Teman Ranjang Billionaire

Teman Ranjang Billionaire
Pernikahan Nick dan Vani


Saat asik sarapan tiba-tiba anak kecil tadi berlari masuk kamar hingga membuat Sean tersedak, Arini mengelus punggung suaminya.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Arini karena tiada angin tiada hujan tiba-tiba Sean tersedak.


"Aku melihat hantu," jawab Sean yang membuat semua membolakan mata.


"Mana?" tanya Daffa


"Tu masuk kamar," jawab Sean.


Pelayan yang kebetulan ada di situ ikut bicara, " Maaf Tuan apa yang di maksud anak kecil tadi?" tanyanya.


"Iya," jawab Sean.


Pelayan paruh baya tersebut tertawa, "Maaf Tuan, itu cucu saya," sahut pelayan yang membuat semua tertawa dan juga lega.


Misteri anak kecil tersebut sudah terpecahkan.


Mereka mengajukan banyak pertanyaan, karena bocah kecil tersebut mirip hantu malam-malam main diluar, hilang begitu saja dan juga pucat.


Si pelayan menjelaskan semua alasannya dan mereka semua manggut-manggut akan penjelasan pelayan.


Seusai sarapan mereka segera kembali ke kota mereka, saat keluar Vila tak sengaja dia melihat seorang wanita dengan baju putih duduk di sebuah ayunan dengan wajah yang pucat sekali.


Siapa wanita tersebut biar menjadi misteri untuk Sean, karena hanya Sean saja yang bisa melihat itu wanita.


Dua jam berlalu, kini mobil mereka telah sampai di kota Meraka, Shane segera mengantar pulang Amira, begitu pula dengan Daffa maupun Nick.


**********


Hari yang ditunggu-tunggu Vani dan Nick telah tiba, hari ini adalah hari bersejarah untuk mereka dimana janji sakral akan segera diucap oleh Nick dihadapan wali dan juga para saksi.


"Kamu cantik sekali Van," puji Arini


"Makasih Rin, kamu hari ini juga cantik sekali," puji Vani balik.


"Rin, aku kok nervous ya," kata Vani


"Wajar lah seperti ini, beberapa jam ke depan kamu akan menjadi seorang istri dan menantu," sahut Arini.


Ijab Qabul segera di mulai, resepsi pernikahannya di adakan lusa di Bali, entah kenapa Nick memilih Bali untuk resepsi mereka.


Dengan suara yang lantang Nick mengucap Qabul nya, dan penghulu pun berucap "Bagaimana para saksi sah?"


Sah!


"Alhamdulillah,' sahut penghulu.


Kini mereka semua berdoa, setelah itu Nick memakaikan cincin di jari manis Vani begitu pula sebaliknya.


Momen-momen mereka diabadikan oleh sang fotografer.


Mertua Vani sama sepeti mertua Arini, mereka sangat baik pada Vani.


Di sana juga nampak Kaka Nick yang baru pulang dari luar negeri yang bernama Brian.


Mereka semua nampak bahagia.


"Akhirnya bisa belah duren juga nanti malam," goda Shane


"Halah, paling habis ini mereka masuk kamar dan nyempetin bentar tu," sahut Sean dengan tertawa.


"ih Pak Sean, bukankah dulu pak Sean juga gitu," ucap Vani


"Iya, Van langsung digempur tanpa ampun aku," sahut Arini


"Tinggal Daffa dan Shane, kapan kalian menyusul?" tanya Sean


"Bentar lagi," sahut Daffa dengan tersenyum


"Aku juga bentar lagi," Sahut Shane.


Mereka semua tertawa, namun dari kejauhan nampak seorang wanita yang menatap Nick dengan tersenyum kecut sambil menggandeng anak kecil.


"Semoga kamu bahagia mas," gumam Wanita tersebut lalu pergi meninggalkan acara di rumah Nick.


"Betul tu pak Nick, dan ini kado untuk kalian berdua dari aku," sahut Arini sambil memberikan kadonya yang masih terbungkus kertas kado.


Daffa, Amira, Shane dan juga Putri bergantian memberikan kadonya untuk Nick dan Vani.


