Teman Ranjang Billionaire

Teman Ranjang Billionaire
Kekecewaan Arini


"Tuan suami, aku sungguh tidak paham sama sekali dengan bisnis dan manajemen, bagaimana kalau aku di rumah saja." Arini memainkan pulpen yang dipegangnya


Sean melirik Arini dengan mencibirkan bibir


"Payah, otak tu di maksimalkan. Cuma membuat laporan saja tidak bisa," ejek Sean


"Memang ini bukan bidang ku?" sahut Arini


Arini dan Sean sama-sama diam, Arini merasa puyeng dengan tabel-tabel laporan dengan angka hampir 12 digit. Dari SD sampai SMP pelajaran yang mengandung angka seperti momok bagi Arini oleh sebab itu dia sering dihukum oleh guru karena sering sekali tidak mengerjakan PR.


"Im give up tuan suami," ucap Arini


Sean hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, "Wanita sepertimu memangnya bisa apa?" tanya Sean


"Banyak tuan suami, salah satunya jago melayani mu," jawab Arini dengan terkekeh


Mendengar jawaban Arini membuat Sean menghentikan aktivitasnya lalu menatap Arini


"Jago apanya, cuma di bawah dengan ah oh ah oh gitu jago, namanya jago tu kamu yang memimpin di atas aku yang menikmati di bawah," protes Sean


Arini hanya tertawa mendengar ocehan Sean, "Maklum tuan pengalaman pertama," bela Arini


Arini dan Sean terus debat mengenai urusan ranjang mereka hingga ada Nick datang yang memberitahukan kalau ada klien yang ingin bertemu sekarang juga.


Sean setuju untuk bertemu sehingga dia meninggalkan Arini di ruangannya sendiri.


"Baik-baik ya, awas jangan kemana-mana," pesan Sean lalu keluar bersama Nick.


"Yes," batin Arini dengan girang.


Arini yang lelah merebahkan dirinya di sofa sambil bermain ponselnya. Asik bermain tiba-tiba terdengar suara dering ponsel.


"Ponsel siapa ya?" gumam Arini lalu mencari sumber suara berasal.


Terlihat ponsel Sean tergeletak di atas meja, Arini melihatnya di layar ada tulisan "Monica calling,"


"Ngapain Mak lampir menghubungi suamiku," gumam Arini


Saat hendak mengangkat panggilannya, ternyata panggilannya sudah terputus.


Arini meletakkan ponsel Sean kembali.


Tak selang beberapa lama, Monica masuk ke dalam ruangan Sean.


Betapa kagetnya Monica tau kalau Arini ada di dalam ruangan Sean.


"Kamu," kata Monica kaget


"Kenapa?" tanya Arini sinis


"Kenapa kamu berada di ruangan Sean?" tanya Monica


"Suka-suka aku, aku kan nyonya Sean," jawab Arini


Monica membolakan matanya, dia tak percaya kalau pelayan rendahan seperti Arini menjadi nyonya.


"Hey kuntilanak, jaga bicaramu. Mana mungkin pelayan rendahan sepertimu menjadi istri Sean," cibir Monica sambil mendorong tubuh Arini


Arini yang tidak terima didorong Monica menarik rambut Monica dengan kuat sehingga Monica memekik kesakitan.


"Auuuwww lepaskan," pinta Monica sambil memegangi rambutnya yang ditarik Arini


"Hey Mak lampir, jangan macam-macam denganku," ancam Arini


"Dasar kuntilanak," umpat Monica


Arini dan Monica saling Arini tarik menarik bahkan Arini mencakar wajah Monica.


Tak selang berapa lama Sean dan Nick datang.


"Arini, Monica!" teriak Sean


Sean segera melerai keduanya, "Kalian apa-apaan kenapa berkelahi!" bentak Sean


"Dia dulu yang mulai," sahut Arini


"Lihatlah sayang, dia merusak rambutku." Monica mengadu pada Sean


Di wajah Monica nampak luka cakaran Arini, tanpa sengaja Sean mengecek lalu mengelus wajah Monica.


Arini yang melihatnya menjadi kesal lalu pergi,


"Seharusnya dia mengkhawatirkan diriku yang istrinya bukannya wanita lain," umpat Arini


Arini pergi tak tentu arah, dia merasa kecewa akan sikap Sean.


Arini menyuruh sopir taksi menghentikan mobilnya saat melewati sebuah telaga kecil.


"Saya turun di sini saja pak," kata Arini


Arini berjalan menuju telaga, meskipun kecil tapi telaga tersebut lumayan indah.


Arini menumpahkan kekesalannya dengan melemparkan batu-batu ke dalam telaga.


