
"Kamu pikir istrimu sabun colek hingga aku mencoleknya, ada-ada aja kamu," sahut Brian dengan menggelengkan kepala.
Memang kalau orang sudah tekena virus cinta otaknya akan geser bahkan saudara sendiri dicurigai.
Brian kembali fokus dengan pekerjaannya sedangkan Nick mengajak Vani untuk duduk di sofa.
"Sayang duduk dulu ya, kamu pasti capek nunggu aku," kata Nick
"Bagaimana dengan buah yang aku pesan mas?" tanya Vani
"Besok mungkin sampai, sabar ya?" jawab Nick
Dia mengelus perut Vani bahkan tak segan Nick menciumi perut istrinya tersebut.
Brian yang sedang mengerjakan pekerjaannya harus terganggu dengan adegan-adegan orang yang menurutnya lebay.
"Astaga Nick, Vani bagaimana aku bisa kerja jika kalian mengganggguku dengan sikap lebay kalian," kata Brian
"Astaga kak Brian, anggap saja kami cicak yang sedang pacaran," sahut Nick lalu tak memperdulikan kakaknya.
Brian yang kesal membawa berkas dan laptopnya pindah, kali ini dia ingin pindah ke ruangan Sean. Dia akan nebeng mengerjakan tugasnya di sana.
Brian mengetuk pintu ruangan Sean, setelah sang pemilik ruangan memberi ijin untuk masuk diapun membuka pintu dan masuk.
Nick menjelaskan maksud dan tujuannya dia datang ke ruangan Sean yaitu untuk nebeng mengerjakan pekerjaannya.
Sean tentu memberi ijin pada Brian, karena memang Brian tidak mempunyai ruangan pribadi mengingat dia hanya assiten sementara dia kantor Sean.
Beberapa waktu kemudian nampak Sean menerima telpon dari Arini.
Sean berbicara sangat mesra bahkan tak segan dia melakukan dialog yang sedikit fulgar dengan istrinya dia melupakan Brian yang ada disitu.
Brian nampak frustasi dengan situasinya, dia pindah ke ruangan Sean supaya fokus namun yang punya ruangan juga asik bermesraan dengan istrinya lewat video call.
"Ingin sekali aku membuang laptop ini dan pulang, gak Nick gak Sean sama saja," batin Brian.
Kini dia berfikir harus kemana lagi supaya fokus mengerjakan pekerjaannya, akhirnya dia memutuskan untuk keluar ruangan Sean dan pergi rooftop untuk mengerjakan laporan-laporan yang harus dia setorkan.
**********
Keesokan harinya seperti biasa Putri berangkat dengan diantar Daffa, Lucas dan kawan-kawannya yang kesal berniat untuk mengerjai Putri.
Saat Putri hendak masuk dalam kelas, Lucas menemuinya.
"Lebih baik kamu pulang sebelum kamu menangis," kata Lucas memperingatkan Putri
"Memangnya kenapa aku harus menangis," sahut Putri
"Aku adalah anak pemilik kampus ini, aku bisa melakukan apapun yang aku mau, termasuk membuat kamu menangis," timpal Lucas
Putri tertawa keras sehingga membuat Lucas semakin kesal.
Dia menatap Putri dengan kesal, hanya Putri yang berani menentangnya bahkan kemarin mempermalukannya dengan menyiram air mineral di kepalanya.
"Memangnya aku takut, sekalipun kamu anak presiden aku tidak akan takut padamu," ucap Putri lalu meninggalkan Lucas yang berdiri mematung menatap punggung Putri.
Dia mengajak teman-temanya untuk mengerjai Putri, semua mengamati gerak gerak Putri.
Tepat dia tempat duduk Putri mereka memberi lem sehingga Putri yang nggak tau langsung saja menduduki tempat duduknya dan saat akan berangkat celananya lengket dengan kursi.
Putri yang kesal berteriak, "Perbuatan siapa ini?" teriak Putri
Semua teman-temannya hanya tertawa dan tak ada yang menolong termasuk Mega, memang sebelumnya Lucas memperingatkan mereka semua kalau dilarang menolong Putri.
Lucas dengan gaya cool nya mendekati Putri yang penuh amarah.
"Mangkanya jangan melawanku, kalau kamu ingin selamat," bisik Lucas dengan tersenyum sinis.
