
"Saya hanya bisa menggelengkan kepala Pak Sean dan ibu Arini, bagaimana kalian bisa berhubungan badan lama sekali kasian bayinya," kata Dokter lalu memeriksa perut Arini.
"Seharusnya sepuluh sampe lima belas menit sudah cukup," imbuh dokter.
Sean membolakan matanya, dia membayangkan bercinta sepuluh sampai lima belas menit.
"Masa iya sih dok
baru dimasukan udah dicabut, istri saya nggak puas dong," protes Sean.
Arini yang dikambinghitamkan tidak terima, "Lo kok aku, bilang saja kamu yang nggak puas," sahut Arini tidak terima.
Akhirnya terjadilah debat antara Sean dan Arini yang semakin membuat Dokter frustasi dengan tingkah mereka.
Dokter membuka tasnya lalu mengambil ponselnya,
"Kalian debat dulu saya tunggu," kata Dokter yang mendapat sahutan dari Arini dan Sean.
"Tunggu Dok," kata mereka barengan lalu melanjutkan debatnya kembali.
Dokter hanya mampu memandangi Sean dan Arini secara bergantian, seandainya dia bukan pasien Sultan tentu sudah ditinggal pergi.
"Rasanya aku ingin pingsan, jadi sakit perut apa nggak sih ini, astagfirullah," batin Dokter.
Puas berdebat kini mereka terdiam, lalu dokter pun mulai memeriksa Arini.
Dokter mengerutkan alisnya dan dia menggelengkan kepala.
"Tadi anda menggunakan gaya apa saat berhubungan?" tanya Dokter menyelidik
Arini dan Sean saling pandang, "Kami melakukan gaya women on top Dok," jawab Arini dengan polosnya.
"Pantas," sahut Dokter.
"Sakit perut anda terjadi karena penetrasi yang terlalu dalam, akhirnya perut anda terasa sakit. Untuk pemeriksaan lebih detail datanglah ke rumah sakit untuk USG, dan untuk anda pak Sean jangan melakukan hubungan badan terlebih dahulu ya, takutnya terjadi apa-apa dengan baby-nya," imbuh Dokter kemudian.
Sean mengusap rambutnya kasar, belum juga puas dokter sudah melarangnya untuk berhubungan badan.
Setelah memberikan resepnya Dokter pamit untuk undur diri lalu Sean menyuruh pelayannya untuk menebus obat di apotek.
Selepas kepergian sang Dokter, Sean mendekatkan mulutnya pada perut Arini,
"Iya," jawab Arini seolah bayinya yang menjawab papanya.
"Ah kamu nggak asik, padahal papa belum memanjat tiga hari tiga malam kamu udah ngambek saja," sahut Sean dengan tertawa.
Mendengat kata Sean membuat Arini tertawa, "Goncangan papa membuat aku pusing di dalam pa," timpal Arini dengan tertawa.
"Astaga sayang, baru digoncang dengan skala yang rendah kamu sudah keok," ucap Sean dengan tertawa.
Arini bingung harus menjawab apa, dia yang kesal mencubit perut Sean dengan agak keras sehingga membuat Sean memekik kesakitan.
Arini dan Sean sungguh pasangan yang somplak, beberapa saat kemudian kepala pelayan datang dengan membawa obat Arini.
Sean segara meminumkan obatnya dan menyuruh Arini istirahat dan mungkin karena kelelahan Arini pun tertidur.
Rencannya besok mereka akan kontrol untuk mengetahui perkembangan jabang bayi yang ada di dalam perut Arini.
Seusai istirahat perut Arini sudah tidak ngilu lagi, lalu dia bangun dan pergi membersikan diri. Saat kembali Arini melihat Sean termenung di balkon.
Arini turut bergabung dengan Sean, "Apa yang kamu pikirkan sayang?" tanya Arini.
Sean tersenyum lalu merangkul tubuh Arini, "Tidak apa-apa, aku hanya ingin mencari angin saja,' jawab Sean.
"Sudahlah jangan berbohong, bilang saja ada apa?" tanya Arini lagi.
Sean menghela nafas lalu menatap Arini, "saat kamu tidur tadi, aku mendapat kabar dari teman kalau istrinya meninggal karena pendarahan saat melahirkan," jawab Sean dengan sendu
Arini memeluk tubuh Sean lalu mengelus punggung suaminya.
"Aku takut," ucap Sean dengan sendu.
"Kan kamu pernah bilang kalau aku adalah wonder women jadi tidak boleh takut saat melahirkan lalu kenapa sekarang kamu yang takut," kata Arini
"Kejadian kemarin membuat aku takut sayang, apa jadinya aku tanpa dirimu di sisiku," sahut Sean.
"Sudah jangan memikirkan sesuatu yang jelek-jelek, ingat pikiranmu adalah magnet yang akan tertarik jika kamu terus memikirkannya, pernah baca buku the Secret apa nggak?" timpal Arini
Sean mengusap rambut Arini, gemas sekali dengan sang istri. Sean sungguh tak menyangka Arini pernah baca buku tersebut yang nggak semau orang mau membacanya.