"Aku membencimu Seaaaaannnnn," teriak Arini


Tiba-tiba sebuah tangan mengagetkan Arini,


"Daffa," katanya kaget


"Kamu ngapain kesini?" tanya Daffa


"Menenangkan diri, kamu sendiri ngapain disini?" tanya Arini balik


"Aku membuntuti kamu," jawab Daffa


Arini tersenyum, "Untuk apa membuntuti aku?" tanya Arini


"Takut kalau ada yang culik kamu," jawab Daffa


Arini tertawa, "Tenang nggak akan ada yang mau menculik aku, karena selain bawel aku tu makannya banyak sehingga penculiknya berfikir dua kali untuk menculik aku," kata Arini


Daffa berpura-pura kaget


"Bagaimana kalau aku saja yang menculik kamu," sahut Daffa yang membuat Arini melemparkan tatapannya


Daffa tertawa sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya.


Hening terjadi di antara mereka hingga tanpa Daffa minta Arini menceritakan semua padanya


"Aku tidak mengerti dengan Sean, dia bilang cinta padaku bilang ini dan itu tapi kenyataannya aku bukan lah yang spesial di matanya. Mungkin selamanya bagi Sean aku hanyalah teman ranjangnya hanya pemuas nafsunya di ranjang," ungkap Arini


"Memangnya kalian menikah tanpa cinta?" tanya Daffa


Arini menggeleng, "Dulu aku menikah dengannya karena aku butuh uang untuk biaya pengobatan ibuku," jawab Arini


Daffa tersenyum puas, "Ada kesempatan bagiku untuk merebut Arini Sean," batin Daffa


Arini dan Daffa menghabiskan waktu bersama mereka bercanda tawa bersama hingga lupa waktu.


Di sisi lain Sean bingung mencari keberadaan Arini,


"Kenapa pergi nggak bilang sih Arini?" gumam Sean dengan memegangi kepalanya.


"Mungkin nona Arini marah dengan anda tuan," kata Nick


Sena melemparkan tatapan tajamnya pada Nick "Marah?" tanya nya


Nick mengangguk,


"Kenapa marah?" tanya Sean


"Jelas lah marah pak, anda lebih condong ke nona Monica daripada nona Arini padahal kan nyonya Arini adalah istri anda," jawab Nick


"Oh my God, kenapa aku nggak menyadari hal itu," ucap nya


Nick hanya menggeleng-gelengkan kepala, "Woi dari tadi kemana saja," batin Nick


Arini yang masih kesal dengan Sean malas untuk pulang, "Aku malas pulang," kata Arini


"Pulanglah Arini, jangan membuat suamimu khawatir ," pinta Daffa


"Dia nggak kan khawatir denganku, meskipun aku mati dia juga nggak akan peduli," sahut Arini


Daffa hanya terdiam, Arini lah yang lebih tau bagaimana Sean.


"Bagaimana kalau kamu selingkuh denganku," kata Daffa yang membuat Arini menatapnya lekat


Meskipun Daffa adalah orang yang Arini suka tapi ntah mengapa saat Daffa memintanya untuk berselingkuh dia merasa tak nyaman.


"Aku aku...." belum sempat melanjutkan kata-katanya Daffa tertawa


"Aku hanya bercanda Arini, jangan gugup begitu," sahut Daffa


"Brengsek kamu pak Daffa," umpat Arini


Daffa dan Arini tertawa, diam-diam Arini menatap Daffa dengan lekat, senyum Daffa sungguh manis sekali.


Karena hari sudah senja Arini dan Daffa memutuskan untuk kembali, Daffa mengantarkan Arini sampai rumah.


"Arini, hati-hati," pesan Daffa


"Kamu pikir aku akan kemana sehingga harus hati-hati," protes Arini


"Siapa tau Sean marah-marah," sahut Daffa


"Pasti itu, suara melengking nya bisa membuat gendang telinga tidak berfungsi," timpal Arini


Arini keluar dari mobil Daffa dan melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah.


Saat masuk ke dalam kamarnya terlihat Sean duduk di sofa dengan raut wajah tak karu-karuan.


"Arini," panggil Sean


Arini hanya diam, dia meletakkan tas nya lalu ke kamar mandi.


Setelah keluar Arini merebahkan dirinya di tempat tidur


"Arini," panggil Sean lagi


Lagi-lagi Arini terdiam sehingga membuat Sean kesal. Lalu Sean ikut naik ke atas tempat tidur.


"Kamu budek ya," kata Sean


"Iya, kenapa? tau kalau aku budek kenapa masih ngajak aku bicara," sahut Arini


"Kamu....." Sean mencengkeram lengan Arini.