"Hahaha kamu pikir aku takut dengan kamu, gara-gara ini," sahut Putri.
Tak selang lama, dosen datang. Putri yang kesal mencoba mengadukan kelakuan Lucas dan dosen pun memanggil Lucas.
Setelah lepas dari kursi Putri pergi ke toilet tiba-tiba, ada seseorang yang menguncinya dari luar sehingga membuat Putri menggedor-gedor pintu.
"Brengsek kalian! buka! woy," teriak Putri
Lucas dan teman temanya nampak tertawa puas karena mereka bisa membuat Putri terkurung di kamar mandi dengan waktu yang lumayan lama.
Putri mencoba menghubungi Daffa namun ponselnya tak ada di dalam tas nya dan Putri baru ingat kalau tadi dia meletakkan ponselnya di atas dasboard mobil suaminya.
Putri mencoba menggedor pintu lagi namun tidak ada jawaban dari luar.
Saat jam keluar Lucas sendiri yang membuka pintu toilet.
Saat pintu dibuka, Putri langsung keluar dan hal yang dia lakukan adalah menampar Lucas sekeras-kerasnya.
"Berani kamu!" seru Lucas
"Memangnya siapa kamu hingga aku takut, Tuhan! Kita sama-sama makan nasi kenapa aku harus takut, kalau kamu makan sajen baru aku takut," maki Putri
"Hanya kamu yang berani melawanku," sahut Lucas
"Hah! kenapa? karena kamu anak rektor?" timpal Putri.
"Aku bisa membuatmu di DO dari kampus ini," ucap Lucas.
Putri tertawa keras, bagaimana bisa dia menDO putri la Rektor yang tak lain ayah Lucas adalah bawahan Daffa.
Karena takut Daffa menunggu lama, Putri langsung saja pergi meninggalkan Lucas yang masih berdiri kesal di dalam toilet.
Putri bergegas keluar, dia sudah melihat Daffa berdiri di samping mobilnya dengan menyandarkan dirinya di body samping mobil dengan menyilangkan tangan di dada.
Dika dan Andy yang mengamati Putri tersenyum sinis pasalnya Putri nampak memeluk Daffa dengan erat.
"Kekasih Putri kelihatannya bukan orang biasa," kata Dika
"Iya lebih baik kita memperingatkan Lucas, bagaimana kalau dia adalah Mafia atau gengster bisa habis kita," sahut Andy
Meraka berdua nampak merinding.
"Kamu tumben lama keluarnya?" tanya Daffa
"Iya mas tadi ada tugas tambahan dari dosen," jawab Putri berbohong.
Dia tidak ingin bilang pada Daffa atas apa yang dilakukan teman-temannya. Dia masih belum siap jika teman Meraka tau siapa Daffa.
Karena sudah tidak ada yang dikerjakan Datang mengajak Putri jalan-jalan.
Karena sudah lama dia dan istrinya tidak jalan-jalan.
Di kampus Lucas dan teman-temanya nampak membicarakan hal yang serius.
"Lebih baik hentikan balas dendam kamu bro, aku takut kalau kekasih si Putri adalah Mafia atau seorang gangster," kata Dika
"Betul tu bro," sahut Andy.
"Aku punya rencana lain," sahut Lucas dengan tersenyum sinis.
Keesokan harinya, Lucas bersikap manis pada Putri tentu hal ini membuat Putri curiga, kemarin dia dikerjai tiba-tiba sekarang dia bersikap lembut.
"Kamu kesambet dimana?" tanya Putri heran
"Kenapa? aku hanya ingin minta maaf padamu," jawab Lucas
"Maafkan aku ya," pinta Lucas lalu menyodorkan tangannya.
"Baik," sahut Putri namun dia tidak membalas uluran tangan Lucas.
Rencana Lucas kali ini adalah membuat Putri jatuh cinta padanya, setelah Putri jatuh cinta padanya dia akan mencampakkannya.
Tentu hal ini tidak akan terjadi mengingat Putri telah menikah dengan Daffa.
Hingga suatu ketika papa Lucas meminta Lucas untuk mengantar laporan pada Daffa di rumahnya.
Lucas yang baru keluar dari mobil harus kaget karena Putri yang menyambut Lucas.
"Kamu?"