Tak lupa doa tulus, sakinah, mawadah dan warohmah untuk Nick dan juga Vani.


Setelah selesai mereka semua pulang dan kini tinggal sepasang pengantin baru yang siap untuk ritual belah duren.


Nick sudah nggak sabar menunggu malam hari, kedua orang tuanya yang melihat Nick risau pun bertanya.


"Kamu kenapa Nick?" tanya mama


"Nggak sabar ma, ingin segera ke kamar," jawab Nick dengan terkekeh


"Astaga Nick, sabar kenapa. Masih jam tujuh tamu juga masih pada datang," sahut mama Nick


"Lagian kenapa sih ma tamu pada datang sekarang kenapa nggak saat resepsi besok lusa saja," timpal Nick kesal.


Mama hanya bisa menggelengkan kepala dengan kelakuan anaknya.


Akhirnya yang ditunggu datang juga, sang waktu sudah menunjukkan pukul sembilan kini dia dan Vani sudah berada di kamar.


"Kamu siap sayang?" tanya Nick


"Siap mas," jawab Vani


Nick menggiring istrinya ke tempat tidur, sebelumnya dia telah mematikan lampu kamarnya dan mereka menggunakan penerangan lilin.


Awal mula dia bermain-main di bibir Vani lalu turun ke bawah, dalam sekejap mereka berdua kini sudah polos.


"Malam ini akan aku bayar tuntas," bisik Nick yang membuat Vani tertawa.


"Memangnya aku cicilan mas," sahut Vani.


Bibir Nick menyusuri setiap jengkal tubuh Vani, dari ujung rambut dan ujung kepala tak lepas dari sentuhan bibir Nick.


Mata Vani buka tutup merasakan setiap sentuhan lidah Nick yang bermain di bagian sensitif Vani.


Lenguhan lolos begitu saja, Nick yang sudah tidak sabar memposisikan rudalnya dengan titik target yang akurat, supaya saat meluncur tetap mengenai sasaran tanpa geser.


Saat hendak masuk terjadi hambatan sehingga Nick harus mendorong sedikit kuat supaya rudalnya bisa masuk dalam goa yang sempit, masih natural yang belum di jamah oleh siapa pun.


Aaahhhhhhhh


Suara merdu Nick lolos dengan keras saat rudalnya masuk ke dalam goa Vani, darah segar juga keluar, Nick merasakan kenikmatan yang luar biasa sedangkan Vani menarik sprei karena dia merasakan sakit di tengah pangkal pahanya.


"Sakit?" tanya Nick


Vani hanya sanggup menganggukkan kepala,


"Aku akan bermain pelan sayang," bisiknya.


Dengan pelan Nick memompa rudalnya, dia tidak ingin istrinya mengalami kesakitan, lambat laun pelumas sudah membanjiri area gelud mereka dan sedikit mengurangi rasa sakit.


Setalah Vani agak relax, Nick mulai menambah kecepatan laju rudalnya, hanya tiga puluh menit bermain Kini Nick dan Vani telah mendapatkan pelepasan mereka.


"Akhirnya sekian lama, dia mengeluarkan cairannya tanpa solo karir," kata Nick dengan nafas tersengal


Vani tersenyum karena dia bisa memuaskan suaminya tersebut.


Setelah beberapa menit istirahat kini mereka berdua ingin melakukan ronde kedua.


Nick memulai foreplay, dia membuat Vani menjerit dan men de sah, semakin Vani menjerit semakin Nick ingin segera memasukkan rudalnya kembali.


Ritual belah duren mereka terjadi berulang-ulang hingga, tak terasa waktu menunjukkan pukul satu dini hari yang artinya mereka bermain kurang lebih selama empat jam.


"Mas setelah ini udah ya, kamu perkasa sekali sih kok nggak keok keok," kata Vani


"Malam pertama sayang, jadi dipuas-puasin," sahut Nick dengan terus memompa Vani.


"Tapi capek mas," timpal Vani


"Kalau kamu mau tidur ya tidur saja, biar aku main sendiri," ujar Nick dengan terkekeh.