapa yang dipanjat," kata Shane dengan menatap Sean yang memeluk tubuh istrinya.


"Ariniiiiii, bangunlah!" teriak Sean.


"Ya Tuhan, kenapa kamu memisahkan kami, kasian calon bayi kami yang belum bertemu dengan papanya yang cakep ini," ujarnya lagi.


Ketiga lelaki tampan yang menemaninya dibuat menahan tawa karena ucapan konyol Sean.


Nick mendekat ke arah Sean, "Sudahlah pak, terima kenyataan. Ikhlaskan nona Arini. Jangan diratapi supaya dia tenang di sana," nasehat Nick.


"Bagaimana bisa, dia pergi gara-gara menyelamatkan aku!" maki Sean.


Sean memeluk tubuh Arini dengan erat seakan dia tidak mau pisah dengan istrinya.


Terdengar suara pintu diketuk, tenyata tim dokter datang.


Daffa memberi kode pada Nick dan Shane untuk keluar.


"Ayo kita pergi sebelum dia mengamuk," kata Daffa.


Melihat Dokter Sean langsung saja menarik kerah sang dokter, "Brengsek kalian, kalian ini bisa kerja apa tidak? kenapa menyelamatkan nyawa istriku saja tidak bisa," maki Sean.


Nampak dokter memucat,